Live Streaming
Page 7 of 27

sumber : tribunnews.com

Rama Shinta - Usai mengalami kekalahan 5-6 dari timnas U-19 Qatar, peluang timnas U-19 Indonesia untuk lolos dari fase grup Piala Asia U-19 2018 masih ada.

Timnas U-19 Indonesia harus mengakui keunggulan 5-6 timnas U-19 Qatar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (21/10/2018).

Gol Qatar dicetak oleh Hashim Ali (menit 11, 51'), Abdulrasheed Umaru (14', 41', 56'), Mohammed Waad (24').

 

Indonesia membalas lewat gol Luthfi Kamal (28'), Rivaldo Ferre (65', 73', 80'), Saddil Ramdhani (69').

Hasil ini membuat posisi pasukan Indra Sjafri di klasemen grup A Piala Asia U-19 2018 turun ke posisi ketiga dengan koleksi 3 poin.

Tim Garuda Nusantara kalah head to head dari Qatar di posisi kedua, meski mengoleksi poin yang sama.

Peluang untuk meraih satu dari dua tiket ke perempat final masih ada, meski tidak mudah.

Pasalnya, pada laga terakhir timnas U-19 Indonesia harus menghadapi pemuncak klasemen Uni Emirat Arab (UEA), sedangkan Qatar kontra juru kunci, Taiwan.

Padahal Indonesia membutuhkan hasil sempurna guna menjaga peluang lolos dari fase grup.

Ada beberapa situasi yang membuat Indonesia bisa lolos.

Pertama, jika Qatar tumbang dari Taiwan, Indonesia hanya perlu bermain imbang dengan UEA.

Dengan hasil itu urutan klasemen adalah UEA (7 poin), Indonesia (4), Taiwan (3), Qatar (3). 

Kedua, jika Qatar dan Taiwan bermain seri, Indonesia harus meraih kemenangan karena hasil imbang akan membuat mereka kalah head to head dari Qatar.

Andai hal itu terwujud, Indonesia (6 poin) memimpin klasemen, disusul UEA (6), Qatar (4), Taiwan (1).

Ketiga, apabila Qatar menang, Indonesia harus meraih kemenangan. 

Dengan begitu UEA, Qatar, dan Indonesia sama-sama mengoleksi 6 poin.

Klasemen akan ditentukan selisih gol di antara ketiga tim.

Dua tim dengan agregat terbaik akan lolos ke perempat final.

Oleh karena itu, timnas U-19 Indonesia harus menabung gol sebanyak mungkin ke gawang UEA dan berharap Taiwan mampu menghalangi Qatar mencetak banyak gol.

Usai laga kedua, selisih atau agregat gol ketiga tim tersebut antara lain UEA (+8 gol), Qatar (0), Indonesia (+1).

22 October 2018

sumber : kompas.com

 

Rama Shinta - Pemerintah Rusia menanggapi pernyataan PresidenAS Donald Trump yang mengatakan bakal meninggalkan perjanjian senjata nuklir era Perang Dingin sebagai langkah yang berbahaya.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov menuduh Washington telah mempertaruhkan penghukuman internasional hanya demi mendapat supremasi total di bidang militer.

"Ini akan menjadi langkah yang sangat berbahaya," kata Ryabkov, Minggu (21/10/2018), seperti dilansir AFP.

Ryabkov bersikeras bahwa Moskwa telah mengawasi secara ketatKesepakatan Persenjataan Nuklir Jarak Menengah atau yang dikenal dengan INF, yang telah berlangsung selama tiga dekade.

Dia juga menuduh Washington telah melakukan pelanggaran yang mencolok.

Kini, Ryabkov mengharapkan kepada pemerintah AS akan dapat memberikan penjelasan secara lebih lengkap dan jelas tentang rencana yang disampaikan Trump.

Sebelumnya, Presiden Trump mengumumkan bahwa AS akan meninggalkankesepakatan tersebut dengan menuduh Rusia telah sejak lama melanggar perjanjian.

"Rusia telah melanggar perjanjian itu selama bertahun-tahun. Kami tidak akan membiarkan mereka melanggar perjanjian nuklir dapat bebas dan melakukan (pengembangan) senjata sementara kami tidak bisa," kata Trump.

Pernyataan Trump tersebut mengacu pada peluncuran misil 9M729 buatan Rusia yang dianggap Washington mampu mencapai jarak lebih dari 500 kilometer, sehingga melanggar kesepakatan INF.

Kesepakatan INF melarang negara penanda tangan untuk mengembangkan misil bermuatan nuklir yang mampu menjangkau jarak 500 hingga 5.500 kilometer.

Kesepakatan tersebut ditandatangani oleh Presiden AS Ronald Reagan dengan Pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev pada 1987.

Penasihat Keamanan Nasional Trump, John Bolton, akan tiba di Moskwa pada Minggu (21/10/2018) malam dan mengadakan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.

Pertemuan itu disebut akan membahas rencana pertemuan kedua antara Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

22 October 2018

sumber : liputan6.com

 

Rama Shinta - Santri memiliki peran penting dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia setelah keluarnya Resolusi Jihad yang dimotori oleh KH Hasyim Asy'ari yang juga pendiri Nahdlatul Ulama (NU) pada 22 Oktober 1945.

