Live Streaming
Page 2 of 13
02 October 2018

sumber : cnnindonesia.com

Rama Shinta - Tak berselang lama setelah gempa 7,4 SR di Sulawesi Tengah, Jumat (28/9), tsunami menyapu pesisir pantai Talise, Palu, Sulawesi Tengah. Namun, efek gempa tak berhenti di Palu. Satu kampung tenggelam ke dalam tanah akibat efek likuifaksi, yakni Petobo.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan empat wilayah di sekitar Sulawesi Tengah, yaitu Petobo, Biromaru, Jono Oge, dan Sidera mengalami likuifaksi.

Menurutnya, likuifaksi adalah proses geologi di mana tanah kehilangan kekuatan karena tegangan atau getaran yang biasanya terjadi saat gempa bumi. Tanah pun berubah menjadi lumpur seperti cairan dan kehilangan kekuatannya.

"Detik-detik saat rumah-rumah bergerak dan roboh disebabkan proses likuifaksi dan amblesan akibat gempa 7,4 SR di Kota Palu. Permukaan tanah bergerak dan amblas sehingga semua bangunan seperti hanyut," kata Sutopo dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Senin (1/10).

Sutopo mengatakan ada dua teori yang memungkinkan fenomena langka ini terjadi.

Pertama, guncangan gempa yang menyebabkan lapisan-lapisan tanah bawah yang awalnya padat, kemudian bercampur dengan air di bawah tanah, kemudian memuncratkan lumpur.

"Kekuatan [tanah]-nya berkurang, yang akhirnya menyebabkan bangunan yang ada di atasnya, pasti hancur diguncang gempa dengan posisi tanah di bawahnya gembur, amplifikasinya semakin besar, sehingga patah strukturnya," tuturnya.

Lokasi bencana lumpur Lapindo.Lokasi bencana lumpur Lapindo. (www.bpls.go.id))

Di masa lalu, munculnya insiden lumpur Lapindo, 2006, bisa jadi terjadi bukan hanya karena dibor tetapi juga karena gempa Jogja. Sutopo mengatakan material yang menghanyutkan rumah di Petobo sama hitamnya dengan Lapindo.

Teori kedua, katanya, akibat keberadaan lumpur purba yang terjebak di bawah permukaan tanah. Ketika gempa terjadi dan timbul retakan, lanjut dia, lumpur itu keluar.

Sutopo mengatakan tidak semua daerah rawan gempa terdapat proses likuifaksi. Lumpur biasanya terjadi di retakan retakan kecil antar lempeng. Namun hal itu masih tergantung dengan sedimen apa saja yang membentuk tanah itu.

"Kalau melihat dari proses pembentukannya, Sulawesi itu kan dibentuk oleh tiga lempeng. Lempeng Pasifik, Hindia Australia, dan Eurasia sehingga bentuk pulaunya aja aneh. Bentuk daratannya rendah kemudian bukit-bukit. Kemungkinan di dataran rendah itu ada cekungan cekungan yang kemungkinan isinya adalah lumpur-lumpur purba," terangnya.

Oleh karena itu, katanya, perlu penelitian lebih detail. Indonesia perlu pemetaan lebih detail untuk mengetahui titik likuifaksi dan biaya penelitiannya mahal.

"Hingga saat ini belum semua wilayah di Indonesia bisa terpetakan likuifaksinya. Belum semua wilayah Indonesia itu terpetakan jalur-jalur sesarnya," katanya.

Warga memantau area terdampak gempa di Petobo, Palu Selatan, Sulawesi Tengah, Senin (1/10). Warga memantau area terdampak gempa di Petobo, Palu Selatan, Sulawesi Tengah, Senin (1/10). (ANTARA FOTO/Akbar Tado)

Dia menghimbau ke depan, penataan ruang di Indoensia dibarengi dengan data-data kerawanan likuifaksi ini. Tujuannya untuk mitigasi bencana.


