Adegan Seram Film Horor Misteri "Bisikan Desa Gringsing" Sudah Tampil: Tayang Perdana 24 September
Dua penyanyi papan atas Indonesia, Agnez Mo dan Anggun C. Sasmi, kembali mencuri perhatian publik setelah foto-foto penampilannya dalam proyek serial Reacher Season 4 resmi dirilis. Kemunculan kedua diva legendaris ini mempertegas keterlibatan mereka sebagai bintang baru sekaligus pengisi soundtrack utama untuk serial aksi Hollywood tersebut.
Dalam foto-foto yang beredar, Agnez Mo tampil standout dan edgy dengan gaya busana serba hitam khasnya yang dipadukan dengan aksesori bernuansa etnik Nusantara. Sementara itu, Anggun C. Sasmi memancarkan pesona anggun nan karismatik dalam balutan gaun beraksen kain tradisional Indonesia yang dirancang secara modern. Perpaduan visual keduanya sukses menuai banyak pujian dari warganet.
Keterlibatan Agnez Mo dan Anggun dalam proyek ini tidak hanya sebatas pengisi lagu latar (soundtrack), melainkan juga menampilkan aksi kolaborasi visual yang kuat untuk memperkuat atmosfer dalam serial populer garapan Amazon Prime Video tersebut. Langkah ini menjadi momentum langka yang mempertemukan dua nama besar industri musik Tanah Air di satu panggung internasional.
Antusiasme penggemar pun meramaikan berbagai platform media sosial setelah rilisnya potret-potret tersebut. Kehadiran Agnez Mo dan Anggun C. Sasmi di Reacher Season 4 dinilai menjadi langkah besar bagi representasi talenta Indonesia di kancah hiburan global.
Sumber: CNN Indonesia
Jakarta, CNN Indonesia -- Maroon 5 mengumumkan kembali konser tunggal di Jakarta pada 5 Februari 2027. Konser Maroon 5 di Jakarta ini akan dihelat di Jakarta International Stadium (JIS). Konser di Asia ini menjadi bagian dari tur keliling dunia Maroon 5 yang sudah dihelat sejak 2026, dan setelah merilis album teranyar mereka yang bertajuk Love Is Like pada Agustus 2025. Dalam unggahan di media sosial pada Selasa (4/8) dan di situs resmi band tersebut, Jakarta akan didatangi setelah Adam Levine cs memulai tur Asia terbaru mereka ini di Kaohsiung, Taiwan, pada 24 Januari 2027. Setelah Taiwan, mereka akan ke Seoul pada 27 Januari, dan ke Tokyo selama tiga malam pada 30-31 Januari dan 2 Februari, sebelum akhirnya mampir ke Jakarta. Maroon 5 kemudian akan terbang ke Bangkok, Thailand, untuk menggelar konser pada 9 Februari, baru kemudian ke Singapura untuk konser pada 12 Februari 2027. Hingga berita ini ditulis, belum ada promotor lokal yang mengumumkan informasi detail konser Maroon 5 di Jakarta seperti harga dan kategori tiket konser tersebut. Konser Maroon 5 di JIS pada Februari 2027 tersebut adalah kedatangan Adam Levine kelima kalinya ke Indonesia setelah 2011, 2012, 2015, dan 2025. Pada 2015, Maroon 5 mengadakan konser di ICE BSD City pada 23 September 2015. Konser itu bertajuk Maroon V Tour Indonesia, tur promosi album mereka bertajuk V (2014). Kemudian pada 2025, mereka konser di JIS dalam rangka tur Maroon 5 in Asia. Maroon 5 baru merilis album kedelapan mereka, Love Is Like, pada Agustus 2025. Album itu jadi kelanjutan dari album Jordi yang dirilis pada 2021. Album yang terinspirasi dari proses karya kreatif mereka sebelumnya ini ditulis dan direkam selama masa residensi Maroon 5 di Las Vegas (2023-2024) dan hingga awal 2025. Karena produksinya yang berbasis sampel, album ini diberi label sebagai album pop, R&B, dan hip-hop dengan pengaruh yang menonjol dari soul, funk, dan new wave. Maroon 5 juga sempat menggelar tur bertajuk Love Is Like Tour untuk mendukung album tersebut. Tur itu keliling Amerika Utara dan Eropa mulai dari Oktober 2025 hingga 2026.
