BATAM — Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto Purubaskoro mengatakan perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menunjukkan kinerja yang semakin solid hingga Semester I 2026. “Pertumbuhan ekonomi daerah mencapai 7,02 persen, jauh di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,45 persen,’ujarnya dalam Bicang Bareng Media di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau pada Selasa (15/9/2026.
Dengan capaian tersebut, Kepri mempertahankan posisi sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sumatera selama enam triwulan berturut-turut. Kinerja positif tersebut tidak terlepas dari menguatnya pembentukan modal atau investasi. Pada periode yang sama, investasi di Kepri tumbuh sekitar 24 persen.
Lonjakan investasi tersebut turut mengubah kontribusi pembentukan modal terhadap pertumbuhan ekonomi Kepri. Sumbangannya meningkat signifikan dari sekitar 3,62 persen menjadi 10,62 persen. Menurut Rony, peningkatan investasi menjadi sinyal bahwa aktivitas pembangunan dan ekspansi industri di Kepri terus berlangsung.
Kenaikan impor pada Triwulan II 2026 juga dinilai perlu dilihat secara lebih mendalam. Pasalnya, peningkatan tersebut terutama didorong masuknya barang modal dan bahan baku industri, bukan barang konsumsi. Kondisi itu menjadi indikasi bahwa aktivitas pembangunan pabrik dan proyek fisik di Kepri masih berjalan.
Masuknya mesin, peralatan produksi, serta bahan baku tersebut diperkirakan akan memberikan dampak lanjutan terhadap perekonomian ketika proyek-proyek investasi mulai memasuki tahap produksi.
Setelah fase konstruksi selesai, peningkatan kapasitas produksi diharapkan mendorong ekspor sekaligus menciptakan efek berganda terhadap sektor-sektor ekonomi lainnya.
Sejumlah investasi berskala besar yang masuk ke kawasan industri juga berpotensi memberikan kontribusi lebih besar ketika mulai beroperasi secara penuh.
Secara spesial, Kota Batam masih menjadi motor utama ekonomi Kepri. Kontribusi Batam terhadap total perekonomian provinsi berada di kisaran lebih dari 65 persen hingga mendekati 70 persen.
Selain manufaktur, Kepri mulai memasuki fase diversifikasi ekonomi dengan berkembangnya industri pusat data atau data center. Kehadiran industri tersebut membuka peluang munculnya sumber pertumbuhan baru sekaligus memperluas struktur ekonomi Kepri yang selama ini sangat bergantung pada manufaktur.
Investasi di sektor data center juga berpotensi menciptakan kebutuhan baru terhadap energi, infrastruktur, jasa pendukung, hingga tenaga kerja dengan kompetensi tertentu. BI menilai ekspansi sektor-sektor baru tersebut akan semakin memperkuat fondasi ekonomi Kepri dalam jangka menengah.
Peningkatan akses masyarakat terhadap lapangan pekerjaan, termasuk di sektor informal, dinilai penting agar efek berganda investasi tidak hanya terkonsentrasi di kawasan industri.
Penguatan penyerapan tenaga kerja juga menjadi bagian penting untuk menekan tingkat pengangguran terbuka sekaligus memperluas pemerataan manfaat pembangunan.
Dengan kombinasi investasi yang meningkat, ekspansi manufaktur, masuknya industri data center, serta penguatan keterlibatan masyarakat lokal, ekonomi Kepri dinilai memiliki ruang untuk tumbuh lebih tinggi pada periode berikutnya