"Pemerintah daerah di Indonesia, yang daerahnya rawan gempa, harus membuat peta mikrozonasi, dengan peta itu akan diketahui berapa potensi terjadinya gempa. Apalagi ditambah pemetaan likuifaksi yang tadi," kata dia.

 

Evakuasi Lebih Sulit

Di daerah Patobo, BNPB memperkirakan ada 744 unit rumah yang amblas karena likuifaksi. Evakuasi di daerah itu diakui Sutopo akan lebih sulit karena tanahnya masih gembur sehingga akan sangat membahayakan bila mengevakuasi dengan alat berat.

"Alat berat di daerah yang biasa saja sulit apalagi ketika alat berat ke Patobo bisa amblas. Mungkin di permukaannya kering. Tapi mungkin yang di bawah masih gembur sehingga akan sangat berbahaya untuk menggunakan alat berat," ujarnya.

Sejauh ini, proses evakuasi dilakukan secara manual dengan mengutamakan keselamatan. Padahal, jumlah korban yang berada di wilayah tersebut ditaksir besar.

"Sayangnya kita juga belum mengetahui ada berapa penduduk yang ada di sana," kata Sutopo.

01 October 2018

sumber : tribunnews.com

Rama Shinta - Setiap 1 Oktober selalu diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila.

Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober ternyata berkaitan dengan peristiwa G30S/PKI yang terjadi 30 September 1965.

Pada tanggal 30 September 1965, terjadi tragedi yang dinamakan Gerakan 30 September (G30S).

Tragedi ini masih menjadi perdebatan di tengah lingkungan akademisi mengenai siapa penggiatnya dan apa motif di belakangnya.

Akan tetapi otoritas militer dan kelompok keagamaan terbesar saat itu menyebarkan kabar bahwa insiden tersebut merupakan usaha PKI mengubah unsur Pancasila.

Menjadi ideologi komunis, untuk membubarkan Partai Komunis Indonesia, dan membenarkan peristiwa Pembantaian di Indonesia 1965–1966.

 

Pada hari itu, enam Jenderal dan 1 Kapten serta beberapa orang lainnya dibunuh oleh oknum-oknum yang digambarkan pemerintah sebagai upaya kudeta.

Gejolak yang timbul akibat G30S pada akhirnya berhasil diredam oleh otoritas militer Indonesia, seperti dilansir wikipedia.

Pemerintah Orde Baru kemudian menetapkan 30 September sebagai Hari Peringatan Gerakan 30 September G30S dan tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila.

Dilansir kompas, Ashadi Siregar, peneliti media dan pengajar jurnalisme mengungkapkan Hari KesaktianPancasila mengandung makna perkabungan nasional.

Ditumpasnya kekuatan anti Pancasila, atau berbagai pemberontakan, perlu disikapi dengan pemahaman kesejarahan yang bersifat rasional, bukan dengan irasionalitas keyakinan saktinya Pancasila.

Setiap keberhasilan dan kegagalan pada hakikatnya berasal dari strategi dan operasi yang dijalankan secara rasional.

Dengan rasionalitas ini pula 1 Oktober dapat disikapi sebagai hari perkabungan nasional, bukan untuk ritual kesaktianPancasila.

Meninggalnya sejumlah perwira TNI pada 1 Oktober 1965 merupakan tragedi yang patut dikenang.

Film Gerakan 30 September karya almarhum Arifin C Noer yang diputar berulang selama Orde Baru menggambarkan adegan penculikan dan pembunuhan yang dilakukan segerombolan militer yang disebut sebagai pasukan Cakrabirawa.

Begitu juga adegan rapat-rapat yang berlangsung dihadiri oleh orang sipil yang digambarkan sebagai PKI di satu pihak dan militer di pihak lainnya.

Menelusuri tragedi 1 Oktober tidak mengurangi makna perkabungan bagi para perwira TNI.