Film Spider-Man: Brand New Day berhasil mencetak sejarah box office dengan meraup pendapatan sebesar US$168 juta pada hari pembukaannya di Amerika Utara. Capaian angka luar biasa tersebut resmi memecahkan rekor hari pembukaan domestik terbesar sepanjang masa yang sebelumnya dipegang oleh *Avengers: Endgame* sejak tahun 2019. Hingga akhir pekan pertamanya, film ini sukses mengumpulkan total perolehan US$335 juta. Angka ini menempatkannya di posisi kedua untuk rekor pembukaan akhir pekan terbesar sepanjang sejarah, tepat di bawah Endgame, serta membuka peluang besar untuk terus mendominasi bioskop global di minggu-minggu berikutnya.
Dari segi narasi, film solo keempat arahan sutradara Destin Daniel Cretton ini mengambil latar waktu empat tahun setelah peristiwa Spider-Man: No Way Home. Ceritanya berfokus pada kehidupan Peter Parker (Tom Holland) yang harus menjalani hari-harinya secara mandiri dan penuh kesepian setelah ingatan dunia tentang identitasnya dihapus. Sembari berusaha bangkit dan mendedikasikan hidupnya sebagai pahlawan jalanan untuk menjaga keamanan New York, Peter mendadak dihadapkan pada ancaman teror misterius yang belum pernah ia temui sebelumnya.
Selain Tom Holland yang kembali memerankan sang pahlawan bertopeng, film ini juga kembali menghadirkan Zendaya sebagai MJ dan Jacob Batalon sebagai Ned Leeds. Deretan pemeran utama tersebut dipadukan dengan kehadiran jajaran pemain baru, seperti Sadie Sink, Tramell Tillman, hingga Liza Colón-Zayas, yang memberi warna dan dinamika anyar bagi kelanjutan kisah sang pahlawan laba-laba.
Sumber: CNN Indonesia
Jakarta, Tom Holland membagikan pengalaman tak biasa saat menjalani promosi film. Ia mengungkapkan bahwa ada kalanya ia harus mempromosikan sebuah proyek yang sebenarnya tidak terlalu ia sukai.
Menurutnya, tidak semua film yang pernah ia bintangi merupakan film yang bagus. Ia bahkan mengaku pernah berpikir penonton tidak perlu menonton film tersebut.
Hal tersebut disampaikan Tom Holland saat menjadi bintang tamu dalam episode Dish Podcast yang tayang pada 22 Juli. Dalam episode itu, Tom Holland mengaku menikmati rangkaian promosi untuk dua film terbarunya, The Odyssey dan Spider-Man: Brand New Day, karena ia benar-benar menyukai keduanya.
"Saya benar-benar menikmatinya. Ketika menjalani promosi untuk film yang benar-benar kamu banggakan, semuanya terasa sangat mudah," ujar Tom Holland seperti diberitakan Variety pada Minggu (26/7).
Advertisement
"Karena ketika orang bertanya mengapa mereka harus menonton film itu, kamu tidak sedang membohongi siapa pun. Kamu memang benar-benar merasa mereka harus menontonnya," lanjutnya.
"Tapi saya pernah mengalami situasi ketika orang bertanya, 'Kenapa kami harus menonton film ini?' dan di dalam hati saya berpikir, 'Sebenarnya tidak usah, karena film ini jelek,'" kata Holland.
Menurut Holland, kualitas film yang dipromosikannya kali ini membuat seluruh proses terasa jauh lebih menyenangkan, terlebih karena musim panas ini ia memiliki dua film blockbuster yang dirilis hampir bersamaan.
"Sejujurnya, rasanya seperti sedang menikmati putaran kemenangan. Saya benar-benar menikmatinya. Saya sangat bangga dengan kedua film ini," kata Holland.
Dalam wawancara yang sama, Holland juga mengungkapkan bahwa ia banyak belajar tentang cara menghadapi promosi film dari lawan mainnya di The Odyssey, Anne Hathaway.
Dalam The Odyssey, Tom Holland berperan sebagai Telemachus, putra dari Odysseus (Matt Damon) dan Penelope (Anne Hathaway). Ia dikisahkan sebagai pangeran Ithaca yang bertekad untuk mencari dan menemukan ayahnya.
