Print this page
BI Tahan Suku Bunga 5,75%, Bentengi Rupiah dari Gejolak Perang Timur Tengah
Thursday, 20 August 2026 13:01

BI Tahan Suku Bunga 5,75%, Bentengi Rupiah dari Gejolak Perang Timur Tengah

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18–19 Agustus 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility 4,75%, dan suku bunga Lending Facility 6,50%. Keputusan ini diambil guna memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dari tingginya gejolak global akibat konflik di Timur Tengah, menjaga sasaran inflasi 2026–2027 di level 2,5±1%, serta mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Langkah ini dipadu dengan penguatan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran, termasuk perluasan insentif swap lindung nilai hingga 12,5%, optimalisasi strategi operasi moneter, serta koordinasi erat bersama Pemerintah dan KSSK.

Kondisi perekonomian global masih diliputi ketidakpastian tinggi dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia yang belum kuat (3,0%) dan inflasi global yang tinggi (4,5%), memicu pengetatan kebijakan moneter global seperti perkiraan kenaikan Fed Funds Rate (FFR). Di tengah tekanan eksternal tersebut, perekonomian Indonesia tetap tumbuh solid sebesar 5,29% (yoy) pada triwulan II 2026, ditopang oleh stimulus fiskal pemerintah seperti belanja pegawai dan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026 berada dalam kisaran 4,9–5,7%, didukung oleh ketahanan eksternal yang terjaga melalui surplus neraca perdagangan dan posisi cadangan devisa sebesar 145,3 miliar dolar AS per akhir Juli 2026.

Sektor keuangan dan moneter dalam negeri menunjukkan kinerja positif. Nilai tukar Rupiah menguat ke posisi Rp17.855 per dolar AS pada 18 Agustus 2026 berkat strategi intervensi dan skema insentif BI. Inflasi IHK Juli 2026 melambat ke angka 2,88% (yoy), didukung oleh terkendalinya inflasi inti dan panen komoditas pangan. Di sisi perbankan, penyaluran kredit tumbuh signifikan sebesar 13,58% (yoy) pada Juli 2026 yang didorong oleh Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), sejalan dengan kondisi perbankan yang tetap kuat dengan rasio permodalan (CAR) 23,70% dan NPL bruto yang rendah di level 2,09%.

Digitalisasi ekonomi dan sistem pembayaran terus mengalami akselerasi. Volume transaksi pembayaran digital tumbuh 28,69% (yoy) pada Juli 2026, ditopang pesatnya lonjakan transaksi QRIS yang mencapai 82,42% (yoy) serta BI-FAST yang tumbuh 31,62% (yoy). Untuk memperkuat ekosistem pembayaran digital dan keandalan infrastruktur, Bank Indonesia meluncurkan Kartu Kredit Indonesia (KKI) pada 17 Agustus 2026, bersiap memperluas kebijakan MDR QRIS 0% untuk transaksi di bawah Rp100.000 per 1 Oktober 2026, serta menyelenggarakan FEKDI dan IFSE 2026 pada akhir September.

Read 30 times