AC Panasonic Premium Inverter HU Series, AC Hemat Listrik, Cepat Dingin & Udara Lebih Bersih
JAKARTA — Panasonic resmi menghadirkan lini AC Premium Inverter HU Series untuk pasar Indonesia. AC terbaru ini dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan pendingin ruangan yang cepat dingin, hemat listrik, dan mampu menjaga kualitas udara di dalam rumah.
Keunggulan Utama:
-
Hemat Listrik & Pintar: Menggunakan teknologi Inverter dan ECO Mode with A.I. yang secara otomatis menyesuaikan konsumsi daya agar tetap efisien.
-
Pendinginan Cepat: Dilengkapi fitur iAUTO-X yang mampu mendinginkan ruangan 25% lebih cepat sejak awal dinyalakan.
-
Udara Bersih (nanoe™ X): Efektif melumpuhkan bakteri, virus, polutan PM2.5, serta bau tak sedap. Fitur pemurni udara ini bahkan bisa menyala meski mode pendingin dimatikan.
-
Kontrol Smartphone: Dapat diatur dan dipantau konsumsi listriknya dari jauh melalui aplikasi Panasonic Comfort Cloud.
-
Tahan Lama & Ramah Lingkungan: Dilapisi anti-korosi Blue Fin serta menggunakan freon R32 yang aman bagi lapisan ozon.
Sumber: Suara.com
Jakarta, Startup kecerdasan artifisial (AI) asal China, DeepSeek, merilis model baru bernama V4-Flash yang diklaim memiliki biaya operasional jauh lebih murah dibandingkan sejumlah model populer lain. Model ini bahkan diklaim 100 kali lebih murah dibandingkan Fable 5 dari Anthropic. Berdasarkan pengujian lembaga riset Artificial Analysis, biaya rata-rata menjalankan V4-Flash hanya sekitar 3 sen AS per pengujian. Angka tersebut lebih dari 100 kali lebih murah dibandingkan Claude Fable 5 milik Anthropic yang membutuhkan biaya rata-rata US$3,15 per pengujian. DeepSeek resmi merilis V4-Flash pada Jumat (31/7) lalu sebagai upaya terbaru perusahaan untuk kembali mencuri perhatian lewat model AI berbiaya sangat rendah. DeepSeek mengenakan tarif US$0,14 per satu juta token masukan dan US$0,28 per satu juta token keluaran. Token merupakan unit data yang digunakan untuk mengukur penggunaan sistem AI. Artificial Analysis menyebut biaya rata-rata Kimi K3 buatan Moonshot AI mencapai 86 sen AS per pengujian. Sementara itu, GPT-5.6 Sol milik OpenAI membutuhkan biaya rata-rata US$1,86 dan Claude Fable 5 mencapai US$3,15. Perbandingan tersebut dinilai lebih realistis daripada sekadar melihat harga per token.
Pasalnya, model dengan harga dasar murah tetap dapat menghabiskan biaya lebih besar apabila membutuhkan lebih banyak tahapan, data masukan, atau keluaran untuk menyelesaikan suatu tugas. Meski sangat murah, kemampuan V4-Flash disebut masih tertinggal dari sejumlah model AI terdepan. Dikutip dari Reuters, Artificial Analysis memberikan skor 50 dari 100 kepada V4-Flash dalam Intelligence Index. Indeks tersebut menggabungkan hasil sembilan pengujian yang mencakup kemampuan pemrograman, penalaran, dan pengerjaan tugas bergaya pekerjaan kantor. Skor V4-Flash setara dengan Gemini 3.6 Flash milik Google. Model tersebut hanya tertinggal satu poin dari Muse Spark 1.1 buatan Meta dan GLM-5.2 milik Z.AI atau Zhipu. Namun, Kimi K3 buatan Moonshot memperoleh skor lebih tinggi, yakni 57. Claude Opus 5, Claude Fable 5, dan GPT-5.6 juga mencatat skor sedikitnya sembilan poin lebih tinggi dibandingkan V4-Flash. Dengan demikian, keunggulan utama model terbaru DeepSeek tersebut terletak pada efisiensi biaya, bukan kemampuan tertinggi. Sebelumnya, DeepSeek sempat menjadi wajah utama perkembangan AI China setelah model R1 menjadi sensasi global pada awal 2025. Kemunculan R1 memicu penurunan saham sejumlah perusahaan teknologi dan menimbulkan pertanyaan mengenai besarnya belanja perusahaan AS untuk membangun infrastruktur AI. Namun, DeepSeek kemudian menghadapi persaingan ketat dari berbagai perusahaan China. Pesaing tersebut mencakup startup Moonshot, MiniMax, dan Z.AI, serta perusahaan teknologi besar seperti ByteDance dan Alibaba. Perusahaan-perusahaan itu bersaing dengan pengembang AI asal AS untuk menarik pengguna global, terutama perusahaan yang mencari cara lebih murah untuk menerapkan AI dalam skala besar. Lebih lanjut, DeepSeek juga tengah menyiapkan model yang lebih kuat bernama V4-Pro. Namun, perusahaan belum mengumumkan waktu peluncuran resmi model tersebut. Di tengah peluncuran V4-Flash, Alibaba turut memperkenalkan Qwen3.8-Max, model AI terbesar dan paling mumpuni yang pernah dikembangkan perusahaan tersebut.
CEO Meta Mark Zuckerberg punya pendapat berbeda dengan Pemerintah Amerika Serikat (AS). Ia menilai bahwa Amerika Serikat (AS) sebaiknya tidak memblokir kecerdasan buatan (AI) asal China demi memenangkan persaingan AI. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara Zuckerberg dengan outlet media Financial Times yang diterbitkan pada Rabu (29/7/2026) waktu AS. Zuckerberg menilai bahwa pelarangan terhadap AI buatan China bukanlah solusi yang efektif dalam menghadapi persaingan yang meningkat. Ia justru menyarankan agar perusahaan-perusahaan teknologi AS mengidentifikasi hambatan dan rintangannya yang menghambat inovasi secara sistematis, guna bersaing dengan China secara lebih baik.