Resolusi Jihad inilah yang menjadi pemantik semangat juang para santri untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari para sekutu yang mencoba merongrong kembali kemerdekaan bangsa.

Melalui pesantren yang didirikannya dan juga jamiyah NU, KH Hasyim Asyari menanamkan nasionalisme dan patriotisme yang kelak mengobarkan api perlawanan rakyat terhadap kolonialisme yang telah mengakar berabad-abad lamanya.

Imperialisme dan hegemoni kolonial terhadap rakyat, tidak hanya terbatas pada aspek lahir seperti ekonomi, politik dan sebagainya, tetapi lebih dari itu, telah menguasai kesadaran dan rasionalitas bangsa Indonesia.

Oleh karena itu, pendidikan dan dakwah dipandang merupakan sarana yang efektif untuk mengubah kesadaran rakyat dan membangkitkannya dari ketertindasan selama itu.

Melalui pengajaran dan fatwa-fatwanya, KH Hasyim Asyari menyemai kesadaran untuk bangkit dan melawan, membebaskan diri dari penjajahan, dan pada akhirnya berhasil menggelorakan revolusi fisik merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Ketua Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PCNU) Surabaya A. Muhibbin Zuhri menilai revolusi fisik pada tahun 1945 merupakan momentum penting yang menjadi pangkal tolak Indonesia sebagai sebuah negara merdeka dan berdaulat secara politik.

Sejarah mencatat, peperangan terjadi di hampir semua kota penting di Jawa untuk mempertahankan kedaulatan negara yang belum lama diproklamirkan, yaitu pada 17 Agustus tahun itu.

Hal penting yang patut dikemukakan oleh Muhibbin ialah bahwa gerakan perlawanan fisik yang masif itu pasti didorong oleh nilai-nilai kolektif yang membangkitkan keberanian untuk melakukan pengorbanan jiwa, raga dan harta.

Fatwa jihad yang kemudian menjadi resolusi jihad yang dikeluarkan oleh NU, diyakini memiliki kontribusi yang signifikan dalam mengkristalkan semangat nasionalisme itu melalui implementasi nilai-nilai relegius di dalamnya. Hal ini karena NU memiliki basis sosial yang kuat di Jawa, sehingga resonansi fatwa tersebut dapat memobilisir kekuatan tempur masyarakat muslim.

Proposisi tersebut menurut Muhubbin menemukan relevansinya ketika ditarik hubungan kronologis antara peristiwa pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya dengan resolusi jihadyang diumumkan pada pertemuan ulama-ulama NU se Jawa dan Madura pada tanggal 21-22 Oktober 1945, atau 18 hari sebelumnya.

"Sayangnya, sejarah nasional Indonesia tidak mencantumkan catatan penting mengenai resolusi jihad sebagai konteks peperangan yang akhirnya ditandai secara nasional sebagai Hari Pahlawan tersebut. Hilangnya fragmen penting itu, merupakan bias dari historiografi sejarah nasional yang lebih bernuansa elitis dan politis," kata Muhibbin yang juga salah satu pengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya ini.

 

Fatwa Jihad

Fatwa jihad KH Hasyim Asyari tersebut menurut catatan Muhibbin Zuhri sekaligus menampilkan cara berfikir fiqh yang matang. Menurutnya, sejak proklamasi kemerdekaan, Pemerintah RI adalah pemerintah yang sah sesuai syariat, dan oleh karenanya, tidak diragukan lagi bahwa negeri Indonesia adalah negeri Islam.

Oleh karena itu, usaha untuk merampas kemerdekaan itu adalah usaha yang harus dilawan menurut titah Islam. Di sinilah, idiom keagamaan berupa "jihad fi Sabilillah" melawan kembalinya kekuatan penjajah menemukan relevansi konseptualnya.

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surat al-Hajj [22] : 39. Selain itu, sesuai pendapat al-Anshari dalam kitab Fath al-Wahhab berdasar nass yang sahih : " fardlu `ain ialah wajib yang mesti dikerjakan oleh tiap-tiap orang Islam, yaitu apabila musuh telah menyerbu ke negeri Islam".

Adapun mereka yang mati dalam jihad menegakkan titah Allah adalah mati di jalan Allah dan mereka mati syahid. Sikap tersebut, kata Muhibbin, merupakan ekspresi dari pandangan keagamaan sunni yang lebih mengedepankan substansi Islam daripada formalitas. Dalam pandangan politik (Fiqh Siyasi) Sunni, berlakunya syariat Islam lebih penting dibanding menampilkan simbol-simbol Islam.

Bentuk negara, termasuk di dalamnya mekanisme suksesi (nasb al-imamah) boleh bermacam-macam, tetapi yang penting adalah berlakunya nilai-nilai universal Islam dan mengandung jaminan kebebasan bagi umat Islam untuk melaksanakan ibadahnya.

