Print this page
Monday, 02 November 2026 09:54

Belajar dari Kasus Madiun: Mengapa Orang 'Pintar' Seperti Dwi Bagus Bisa Berbuat Sadis?

Written by 
Rate this item
(0 votes)

Kasus pembunuhan Dini Hardiyanti (30) dan anaknya yang masih berusia empat tahun di Madiun, Jawa Timur, memicu banyak tanda tanya di masyarakat. Publik semakin kaget saat polisi mengungkap latar belakang pelakunya, Dwi Bagus Martono (40).

Dwi Bagus bukan orang sembarangan. Ia lulusan sarjana, bekerja mapan sebagai tenaga ahli pengeboran minyak lepas pantai, dan memiliki skor IQ di atas rata-rata alias pintar. Profilnya sekilas jauh dari stereotip kriminal jalanan.

Namun, kapasitas intelektual mentereng itu hancur lebur saat dihadapkan pada realitas perbuatannya: mencekik korban, menghabisi sang balita demi menutup saksi, lalu mencoba melenyapkan jejak dengan membakar dan menggiling jasad korban menggunakan mesin penggiling daging.

Kenyataan ini membuat publik bertanya-tanya: bukankah orang pintar harusnya bisa berpikir lebih jernih dan bisa menahan amarah? Mengapa orang berpendidikan tinggi masih bisa berbuat sekejam itu?

Psikolog klinis Personal Growth, Ni Made Diah Ayu Anggreni, menegaskan bahwa tingkat kepintaran seseorang tidak otomatis menentukan apakah ia akan berbuat jahat atau tidak. Sementara psikolog forensik Reza Indragiri mengingatkan bahwa di mata hukum, pelaku dinilai dari perbuatannya, bukan dari seberapa pintar otaknya.

 

Sumber: Suara.com

Read 61 times
super me

Latest from super me