WASHINGTON D.C. — Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) mendesak para kontraktor militer utama untuk segera menggenjot dan mempercepat produksi persenjataan. Langkah darurat ini diambil menyusul krisis menipisnya stok amunisi dan rudal pertahanan udara krusial milik militer AS akibat eskalasi konflik yang berlarut-larut dengan Iran.
Instruksi tegas tersebut dituangkan dalam sebuah memo internal bertanggal 5 Agustus 2026 yang ditulis oleh Wakil Menteri Pertahanan AS, Steve Feinberg. Dalam memo tersebut, Pentagon memberikan tenggat waktu maksimal 21 hari bagi para pimpinan industri pertahanan untuk menyerahkan rencana konkret terkait percepatan jadwal pengiriman serta peningkatan kapasitas produksi persenjataan secara signifikan.
Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, membenarkan keberadaan memo tersebut dan menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari reformasi besar-besaran terhadap sistem pengadaan militer yang selama ini dinilai lambat dan kaku. Ia menyebutkan bahwa kebijakan ini bertujuan agar militer AS dapat memperoleh pasokan senjata sesuai dengan kecepatan dan tingkat ancaman di medan perang, sekaligus menjadi acuan pengajuan anggaran pertahanan ke Kongres AS.
Kondisi penipisan stok persenjataan ini kian mengkhawatirkan berdasarkan data lembaga kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS). Stok rudal pencegat Patriot milik AS diperkirakan kini menyusut hingga di bawah 827 unit dari yang sebelumnya mencapai 2.200 unit. Begitu pula dengan persediaan rudal pencegat balistik THAAD yang tersisa kurang dari 278 unit dari stok awal sebanyak 452 unit.
Penurunan drastis pada dua sistem pertahanan udara utama yang bernilai jutaan dolar per unitnya tersebut mengancam kesiapan tempur AS di kawasan global. Para pengamat memperingatkan bahwa jika kelangkaan rudal Patriot dan THAAD ini tidak segera teratasi, kemampuan militer Amerika Serikat untuk merespons ancaman atau bertindak di wilayah konflik lainnya dapat terganggu secara signifikan.
Sumber: CNN Indonesia