Lebih lanjut, fatwa jihad yang dikeluarkan oleh KH Hasyim Asyari didasari oleh gaya berfikir seorang faqih yang mencerminkan penguasaan terhadap metode istinbath hukum serta penguasaan konteks kesejarahan dimana rumusan hukum yang dihasilkannya tersebut diterapkan.

Ia tidak sekadar mengambil referensi hasil ijtihad ulama klasik, tetapi lebih dari itu, mengeksplorasi sumber-sumber otentik ajaran Islam dengan mempertimbangkan konteks kesejarahannya.

Ketokohan KH Hasyim Asyari diakui oleh semua kalangan, bahkan pemikirannya tidak hanya dapat diterima oleh kalangan umat Islam dari berbagai organisasi yang sebelumnya berbeda orientasi ideologis, tetapi menginspirasi dan sekaligus diterima sebagai landasan bersikap menghadapi kekuatan imperialisme saat itu.

Kredibilitasnya merupakan perpaduan antara karakter keulamaannya yang kuat, juga komitmen kebangsaan, kepemimpinan, dan wawasan kenegaraannya yang luas. Sehingga fatwa jihad yang ia keluarkan, mencerminkan dengan jelas komitmennya yang kuat pada kemaslahatan, sebagaimana juga menjadi tujuan syariat itu sendiri.

Pada saat itu, KH Hasyim Asyari menjadi Rais Akbar NU dan sekaligus Rais Syuriyah Masyumi, pemikiran NU dan Masyumi menyatu untuk sebuah perjuangan besar izzul Islam wa al-Muslimin dalam bingkai NKRI.

 

Santri untuk Indonesia

Jika menilik semangat dari resolusi jihad tersebut, maka selayaknya Hari Santri yang diperingati setiap 22 Oktober bukan hanya milik Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah, melainkan milik Indonesia.

Hal ini sesuai pernyataan Katib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf dalam Seminar memeringati Hari Santri Nasional di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya di Malang, Jawa Timur beberapa waktu lalu.

Menurut Yahya Staquf, santri bukan hanya trademark NU atau Muhammadiyah, tetapi santri selalu mewarnai kehidupan masyarakat Nusantara. Selain itu, santri itu bukan milik NU saja, tapi milik semua kalangan, golongan yang cinta Tanah Air dan ke-Indonesiaan.

Memang selama ini pondok pesantren banyak dikelola NU, tapi bukan berarti santrinya hanya milik NU. Tradisi santri ini sebenarnya sudah ada sejak dahulu. Santri adalah tradisi intelektual Nusantara yang tumbuh selama berabad-abad sejak zaman pra-Islam.

Sebelum ada pendidikan model barat yang diadopsi saat ini, pendidikan Nusantara terjadi di padepokan-padepokan dengan resi-resi. Para resi tinggal dengan murid-muridnya, dan sebelumnya bernama cantrik.

Oleh karena itu, menurut anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI (Wantimpres) ini, peringatan Hari Santri Nasional menjadi bukti dukungan keberadaan pondok pesantren melalui regulasi dan kebijakan. Tujuannya menghidupkan kembali tradisi intelektual Nusantara, melalui pondok pesantren bisa semakin meningkat kapasitasnya.

Selain itu, Yahya juga meyakini Indonesia memiliki ketahanan sosial budaya luar biasa untuk mengatasi antagonisme yang merebak melalui media sosial. Banyak krisis yang telah dilalui sejak zaman Majapahit hingga saat ini, tapi bisa diselesaikan dengan baik.

Untuk itu, ia berharap Hari Santri bisa diperingati siapapun yang merawat tradisi intelektual Nusantara pada dirinya, termasuk Muhammadiyah. Unsur utama tradisi ini adalah dinamika kecendekiaan.

Ciri dinamika kecendekiaan ini adalah gagasan-gagasan intelektual besar yang membentuk peradaban Nusantara ini, contohnya adalah identitas kerajaan Majapahit sebagai Bhinneka Tunggal Ika yang tidak menggunakan agama sebagai identitas kerajaannya.

Santri Masa Kini Peristiwa 10 November 1945 yang dikenang sebagai Hari Pahlawan menjadi peristiwa heroik, di mana santri turut andil di dalamnya mengaplikasikan Resolusi Jihad untuk mempertahankan NKRI yang dimotori oleh Bung Tomo dengan pidato menggelegarnya.

Tidak hanya itu, dalam proses kemerdekaan dan pembentukan NKRI peran santri juga sangat sangat besar. Bukan hanya dengan angkat senjata, tetapi juga dalam perundingan-perundingan dan proses dialektika.

Lewat para ulama melalui sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), lahirlah Indonesia dengan Pancasila sebagai ideologinya dan NKRI sebagai bentuk negaranya.

Maka tidak berlebihan jika dikatakan dari santri untuk NKRI karena peran santri tidak hanya hadir sebagai insan yang bergelut di bidang spritualitas tetapi juga hadir sebagai insan patriotis membentuk, mempertahankan dan menjaga NKRI.