Ini merupakan tugas sejarawan, termasuk TNI sendiri, untuk mengungkap seluruh tabir yang menyelimuti penculikan dan pembunuhan itu, agar tragedi dan perkabungan dapat dihayati secara rasional.

Sejumlah pertanyaan kunci perlu dijawab, sebab yang melakukan penculikan dan pembunuhan, baik dalam buku sejarah ala Nugroho Notosusanto maupun film semidokumenter Arifin C Noer, adalah bagian dari pasukan Cakrabirawa, pengawal kepresidenan.

Soalnya, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Cakrabirawa dibentuk atas unsur-unsur angkatan. Personel Cakrabirawa yang terlibat adalah Letkol Untung dan awak pasukannya yang berasal dari Angkatan Darat.

Tidak pernah dibukakan bagaimana rekrutmen pasukan Cakrabirawa ini, khususnya yang berasal dari Angkatan Darat.

Apakah bergabungnya Letkol Untung dan awak pasukannya ke dalam Cakrabirawa, atas permintaan Presiden Soekarno dan Komandan Cakrabirawa, ataukah atas penugasan Komandan Kostrad sebagai induk pasukannya?

Begitu pula dalam sejarah resmi digambarkan adanya perwira- perwira Angkatan Darat yang berhasil dipengaruhi oleh tokoh-tokoh sipil dari PKI. Untuk itu perlu ditelusuri tipologi ”kedunguan” dari perwira Angkatan Darat yang begitu mudah dipengaruhi dan digerakkan oleh orang sipil.

Garis komando yang sering dipujikan dalam lingkungan militer dapat diambil alih oleh orang sipil, yang notabene dalam buku sejarah dan film Arifin C Noer orang ini tidak jelas posisinya dalam kepengurusan PKI.

Satu Oktober 1965 dapat dijadikan titik tolak dalam penelusuran sejarah bangsa.

Siapa tahu kita akan sampai pada kesimpulan bahwa dengan terbunuhnya para pahlawan revolusi, yang kemudian disusul pembunuhan massal (belasan, puluhan, ratusan ribu korban rakyat Indonesia, yang mana pun bilangannya, perlu verifikasi) akibat eksploitasi konflik horizontal yang bersifat laten dalam masyarakat, maka kita memang sangat layak punya Hari Perkabungan Nasional.

Perkabungan untuk suatu bangsa yang sanggup membunuhi sesama manusia tanpa rasa bersalah.

01 October 2018

sumber : www.cnnindonesia.com

Rama Shinta - Korban tewas akibat gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah saat ini mencapai 832 orang. Untuk sementara korban tewas terbanyak di Palu yakni 821 orang. Sementara di Donggala 11 orang.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwonugroho mengatakan, jumlah korban ini diterima dari petugas di lapangan meski jaringan komunikasi belum sepenuhnya pulih.


"Meski akses terputus kami dapat laporan dari PMI (Palang Merah Indonesia) pusat di Donggala ditemukan 11 meninggal akibat bangunan roboh dan tsunami," kata Sutopo di Jakarta, Minggu (30/9).

Korban tewas yang ditemukan dimakamkan secara massal karena pertimbangan kesehatan. Mereka yang dimakamkan setelah bisa diidentifikasi.


Sementara untuk korban luka ratusan orang dan pengungsi mencapai belasan ribu orang. Dalam keterangan terakhir, BNPB menyebut korban luka 540 orang dan pengungsi 17 ribu orang.


Jumlah korban tewas ini menurut Sutopo ada kemungkinan akan terus bertambah karena banyak jenazah yang belum teridentifikasi.

"Kondisi di sana masih banyak jenazah yang belum terindetifikasi. Korban yang kena reruntuhan juga masih banyak, itu meneybabkan jumlah korban akan terus bertambah," katanya.