"Saya berkesempatan duduk bersama Anne Hathaway selama tiga hari terakhir untuk menjalani berbagai sesi promosi. Bagi saya, itu menjadi pengalaman belajar yang luar biasa. Dia benar-benar sangat profesional," ujar Holland.
Sementara itu, Spider-Man: Brand New Day akan mengambil latar empat tahun telah berlalu sejak peristiwa besar di Spider-Man: No Way Home (2021).
Film keempat ini akan menceritakan Peter Parker (Tom Holland) menjadi seorang dewasa yang hidup sepenuhnya sendirian. Situasi itu terjadi setelah ia secara sukarela menghapus dirinya dari kehidupan dan ingatan orang-orang yang dicintainya.
Spider-Man: Brand New Day akan tayang di bioskop Indonesia pada 29 Juli 2026.
Sumber: CNN Indonesia
Jakarta, 17/6 - Bagi pencinta film laga, "The Furious" bisa dibilang menjadi salah satu tontonan yang wajib masuk daftar tahun ini.
Film Hong Kong garapan sutradara laga kenamaan Kenji Tanigaki yang mendapat rating nyaris 100 persen di Rotten Tomatoes ini berhasil menghadirkan paket hiburan lengkap: aksi yang intens, koreografi pertarungan yang memukau, cerita yang menegangkan, hingga selipan humor yang membuat suasana tidak terasa terlalu gelap.
Sejak menit-menit awal, film yang mulai tayang di bioskop pada 17 Juni 2026 ini langsung mengait perhatian penonton. Kisahnya berpusat pada upaya membongkar sindikat perdagangan manusia yang beroperasi secara brutal dan terorganisir.
Dalam perjuangan tersebut, penonton diajak mengikuti perjalanan Wang Wei (Xie Miao), seorang ayah tuna wicara yang mencari putrinya yang diculik, dan Navin (Joe Taslim), seorang jurnalis investigasi yang kehilangan istrinya, yang juga seorang jurnalis, secara misterius saat menangani kasus perdagangan manusia oleh sindikat yang sama.
Keduanya kemudian bekerja sama untuk mengungkap jaringan kriminal yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Salah satu kekuatan terbesar "The Furious" tentu saja terletak pada adegan aksinya. Koreografi pertarungan disusun dengan sangat detail, intens, dan penuh kreativitas.
Banyak adegan laga ditampilkan dalam pengambilan gambar panjang sehingga penonton dapat menikmati setiap gerakan tanpa terlalu banyak potongan kamera. Hasilnya, setiap pukulan, tendangan, dan bantingan terasa lebih nyata dan menegangkan.
Aktor laga Indonesia, Joe Taslim, yang juga sebagai salah satu pemeran kunci dalam film tersebut mengatakan pada konferensi pers di Jakarta, Jumat (5/6), bahwa "The Furious" memiliki koreografi pertarungan yang paling kompleks dan rumit yang pernah ia jalani.
"Yang membedakan film ini dari film laga lainnya adalah koreografinya yang sangat brilian dan baru buat saya," kata dia.
Tak hanya koreografinya yang "baru", film ini semakin menarik berkat keberhasilan sutradara mengumpulkan para aktor dengan latar belakang seni bela diri yang berbeda-beda.
Joe Taslim misalnya, dikenal memiliki dasar judo dan telah lama menunjukkan kemampuannya dalam berbagai film aksi internasional. Ada pula Yayan Ruhian yang identik dengan pencak silat Indonesia, dan tampil lebih agresif dengan banyak menggunakan panah.
Selain itu, JeeJa Yanin yang terkenal dengan kemampuan Muay Thai dari Thailand, Brian Le dengan aliran Extreme Martial Arts (XMA), serta Joey Iwanaga yang membawa gaya bertarung khasnya yang indah, yakni bela diri yang mengandalkan teknik tendangan akrobatik dan kecepatan (kicking machine).
Perpaduan berbagai disiplin bela diri dari para aktor dan aktris lintas Asia ini menciptakan pertarungan yang terasa segar dan tidak monoton. Setiap karakter memiliki ciri khas gerakan yang berbeda, sehingga setiap duel menghadirkan pengalaman tersendiri bagi penonton.