Dengan adanya Hari Santri yang diperingati setiap tahunnya pada 22 Oktober menjadi penegasan dan pengakuan negara bahwa kaum santri memiliki sumbangsih besar untuk negeri. Pada saat yang sama Hari Santri juga merupakan momentum untuk mengingat sejarah peran ulama dan santri, sejalan dengan jargon Jas Hijau (Jangan Sekali-kali Hilangkan Jasa Ulama).

Dalam konteks kekinian bagaimana peran santri di tengah tantangan yang begitu kompleks di era globalisasi yang penuh dengan kompetisi. Belum lagi kemajuan teknologi dan arus informasi yang jika tidak siap menghadapinya maka akan tergilas oleh zaman.

Maka santri saat ini mesti menjadi anak zaman yang bisa menghadapi zamannya. Jika dulu di zaman penjajahan santri mampu tampil heroik, maka sejatinya di zaman sekarang pun santri mesti mampu tampil heroik pula dalam menghadapi tantangan era globalisasi.

 

sumber : tribunnews.com

Rama Shinta - Pebalap Repsol Honda, Marc Marquez, mengunci gelar Juara Dunia 2018 setelah finis di posisi pertama pada balapan GP Jepang di Twin Ring Motegi, Minggu (21/10/1018).

Bagi Marquez, ini merupakan gelar juara dunia kelima setelah dia berkiprah di kelas premier dalam enam musim.

Sebelumnya, Marquez merebut gelar juara dunia pada 2013, 2014, 2016, dan 2017.

 

Namun, jika dihitung sejak dia berkiprah di kelas 125cc (2010) dan Moto2 (2012), pebalap berusia 25 tahun ini sudah mengamankan gelar juara dunia ketujuh dalam kariernya.

Marquez menuju ke Twin Ring Motegi dengan keunggulan 77 poin atas rivalnya, Andrea Dovizioso (Ducati) yang saat ini menempati peringkat kedua dalam klasemen sementara pebalap.

Namun, Dovizioso gagal menunda pesta Marquez sebagai juara dunia karena terjatuh pada dua lap terakhir.

Berkat finis di urutan pertama, Marquez mendapat tambahan 25 poin dan semakin kokoh di puncak klasemen dengan mengoleksi 296 angka.

Dia unggul 102 angka atas Dovizioso yang pada balapan kali ini gagal mendapat tambahan poin. 

 

Namun, dia masih berpeluang menjadi runner-up musim ini jika mampu tampil konsisten pada tiga balapan yang tersisa.

Finis di posisi kedua dan ketiga pada balapan ini adalah Cal Crutchlow (LCR Honda) dan Alex Rins (Suzuki Ecstar).

Persaingan MotoGP 2018 akan berlanjut pada seri balap GP Australia (26-28 Oktober),  GP Malaysia (2-4 November), dan GP Valencia (16-18 November).

Berikut klasemen sementara MotoGP 2018 setelah GP Jepang.

22 October 2018

sumber : cnnindonesia.com

Rama Shinta - "Yang paling penting adalah efisiensi dan bagaimana membuat industri telekomunikasi sehat."


Penggalan kalimat tersebut merupakan kutipan yang diucapkan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara. Kalimat tersebut menjadi kutipan yang paling saya ingat ketika meliputisu telekomunikasi dalam 3,5 tahun terakhir.

Mayoritas kebijakan yang disiapkan memang mengarah pada efisiensi industri.
Saya ingat betul alasan mengapa pentingnya efisiensi industri yang terus menerus digaungkan. Beberapa tahun lalu, Rudiantara mengatakan dengan industri telekomunikasi yang sehat maka bisa memberikan layanan yang bagus untuk masyarakat.


Sebagai pelanggan layanan telekomunikasi, rasanya saya lebih banyak mengeluh dibandingkan menikmati. Artinya, efisiensi industri yang digaungkan tersebut hingga saat ini belum terwujud.

Saya mengumpulkan beberapa regulasi yang sempat 'panas' dibahas dengan akhir yang nahas.

Mari memulainya dari regulasi interkoneksi.

Rudiantara menggaungkan efisiensi industri. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Pertengahan 2015, Rudiantara mengemukakan rencana perhitungan ulang tarif interkoneksi. Tujuan perhitungan ulang ini karena perhitungan tarif interkoneksi dilakukan 2005.

Dalam kurun waktu satu dekade tersebut, kondisi telah banyak berubah dan dibutuhkan regulasi yang dapat merefleksikan kondisi saat ini hingga jangka waktu ke depannya.

"Tarif interkoneksi akan selesai tahun ini sehingga bisa diberlakukan pada awal tahun 2016," ujar Rudiantara pada Juni 2015.

Tujuan aturan itu adalah agar konsumen menikmati tarif lebih murah.


Faktanya, tarif interkoneksi rampung pada 2 Agustus 2016. Tarif tersebut diputuskan turun 26 persen dan mulai berlaku pada tanggal 1 September 2016 sampai dengan Desember 2018.

Namun, hingga saat ini tak ada kejelasan dari implementasi interkoneksi tersebut. Lika-liku interkoneksi saat itu cukup panjang karena operator seluler terbagi dua kubu, setuju dan tidak setuju.

Bahkan, regulator melakukan perhitungan kembali di saat sudah mengeluarkan tarif baru.

