Batam — Ada yang berbeda dari biasanya hari ini ,Jumat siang24/10/2025 di halaman Hotel Santika Batam. Tamu undangan dan juga masyarakat umum tampak antusias mengikuti kegiatan “Pekan Rasa Melayu”, yang menjadi puncak perayaan HUT ke-3 Hotel Santika Batam.
Acara ini berhasil mencatatkan prestasi membanggakan dengan pemecahan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori Masak terbanyak Ikan Tongkol Asam Pedas Menggunakan Cabai Kering.
Momentum istimewa ini sekaligus menjadi simbol kolaborasi antara dunia perhotelan, pemerintah daerah, pelaku UMKM, dan lembaga keuangan dalam mengangkat potensi kuliner lokal serta memperkuat ketahanan pangan berbasis kearifan budaya Melayu.
General Manager Hotel Santika Batam, Sukardi, mengungkapkan rasa syukur atas perjalanan tiga tahun Santika beroperasi di Kota Batam. Ia menyebut bahwa setiap perayaan ulang tahun selalu dikemas dengan konsep unik dan penuh makna.
“Tiga tahun perjalanan Santika di Kota Batam selalu kami rayakan dengan cara yang berbeda. Tahun lalu kami membuat bazar UMKM besar dengan 50 tenant. Tahun ini karena sedang ada pembangunan, skalanya lebih kecil, tapi kami tetap ingin menghadirkan kegiatan yang membawa nilai lebih bagi masyarakat,” ujar Sukardi.
Selain menghadirkan bazar UMKM dan kegiatan masak besar, Hotel Santika juga mengadakan jalan santai dan aksi bersih lingkungan. Yang menarik, sampah yang dikumpulkan peserta akan dihitung sebagai poin penukaran layanan medical screening gratis, sebuah inovasi sosial yang mencerminkan kepedulian terhadap kesehatan dan lingkungan. Dengan tujuan menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya kebersihan lingkungan.
Sementara itu, Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad memberikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan kegiatan yang dinilainya kreatif dan strategis.
“Ini bukan sekadar ulang tahun hotel, tapi juga inisiatif luar biasa yang mengangkat budaya dan kuliner khas daerah. Asam pedas adalah masakan khas bumi Melayu yang memiliki filosofi dan cita rasa kuat. Saya sangat mengapresiasi langkah Hotel Santika mengangkatnya dalam skala besar seperti ini,” ujar Amsakar.
Ia menambahkan, kegiatan ini sejalan dengan visi pemerintah dalam memperkuat identitas Batam sebagai kota pariwisata yang kaya nilai budaya dan ekonomi kreatif.
“Event seperti ini akan membumikan kuliner daerah, mendorong kunjungan wisata, dan memperkuat posisi Batam sebagai destinasi wisata kuliner nasional,” tegasnya.
Lebih jauh, Amsakar juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus bersatu mempercepat pembangunan dan memajukan kota Batam.
Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Ardhienus menjelaskan bahwa kegiatan pemecahan rekor MURI ini tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga mengandung pesan ekonomi yang kuat.
Menurutnya, penggunaan cabai kering dalam masakan asam pedas menjadi bentuk inovasi strategis yang mendukung Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).
“Kita tahu bahwa cabai adalah salah satu komoditas yang paling sering memicu inflasi. Ketika pasokan menurun, harga melonjak dan memengaruhi daya beli masyarakat. Dengan mengembangkan cabai kering, kita bisa menjaga pasokan dan harga lebih stabil,” jelasnya.
“Pada triwulan II 2025, ekonomi Kepri tumbuh 7,14 persen, meningkat dari 5,16 persen pada periode sebelumnya, dan menjadi yang tertinggi di Sumatera. Inflasi pun terkendali di angka 2,70 persen secara tahunan,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa momentum Pekan Rasa Melayu menjadi sarana edukasi publik mengenai pentingnya inovasi pangan.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menyampaikan bahwa masakan lezat tidak selalu harus menggunakan cabai segar. Cabai kering pun mampu menghadirkan cita rasa sama nikmatnya, dengan keunggulan stabilitas harga dan daya simpan lebih lama, pemilihan ikan asam pedas mencerminkan potensi laut Kepulauan Riau yang 96 persen wilayahnya adalah lautan” ujarnya.
Pekan Rasa Melayu juga melanjutkan inisiatif kolaboratif yang telah dimulai Bank Indonesia bersama Batam Tourism Polytechnic pada tahun 2024, melalui penerbitan buku “Khasanah Masakan Melayu Menggunakan Cabai Kering”.
Buku tersebut menjadi tonggak upaya memperkenalkan inovasi kuliner lokal yang berkontribusi pada diversifikasi konsumsi pangan dan pengendalian inflasi.
“Melalui acara ini, kami berharap masyarakat semakin memahami bahwa pengendalian inflasi bisa dimulai dari rumah, melalui pola konsumsi yang bijak dan adaptif,” ujar Ardhienus.
Bank Indonesia juga berharap kampanye penggunaan cabai kering dapat meluas ke tingkat nasional, menjadi simbol sinergi antara edukasi, inovasi, dan kearifan lokal dalam menjaga stabilitas pangan Indonesia.
Awalnya, panitia menargetkan untuk menyajikan 1.000 porsi ikan asam pedas. Namun, semangat tim dapur membuat hasilnya melampaui ekspektasi. Setelah dilakukan proses verifikasi oleh pihak MURI, total sajian tercatat sebanyak 1.118 porsi dimana seluruhnya menggunakan cabai kering sebagai bahan utama.
Verifikasi dilakukan secara langsung oleh Andre Purwandono, Senior Customer Relations Manager MURI, yang hadir mewakili lembaganya.
“Kami dari Museum Rekor Dunia Indonesia telah menyaksikan kegiatan yang sangat luar biasa hari ini. Setelah dihitung dan diverifikasi, jumlahnya mencapai 1.118 porsi, melebihi target awal. Rekor ini masuk dalam kategori kegiatan masal yang dapat dihitung dan bersifat superlatif,” ungkap Andre saat menyerahkan piagam penghargaan MURI kepada pihak Hotel Santika Batam .
Andre juga menjelaskan bahwa setiap rekor kuliner yang diajukan harus memenuhi kriteria tertentu, terutama terkait kelayakan konsumsi.
“Salah satu syarat penting dalam rekor kuliner adalah semua makanan yang disajikan wajib bisa dimakan. Tidak boleh ada pemborosan. Jadi seluruh hidangan harus layak konsumsi, baik dari segi rasa maupun kebersihan,” tegasnya.
Dalam acara tersebut, para tamu undangan termasuk rekan media, pejabat daerah, dan tamu hotel turut berkesempatan mencicipi langsung hidangan hasil pemecahan rekor tersebut.