Menariknya, meski dipenuhi adegan pertarungan brutal, film ini tidak melulu serius. Beberapa momen ringan dan lucu disisipkan secara pas sehingga mampu mencairkan tensi ketegangan.
Humor tersebut hadir secara natural tanpa mengurangi intensitas cerita maupun ancaman yang dihadapi para tokohnya. Justru keseimbangan inilah yang membuat "The Furious" terasa sangat menghibur dari awal hingga akhir.
Dari sisi alur cerita, film ini juga berhasil menjaga ritme dengan baik. Setiap kali penonton merasa letih dengan adegan pertarungan, selalu ada perkembangan baru yang membuat rasa penasaran kembali muncul.
Unsur investigasi seorang jurnalis yang menyamar dan berhadapan langsung dengan "mafia" sindikat perdagangan manusia menjadi fondasi yang kuat untuk menjaga ketegangan dan rasa penasaran. Hook demi hook terus bermunculan hingga klimaks, membuat film tidak membosankan.
Pada akhirnya, "The Furious" adalah contoh bagaimana film aksi tidak hanya mengandalkan ledakan dan perkelahian, tetapi juga mampu menghadirkan cerita yang menarik serta karakter yang membuat penonton peduli.
Dengan jajaran bintang bela diri Asia yang impresif, koreografi laga kelas atas, dan kisah investigasi kriminal yang seru, film ini menjadi tontonan yang sangat memuaskan bagi penggemar genre aksi, terutama bagi pencinta film-film seperti "The Raid" atau "John Wick", maka "The Furious" adalah pengalaman yang sayang untuk dilewatkan.
Reuni panas Joe Taslim dan Yayan Ruhian setelah "The Raid"
Salah satu daya tarik terbesar "The Furious" bagi penonton Indonesia adalah hadirnya kembali Joe Taslim dan Yayan Ruhian dalam satu layar.
Bagi penggemar film laga, pertemuan ini tentu menghadirkan nostalgia tersendiri. Keduanya pernah sama-sama mencuri perhatian dan mendapat apresiasi dunia melalui film "The Raid" pada 2011 silam yang menjadi tonggak penting kebangkitan film aksi Indonesia di kancah internasional.
Meski dalam "The Furious" mereka hadir dengan karakter dan latar cerita yang berbeda, kehadiran Joe dan Yayan tetap menjadi magnet utama.
Joe Taslim tampil sebagai Navin, seorang jurnalis investigasi yang berusaha mengungkap sindikat perdagangan manusia, sementara Yayan Ruhian memerankan sosok yang memiliki peran penting dalam pusaran konflik yang dihadapi para tokoh utama.
Pertemuan dua aktor laga Indonesia ini menghadirkan dinamika yang menarik sekaligus menjadi salah satu momen yang paling dinantikan penonton. Kali ini mereka berduel beradu aksi dalam kubu yang berseberangan, menambah keseruan menonton utamanya pada akhir-akhir cerita.
Pendekatan berbeda dari karakter Navin
Salah satu hal yang membuat Joe Taslim tertarik bergabung dalam "The Furious" adalah pendekatan berbeda yang ditawarkan oleh karakter Navin dibandingkan peran-peran aksinya sebelumnya.
Jika selama ini Joe sering memerankan tokoh yang digambarkan sangat dominan dalam pertarungan, bahkan cenderung “tak tersentuh” seperti dalam "The Night Comes for Us" atau "Mortal Kombat", maka Navin justru hadir sebagai sosok yang lebih realistis dan manusiawi.
Joe mengatakan, Navin digambarkan bukan sebagai petarung super bak "dewa", melainkan seorang jurnalis investigasi dengan latar belakang bela diri judo yang ia pelajari di masa muda.
"Selama ini aku main film karakternya cukup over the top ya, di film 'The Night Comes for Us' aku jago banget mau 100 orang pun dibantai sama dia, Ninjutsu di 'Mortal Kombat' pun dia sangat, sangat jago. Jadi karakter yang over the top yang cukup bisa diprediksi dia bisa menang," kata Joe.
Kemampuan itu tidak membuatnya menjadi sosok yang tak terkalahkan, tetapi lebih sebagai alat bertahan hidup dalam situasi berbahaya. Dalam setiap konflik, ia harus berjuang, terluka, jatuh bangun, dan terus bertahan hingga akhir.