Masalah industri tak berhenti hanya di interkoneksi.

 

Infrastruktur Bersama

Regulasi infrastructure sharing  pun mengalami pembahasan yang lama dan tak kunjung selesai. Pembahasan sudah ramai sedari awal 2015 namun hingga saat ini tak kunjung mendapat titik terang.

Kabarnya, regulasi tersebut sudah rampung. Namun, masih harus mendapatkan persetujuan dari berbagai pihak.

Rencananya dengan regulasi itu, para operator bisa saling berbagi infrastruktur aktif dan pasif. Saat ini, memang untuk berbagi infrastruktur pasif seperti menara sudah diizinkan oleh regulator.

Namun, lebih dari itu seperti berbagi frekuensi bisa mengakibatkan bui.


Jika dijabarkan lebih lanjut masih banyak janji 'surga' Rudiantara yang tak kunjung terwujud. Rencana regulasi konsolidasi, regulasi untuk perusahaan rintisan, hingga regulasi Over-the-Top (OTT).

Bahkan, program 1.000 startup untuk mendorong digital ekonomi di Indonesia agar mencapai valuasi US$130 miliar pada 2020 pun masih mengundang banyak pertanyaan.

Misalnya, apa kriteria startup yang dihitung? Saat ini sudah ada berapa banyak? Bagaimana cara menghitung valuasi perusahaan rintisan hingga target US$130 miliar bisa tercapai?

Dan banyak pertanyaan yang tak pernah saya dapatkan jawabannya.

Ilustrasi. (Foto: AFP PHOTO / MOHAMMED ABED)

 

Jika kita berkaca pada dua regulasi pertama yang sempat dibahas. Benang merah keduanya adalah ketidaktegasan pemerintah untuk mengambil sikap.

Saya kira, Rudiantara memiliki kecenderungan untuk membuat semua pihak dapat diuntungkan. Sayangnya, hal tersebut sulit diwujudkan dan regulasi yang akhirnya dikorbankan.

Di sisi lain, selain deretan komitmen lainnya yang disampaikan, saya melihat ada beberapa program walau berliku tetap terwujud.

Salah satunya adalah proyek pembangunan kabel optik Palapa Ring. Setelah terbengkalai dari pemerintahan sebelumnya, Rudiantara berhasil menggelar kabel optik dari Sabang hingga Merauke.

Saat ini, paket barat dan tengah, sudah rampung dan paket timur ditargetkan rampung akhir tahun ini. Seluruh paket diharapkan dapat beroperasi 2019.

Saya tak segan acungkan dua jempol untuk Rudiantara untuk urusan ini.

Beranjak pencapaian berikutnya yakni implementasi 4G. Rudiantara dinilai berhasil menghantarkan Indonesia ke gerbang era internet baru yakni 4G Long Term Evolution (LTE).

Walau kecepatan yang didapatkan di Indonesia masih jauh di bawah rata-rata. Hasil riset Open Signal pada semester pertama 2018 ini, operator tercepat di Indonesia saja hanya memiliki kecepatan unduh 12,9 Mbps dan ungguh 7,3 Mbps.

Dalam skema global, semua operator Indonesia masih jauh di bawah rata-rata pengunduhan 4G global yaitu 16,9 Mbps. Rata-rata kecepatan pengunduhan di Indonesia sekitar 8,92 Mbps.

Tapi setidaknya Indonesia telah berusaha hingga bisa mencicipi 4G dan saat ini setiap operator masih tetap membangun. 

Di sisi lain, saya kira, menteri tersebut masih memiliki satu tahun terakhir dengan deretan pekerjaan yang belum tuntas. Dari soal regulasi hingga eksekusi di lapangan.

Waktu jua yang bakal menunjukkan, apakah ada wujud kerja nyata atau janji surga semata.

19 October 2018

sumber : kompas.com

Rama Shinta - Pola pengelolaan penerbangan nasional terkesan kurang tertata dengan baik sebagai akibat dari tidak atau kurang terpadunya penanganan dari pertumbuhan penumpang yang melonjak tajam pada 10-15 tahun terakhir.

Sementara bandara di Tanah Air semakin padat, aliran kedatangan pesawat-pesawat baru terus saja mengalir tanpa dapat dihentikan.

Hal ini mudah sekali terlihat dari kepadatan slot penerbangan, antara lain di Soekarno-Hatta International Airport (SHIA), Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Husein Bandung, dan banyak bandara lain di Tanah Air.

Kepadatan penumpang, terutama yang terjadi di Halim sekarang ini, sudah agak membahayakan keselamatan penerbangan.

Pada awalnya ada slot 70 penerbangan komersial yang bisa ditoleransi untuk dapat dilakukan di pangkalan Angkatan Udara agar tidak mengganggu penerbangan militer. Kini konon sudah jauh melebihi dari 70 penerbangan komersial dalam sehari.

Sementara itu, mencolok sekali dengan apa yang terjadi di Bandara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat, yang baru saja diresmikan pada 24 Maret 2018.

Bandara berkapasitas 5,6 juta penumpang setahun dan dibangun dengan biaya triliunan rupiah itu konon hingga hari ini masih "kosong" melompong dan hanya dipergunakan untuk satu atau dua penerbangan dalam satu hari.

