JAKARTA — Sebuah startup antariksa asal Amerika Serikat, Fermi Explorer, baru-baru ini mencuri perhatian publik dengan mengumumkan rencana misi antarbintang yang sangat ambisius. Perusahaan tersebut berniat mengirimkan wahana eksplorasi menuju Alpha Centauri—sistem bintang terdekat dari tata surya kita—dengan alokasi anggaran yang relatif terjangkau untuk skala industri antariksa, yakni sebesar US$15 juta atau sekitar Rp265 miliar.
Alpha Centauri terletak berjarak sekitar 4,4 tahun cahaya atau setara dengan 40 triliun kilometer dari Bumi. Peluncuran misi luar biasa ini ditargetkan mulai direalisasikan pada tahun 2029 mendatang. Langkah yang diambil Fermi Explorer terbilang nekat sekaligus mendobrak tradisi, mengingat ekspedisi antarbintang biasanya membutuhkan teknologi bernilai miliaran dolar dan didominasi oleh lembaga antariksa raksasa milik pemerintah maupun perusahaan besar.
Untuk menekan biaya produksi dan operasional tanpa mengesampingkan keandalan teknologi, Fermi Explorer berencana memanfaatkan sistem pendorong bertenaga surya (solar-powered propulsion) yang sudah teruji. Sistem ini akan secara bertahap meningkatkan kecepatan wahana luar angkasa saat meluncur melintasi kehampaan antariksa.
Menariknya, pendiri dan tim pengembang di Fermi Explorer sangat menyadari keterbatasan teknologi saat ini. Mereka paham betul bahwa wahana tersebut tidak akan mampu tiba di tujuan dalam rentang masa hidup para pembuatnya. Meski begitu, pihak perusahaan optimistis bahwa proyek ini memiliki nilai historis dan ilmiah yang sangat berharga bagi masa depan peradaban manusia.
"Kami berharap menjadi yang pertama berangkat dan yang terakhir sampai di Alpha Centauri," ungkap Perwakilan Fermi Explorer, Jameson, dalam keterangannya. "Kita dapat merangkul keterbatasan, membangun apa yang mungkin dilakukan sekarang, dan memberikan sesuatu yang bermakna bagi generasi berikutnya untuk dikembangkan."
Misi ini dipandang bukan sekadar percobaan teknis belaka, melainkan sebuah pertaruhan ilmiah untuk menguji sejauh mana batas kemampuan manusia dalam meluncurkan wahana antarbintang. Jika peluncuran pada 2029 berhasil dilaksanakan, Fermi Explorer tidak hanya memelopori era baru eksplorasi antariksa berbiaya hemat, tetapi juga meletakkan batu pertama bagi perjalanan antar-sistem bintang yang kelak akan diteruskan oleh generasi mendatang.
Sumber: CNN Indonesia