Joe Taslim menekankan bahwa justru di situlah daya tarik karakter ini. Navin juga memiliki sisi rapuh secara emosional.
Menariknya lagi, Navin juga ditulis sebagai karakter yang memiliki sisi kemanusiaan yang kuat. Ia tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga memiliki tujuan yang lebih besar, yaitu menyelamatkan anak-anak yang menjadi korban.
Hal ini membuat setiap aksinya terasa lebih bermakna, bukan sekadar rangkaian adegan laga, tetapi juga perjalanan emosional seorang manusia yang berusaha bertahan di tengah situasi ekstrem.
“Aku merasa ini sesuatu yang baru saat memerankan karakter dia, seorang suami mencari istrinya yang hilang, dia bisa membela diri, tapi kita lihat dalam pertempuran dia adalah 'survivor', dan itu mengapa aku jatuh cinta sama karakter ini,
Jakarta sudah bertahun-tahun menjadi pusat akulturasi dan asimilasi berbagai macam budaya yang ada. Tak jarang orang dari berbagai daerah datang atau bahkan menetap di pusat kota metropolitan ini. Karena latar belakang yang bervariasi ini, kuliner Jakarta jadi sangat beragam dan digemari. Tak jarang, tren kuliner yang berkembang juga diawali dari kota ini. Mulai dari kuliner asli nusantara hingga kuliner peranakan.
Bagi warga Batam yang ingin merasakan sensasi kuliner viral dan peranakan, tak perlu jauh-jauh ke Jakarta. Karena mulai 19 April hingga 3 bulan kedepan, Hotel Santika Batam menghadirkan buffet all-you-can-eat bertema “Jakarta Feast” dan ”Kuliner Peranakan”. Makanan prasmanan ini bisa dinikmati sepuasnya di Gurindam Restaurant Hotel Santika Batam dengan harga mulai dari 99.000 nett per orang. Beragam kuliner seperti Gultik, Nasi Ulam Betawi, Laksa Betawi, Tanghulu, Bluder Siram Susu dan belasan menu viral lain disajikan setiap Jumat pukul 11:30 hingga 14:30 WIB. Sementara setiap Jumat dan Sabtu malam, kuliner peranakan seperti Mie Siam, Ayam Pongteh, Lontong Cap Gomeh, Ikan Kari Kapitan, Onde-onde dan puluhan menu peranakan dapat dinikmati mulai pukul 18:30 hingga 21:00.
Tak hanya menyuguhkan kuliner yang menggugah selera, pengunjung juga akan dimanjakan pemandangan indah dari rooftop restaurant yang terletak di lantai 11 ini. Chef Rahmad selaku Executive Chef Hotel Santika Batam mengatakan bahwa pemilihan konsep prasmanan kuliner viral dan peranakan ini merupakan bukti bahwa kuliner Indonesia sangat beragam dan dipengaruhi oleh banyak budaya lain yang sudah membaur dengan keseharian kita. ”Media sosial punya kekuatan untuk membuat segala sesuatu viral. Maka kita harus mencintai & mempromosikan makanan yang ada di Indonesia agar supaya semakin banyak orang mengetahui kekayaan kuliner kita”, tambahnya.

Profil Hotel Santika Batam
Hotel Santika Batam merupakan Hotel Santika ke 33 dalam kelompok Hotel Santika berbintang 3 dan merupakan property ke 124 yang saat ini dikelola oleh Santika Indonesia Hotels & Resorts. Sampai saat ini property Santika Indonesia Hotels & Resorts telah tersebar di lebih dari 40 kota di Indonesia. Hotel Santika Batam memiliki 136 kamar dengan 3 tipe kamar: Superior, Deluxe dan Suite. Fasilitas lainnya adalah meeting room, rooftop restaurant, gym dan kolam renang. Terletak di Batam Center, Hotel Santika Batam dilengkapi dengan Gurindam Restaurant yang berada di lantai 11 dan menyajikan pemandangan terbaik kota Batam. Sarana umum seperti Hang Nadim International Airport, Batam Center International Ferry Terminal, Rumah Sakit, pusat perbelanjaan dan berbagai pusat bisnis dapat ditempuh hanya dengan 15 menit berkendara dari Hotel Santika Batam. Untuk kemudahan reservasi dengan harga terbaik, download aplikasi MySantika di iOS atau Google Play Store.