Maskapai penerbangan masih banyak yang enggan menggunakan Kertajati dengan alasan "market", rute penerbangan dan akses penumpang ke bandara yang terlihat masih belum menunjukkan bayangan keuntungan secara komersial.

Dalam kondisi parah seperti itu, sudah terdengar pula sayup-sayup tentang perencanaan akan pembangunan international airport baru di Lebak, Banten.

Bandara baru ini paling tidak dapat dipastikan akan mengganggu keberadaan Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) di Curug.

Nah, semua itu tentu saja menggambarkan betapa perencanaan dan penanganan dari masalah penerbangan secara nasional belum terkoordinasi dengan baik.

Masalah penerbangan nasional tidaklah semata masalah penerbangan komersial belaka karena ada juga kegiatan penerbangan militer, misalnya, dan kegiatan penerbangan untuk keperluan pendidikan dan latihan.

Masalah penerbangan nasional tidaklah semata masalah Kementrian Perhubungan saja karena ada pula masalah penerbangan yang berada di bawah kementerian lain, seperti Kementrian Pertahanan.

Masalah penerbangan nasional harus ditangani secara bersama-sama antar-beberapa kementerian dan instansi serta institusi terkait lainnya.

Kompleksnya masalah penerbangan nasional sebenarnya sudah diantisipasi oleh pemerintah Republik Indonesia sejak puluhan tahun lalu.

Sudah diantisipasi puluhan tahun lalu bahwa penanganannya harus dilakukan dengan mekanisme keterpaduan koordinasi di tingkat strategis atau di tingkat pemerintah pusat.

Pada salah satu lembaran negara tahun 1955, terdapat sebuah Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 5 Tahun 1955 tentang Dewan Penerbangan. Tertulis dengan jelas pada PP tersebut, antara lain:

Presiden Republik Indonesia menimbang : bahwa untuk memberikan nasehat dan menyempurnakan koordinasi dalam soal-soal penerbangan dan agar terdapat kerja sama yang sebaik-baiknya antara instansi-instansi yang mempunyai tugas yang erat hubungannya dengan beberapa soal penerbangan perlu dibentuk satu Dewan Penerbangan.

Pada Lembaran Negara Nomor 7 tahun 1955 tentang Dewan Penerbangan, Pasal 3 menyebutkan sebagai berikut :

Dewan itu terdiri dari:
a. Menteri Perhubungan dan Menteri Pertahanan sebagai anggauta dan bergiliran sebagai Ketua.
b. Sebagai anggota:

  • Kepala Djawatan Penerbangan Sipil dari Kementerian Perhubungan
  • Kepala Staf Angkatan Udara dari Kementrian Pertahanan
  • Seorang Pegawai Tinggi dari Kementerian Luar Negeri
  • Seorang Pegawai Tinggi dari Kementerian Perekonomian
  • Seorang Pegawai Tinggi dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Tenaga

Dalam lembar penjelasan yang sama, bahkan diterangkan lagi dengan lebih jelas bahwa: "Dalam keadaan sekarang dirasa perlu sekali untuk mengoordinir politik penerbangan sipil dan politik penerbangan militer, yang kedua-duanya tidak terlepas dari politik dan ekonomi negara."

Lebih penting lagi, dalam bagian lainnya tercantum pula penjelasan yang sangat gamblang sebagai berikut: "Dengan tegas dinyatakan di sini bahwa hanya soal-soal penerbangan sipil dan militer yang mempunyai hubungan amat erat satu sama lain yang harus dikoordinasikan. Maksudnya ialah untuk menghindarkan pengertian, bahwa instansi penerbangan satunya dapat turut mencampuri soal-soal penerbangan yang khusus termasuk dalam kompetemsi instansi penerbangan yang lain atau sebaliknya."

 

Pesawat penumpang kelas menengah berbadan ramping Embraer E190-E2 dipamerkan kepada khalayak terbatas di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Rabu (10/10/2018). Pesawat produksi industri penerbangan Embraer asal Brasil yang menggunakan sepasang mesin jet Pratt & Whitney tersebut mampu memuat 114 penumpang kelas ekonomi. Pesawat seharga 53,6 juta dollar tersebut tengah menjajaki potensi pasar maskapai nasional.
Pesawat penumpang kelas menengah berbadan ramping Embraer E190-E2 dipamerkan kepada khalayak terbatas di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Rabu (10/10/2018). Pesawat produksi industri penerbangan Embraer asal Brasil yang menggunakan sepasang mesin jet Pratt & Whitney tersebut mampu memuat 114 penumpang kelas ekonomi. Pesawat seharga 53,6 juta dollar tersebut tengah menjajaki potensi pasar maskapai nasional.(RIZA FATHONI)

 

Dengan demikian, sebenarnya sangat jelas bahwa apa yang diantisipasi pemerintah lebih dari setengah abad lalu itu kini tengah menjadi kenyataan. Lanud Halim adalah merupakan contoh nyata.