Pernyataan ini muncul ketika AS tengah memperdebatkan kebijakan AI, termasuk bagaimana menghadapi pesatnya perkembangan perusahaan AI asal China. Beberapa pejabat senior di pemerintahan Presiden Donald Trump sebelumnya menuding perusahaan AI China, Moonshot AI, menggunakan model AI buatan perusahaan AS secara diam-diam untuk melatih model terbarunya, Kimi K3. Namun, Moonshot AI membantah tuduhan tersebut. Pekan lalu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga mengatakan pemerintah dapat mempertimbangkan pemberian sanksi kepada laboratorium AI asal China apabila terbukti melakukan pencurian kekayaan intelektual (intellectual property/IP). Pernyataan Zuckerberg juga disampaikan sehari setelah pemerintah AS mengumumkan pelarangan impor robot humanoid dan robot berkaki empat buatan luar negeri, termasuk sebagian besar produk asal China.
Pemerintah AS beralasan perangkat tersebut menimbulkan "risiko yang tidak dapat diterima" terhadap keamanan nasional. Selain robot, larangan juga mencakup power inverter atau konverter daya yang digunakan pada infrastruktur energi terbarukan dan jaringan listrik. Kebijakan tersebut menjadi langkah terbaru Washington untuk memperkuat industri dalam negeri sekaligus mengamankan rantai pasok teknologi strategis di tengah persaingan yang semakin ketat dengan China dalam pengembangan AI dan teknologi canggih lainnya.Pernyataan di atas juga muncul setelah Zuck menerbitkan tulisan opini terkait kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) fase selanjutnya yang disebut "supercerdas" atau superintelligence di The Wall Street Journal (WSJ).
Menurut pendiri Facebook itu, teknologi AI seharusnya dapat diakses oleh semua orang agar mampu mendorong inovasi dan menciptakan peluang baru. Ia menyebut pertanyaan terpenting di era AI bukan lagi apakah superintelligence akan hadir, melainkan siapa yang nantinya memiliki akses terhadap teknologi tersebut. "Apakah superintelligence akan dipusatkan dan dibatasi hanya untuk beberapa institusi, atau menjadi alat yang memberdayakan semua orang?" tulis Zuckerberg.
Sumber: Kompas
Jakarta, 29/7 - Menteri Transmigrasi (Mentrans) Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan di kawasan transmigrasi memerlukan dukungan sumber daya manusia (SDM) unggul serta ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek).
“Tidak ada pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan tanpa hadirnya ilmu pengetahuan dan teknologi di tempat atau di kawasan itu,” kata Iftitah dalam pembekalan Tim Ekspedisi Patriot 2026, di Jakarta, Rabu.
Ia mengatakan pemerintah memfasilitasi kehadiran sumber daya manusia (SDM) unggul di kawasan transmigrasi melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi.
Menurut dia, perguruan tinggi merupakan sumber ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat digunakan untuk membantu menjawab berbagai kebutuhan masyarakat dan mendorong pengembangan kawasan.
“Kami pemerintah hanya memfasilitasi hadirnya SDM unggul di kawasan-kawasan yang betul-betul membutuhkan kehadiran Bapak dan Ibu sekalian,” ujarnya.
Iftitah menegaskan pembekalan tersebut perlu dipandang sebagai langkah awal, bukan kegiatan simbolis yang berhenti setelah acara selesai.
Ia meminta peserta Tim Ekspedisi Patriot bekerja secara total selama empat bulan penugasan dan menghasilkan pekerjaan konkret yang memberikan dampak serta manfaat bagi masyarakat.
“Tolong berikan totalitas, tolong berikan yang terbaik selama empat bulan di sana,” ujarnya pula.
Menurut dia, peserta perlu memiliki tujuan yang jelas serta menggunakan kerangka berpikir yang menghubungkan masukan, proses, keluaran, hasil, dan dampak.
Iftitah juga meminta peserta beradaptasi dengan masyarakat setempat dan menghindari perdebatan yang tidak produktif.
"Pendekatan berbasis ilmu pengetahuan, perlu dibuktikan melalui kerja dan manfaat nyata di lapangan," kata Iftitah.
Tim Ekspedisi Patriot 2026 terdiri atas 1.476 peserta yang terbagi dalam 246 tim dan akan bertugas di 53 kawasan transmigrasi. Kawasan tersebut mencakup 41 kawasan transmigrasi prioritas nasional, dua kawasan prioritas Kementerian Transmigrasi, serta 10 kawasan transmigrasi di Papua.
Sebanyak 246 ketua tim dan 1.230 anggota dinyatakan lolos dari 10.359 pendaftar pada proses rekrutmen tahun ini. Setiap tim terdiri atas satu ketua dan lima anggota yang terdaftar melalui perguruan tinggi mitra penyelenggara.
Program tahun ini merupakan kelanjutan Tim Ekspedisi Patriot 2025. Pelaksanaannya diarahkan untuk menindaklanjuti hasil riset sebelumnya dan merintis produk unggulan di kawasan transmigrasi melalui penerapan ilmu pengetahuan serta inovasi.
Program tersebut merupakan bagian dari Transmigrasi Patriot dalam agenda 5T Kementerian Transmigrasi yang dirancang untuk mempertemukan ilmu pengetahuan dengan persoalan nyata serta menghadirkan generasi muda sebagai agen perubahan di kawasan transmigrasi.
Sumber: Kantor Berita Antara