Banyaknya permasalahan dalam dunia penerbangan nasional saat ini memang membutuhkan sebuah dewan yang dapat mengoordinasikan dengan baik persoalan penerbangan secara keseluruhan.

Secara keseluruhan di sini adalah tidak sebagaimana gambaran umum yang terlihat di permukaan tentang bagaimana penerbangan sipil komersial telah mendominasi dan berjalan sendiri tanpa koordinasi yang baik dengan sektor lain yang berkaitan erat dengan kegiatan penerbangan secara keseluruhan.

Mudah-mudahan dengan sedikit renungan dalam mengamati ulang lembaran negara tahun 1955 itu maka seluruh stake holder penerbangan di Tanah Air dapat segera menyadari tentang pentingnya "koordinasi" dan aspek saling menghargai kompetensi masing-masing dalam sebuah penyelenggaraan penerbangan di negeri ini.

Wadah yang berkemampuan menembus sekat-sekat arogansi sektoral dalam aktivitas di bidang penerbangan sudah waktunya hadir untuk dapat menyelesaikan segera permasalahan serius di dunia penerbangan kita yang sudah menjurus kearah yang mengkhawatirkan.

Semrawutnya Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma sekarang ini hanya satu dari sekian banyak permasalahan yang menghadang di depan.

sumber : kompas.com

Rama Shinta - Boyband Korea Selatan, iKON, menjanjikan suguhan menarik dalam konser "Continue Tour" mereka di Indonesia, tepatnya di Tennis Indoor Senayan, pada 18 November 2018 nanti.

Hal itu disampaikan salah satu member iKON, Song, dalam video Official Greeting iKON di kanal YouTube promotor Mecima Pro, seperti dikutip Kompas.com, Kamis (18/10/2018).

"Kami telah mempersiapkan banyak penampilan menarik untuk kalian," kata Song yang bernama lahir Song Yoon Hyung itu.

"Ayo datang dan menghabiskan waktu bersama kami," timpal Jung Chan Woo atau Chan.

Kim Dong Hyuk alias DK sang Main Dancer dan Kim Han Bin yang akrab disapa B.I mengajak para iKONIC-nama basis penggemar iKON--untuk bertemu dalam konser mereka nanti. 

"Indonesia iKONIC! Apa kalian sudah siap bertemu kami?" kata DK.

"Indonesia iKONIC, kangen kami kan? Ayo ketemu!" timpal B.I.

Untuk tiket konser iKON di Jakarta nanti, ada lima kategori harga sesuai kelasnya. Tiket Blue seharga Rp 2 juta, Pink Rp 2,5 juta, Yellow Rp 2 juta, Green Rp 1,6 juta, dan Purple Rp 1 juta.

Konser iKON nanti bakal menjadi penampilan keempat mereka di Indonesia. Pada September 2016, boy grup asuhan YG Entertaiment itu menggelar konser bertajuk "iKONCERT 2016 Showtime Tour" di ICE BSD, Tangerang, Banten.

Setahun berikutnya, tepatnya pada 25 November 2017, iKON kembali tampil dalam konser Saranghaeyo Indonesia 2017 di lokasi yang sama.

Setelah itu, mereka didaulat sebagai salah satu penampil dalam penutupan Asian Games 2018 di Jakarta.

19 October 2018

sumber : kompas.com

Rama Shinta - Insiden penembakan terjadi dalam sebuah pertemuan keamanan tingkat tinggi di Afghanistan, Kamis (18/10/2018).

Setidaknya dua orang dilaporkan tewas dan sejumlah orang lainnya luka-luka dalam serangan terhadap pertemuan yang turut dihadiri komandan AS, Jenderal Scott Miller, tersebut.

Melansir dari AFP, korban tewas adalah seorang kepala keamanan Afghanistan dan seorang wartawan. Sementara tiga korban luka dilaporkan berkewarganegaraan AS.

Taliban dengan cepat mengklaim sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan di kantor gubernur provinsi Kandahar tersebut.

Sumber dari Taliban mengatakan, target dalam serangan tersebut adalah Jenderal Abdul Raziq, kepala polisi provinsi Kandahar, yang dianggap memiliki reputasi buruk atas kekejamannya.

Raziq termasuk dalam korban tewas dan enam pengawalnya terluka. Demikian disampaikan seorang pejabat keamanan provinsi tanpa menyebutkan nama.

"Penembakan terjadi saat mereka akan meninggalkan pertemuan," kata seorang pejabat.

Ditambahkannya, dua anggota agen mata-mata Afghanistan turut terluka dalam serangan.

Sementara komandan AS, Jendeal Scott Miller dikabarkan tidak mengalami luka, seperti dikutip dalam pernyataan juru bicara NATO, Kolonel Knut Peters.

Tiga warga Amerika yang terluka adalah seorang tentara, seorang warga sipil dan kontraktor. Ketiganya mengalami luka akibat baku tembak yang terjadi di lokasi pertemuan dan kini telah dievakuasi ke tempat aman.

"Laporan awal mengindikasikan ini adalah insiden antar-Afghanistan. Kami diberitahu bahwa saat ini area telah aman," tambah Peters.

Sejumlah pejabat senior yang terluka juga telah dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan medis. Sementara kota berada dalam pengawasan ketat oleh pasukan militer Afghanistan.

Afghanistan berada dalam siaga tinggi menjelang dilangsungkannya pemilihan parlemen yang akan digelar pada Sabtu (20/10/2018) mendatang.

Kelompok Taliban telah menjanjikan bakal melancarkan serangan dan menggagalkan jalannya pemilu.

Serangkaian serangan juga telah dilancarkan hingga menewaskan setidaknya 10 kandidat peserta pemilihan.

Taliban telah memperingatkan kepada warga agar menghindari lokasi pemungutan suara pada akhir pekan mendatang karena mereka tidak ingin menimbulkan korban jiwa dari warga sipil.

sumber : aktual.com

Rama Shinta – Durasi tidur yang berlebihan ternyata sama buruknya dengan waktu tidur yang kurang untuk fungsi kognitif seseorang, menurut sebuah studi.

Para peneliti dari Western University’s Brain and Mind Institute di Kanada menemukan, kebanyakan tidur berdampak buruk untuk sejumlah fungsi kognitif seperti kemampuan mengidentifikasi hal-hal kompleks dan menyelesaikan masalah.

Sementara orang-orang mendapatkan waktu tidur cukup yakni sekitar 7-8 jam berhubungan dengan fungsi kognitif yang lebih baik.

“Kami menemukan bahwa orang-orang terlalu banyak tidur merasakan dampak buruk yang sama dengan mereka yang kurang tidur. Jumlah optimum durasi tidur untuk menjaga performa otak adalah 7-8 jam setiap malam,” kata Conor Wild, ketua studi.

Untuk sampai pada hasil ini, para peneliti mengumpulkan data dari 40 ribu partisipan sejak Juni 2017.  Temuan awal peneliti yang menganalisis 10 ribu orang sudah dipublikasikan dalam jurnal SLEEP.

Demi mendapatkan pemahaman yang lebih detil, mereka menggali data lebih dalam dari partisipan.

“Kami menggunakan kuesioner yang cukup luas, dan mereka memberi tahu kami hal-hal seperti obat yang partisipan gunakan, berapa usia mereka, di mana mereka berada di dunia, dan jenis pendidikan yang mereka terima karena ini adalah semua faktor yang mungkin telah berkontribusi untuk beberapa hasil,” kata Adrian Owen, salah satu peneliti.

Dia mengatakan, cara ini memberi para ilmuwan kesempatan untuk menguji berbagai teori dan mendapatkan pemahaman tentang bagaimana kuantitas tidur dapat mempengaruhi orang.

Para partisipan juga menjalani 12 tes kognitif yang sudah terbukti sehingga jumlah tidur dapat dikaitkan dengan kemampuan mental. Demikian seperti dilansir Medical News Today.

sumber : liputan6.com

Rama Shinta -  Ketika tersaji menu ikan kembung bumbu kuning dan sushi salmon, beberapa orang mungkin memilih sushi dari ikan salmon.

Namun, dari segi gizi, ikan kembung ternyata punya gizi lebih tinggi dibanding ikan salmon. Kandungan protein, omega-3, vitamin B12, vitamin D, fosfor, vitamin B2 (Riboflavin), vitamin B6, iodine, selenium lebih tinggi. Omega 3 dapat membantu perkembangan otak dan mata pada bayi. Ini juga membantu pertumbuhan otak normal dan perkembangan mata saat janin masih berada di dalam rahim. Jantung bayi akan sehat dan menjaga tekanan darah tetap normal.

 

Ikan kembung juga sumber gizi yang sangat baik. Vitamin D yang terkandung membantu penyerapan kalsium yang dibutuhkan untuk kesehatan tulang dan gigi yang sehat.

Ketika ditemui usai acara diskusi di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Direktur Pemasaran Ditjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, Machmud mengungkapkan, ikan kembung tak kalah bergizi dari ikan salmon.

“Ikan kita itu banyak sekali (contohnya ikan kembung). Tapi masyarakat masih belum menyadari gizi ikan-ikan lokal. Kita juga punya banyak sekali diversifikasi ikan (keragaman ikan). Bayangkan, kalau ikan-ikan lokal selalu kita sosialisasikan. Melalui gerakan ‘Gemar Makan Ikan’ kita promosikan potensi ikan lokal,” papar Machmud pada Kamis, 11 Oktober 2018.

Dari jurnal berjudul sumberdaya Ikan Kembung (Rastrelliger Kanagurta Cuvier 1817) di Perairan Selat Sunda yang Diidaratkan di PPP Labuan, Banten, yang dipublikasikan di laman Research Gate pada Oktober 2016, musim puncak penangkapan ikan kembung berada sepanjang April hingga Agustus, sedangkan musim paceklik berada pada Desember sampai Januari.

Persebaran wilayah penangkapan ikan kembung berada di sekitar perairan Selat Sunda seperti di Pulau Rakata, Rakata Kecil, Anak Rakata, Panaitan, Papole, Sebesi, Sebuku, Jongor serta Tanjung Lesung.

Page 7 of 27

Tentang Kami