28 September 2018

sumber : tribunnews.com

 

"Informasi yang dipersepsikan sebagai sumber pengetahuan mulai dikhawatirkan sebagai sumber kecemasan. Lubernya informasi tidak lain berarti bahwa ada jenis informasi yang bukan saja tidak sempat diolah akan tetapi juga sama sekali tidak mungkin dipakai.”

Jakob Oetama

 

 

Rama Shinta - Tahukah Anda, berapa berita yang diunggah media online dalam satu hari?

Satu media online arus utama di Indonesia setidaknya mengunggah 400 hingga 2.500 berita per hari. Itu baru satu media online.

Berapa media online yang kerap Anda sambangi dalam satu hari?

Lantas, berapa berita yang Anda baca dalam satu hari? Mungkin tak sampai 10 berita.

Meski jumlah berita dalam satu hari mengalir deras, namun media tak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi bagi masyarakat.

Ada media sosial yang acapkali malah lebih cepat memberikan informasi atas sebuah peristiwa.

Konon, ada 6.000 twit di Twitter setiap detiknya.

Sementara di Facebook, media sosial paling populer di Indonesia, memproduksi 293.000 status setiap 60 detik.

Ada 2,2 miliar orang di seluruh dunia aktif setiap hari di media sosial buatan Mark Zuckerberg itu.

Jangan lupakan video. Setiap menit, 300 jam video diunggah ke Youtube.

Absolutely, informasi kini mengalir bak air bah. Banjir. Luber, melebihi kemampuan kita untuk menyerapnya.

Segala informasi itu bahkan kini datang mengunjungi ruang-ruang personal kita di layar ponsel dan laptop, menyusup dalam pesan broadcast di Whatsapp atau Line.

Cilakanya, kita seringkali tidak tahu apakah informasi yang datang benar atau salah.

Era banjir informasi sekaligus juga merupakan era ketidakpastian informasi.

Ironis, di era digital, ketika informasi melimpah banyak, kebenaran justru menjadi sesuatu semakin tidak pasti, kata Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, kritikus media dalam bukunya Blur.

Alih-alih memberi kepastian, media tradisional, yang dulu menjadi the guardian angle of information, tak sedikit yang terpeleset mengamplifikasi ketidakpastian semata-mata demi kepentingan komoditas informasi.

Informasi malah menjadi sumber kecemasan baru.

 

Jurnalisme Makna

Bagaimana media seyogianya menempatkan diri di era banjir informasi?

Pendiri harian Kompas Jakob Oetama jauh-jauh hari bicara soal jurnalisme makna.

Ia menyampaikan gagasannya ini saat dikukuhkan sebagai doktor kehormatan Universitas Gadjah Mada pada 17 April 2003.

“Informasi yang dipersepsikan sebagai sumber pengetahuan mulai dikhawatirkan sebagai sumber kecemasan. Lubernya informasi tidak lain berarti bahwa ada jenis informasi yang bukan saja tidak sempat diolah akan tetapi juga sama sekali tidak mungkin dipakai,” kata Jakob dalam pidatonya.

Menurut dia, seorang wartawan seyogianya tidak hanya memberitakan sebuah peristiwa, tapi masuk lebih jauh menggali apa makna dari peristiwa itu.

“Seorang wartawan harus mampu mengambil jarak atas peristiwa yang ditulisnya dan menarik sebuah refleksi atas peristiwa tersebut. Dengan begitu, pembaca mendapatkan enlightment atau pencerahan,” tutur Jakob.

Tugas media, ia menegaskan, adalah mencari dan menghadirkan makna dari peristiwa dan masalah, besar dan kecil.

Pencarian makna itu berpedoman pada politics of values, yaitu tentang apa yang baik dan tidak baik, penting dan tidak penting, bukan politics of power, politik kekuasaan atas dasar kepentingan kelompok atau segelintir orang.

Oleh karena itu, jurnalis dituntut untuk tidak sekadar membuat laporan, tapi laporan yang komprehensif yaitu laporan yang berusaha memaparkan seluruh persoalan berikut aneka macam latar belakang, interaksi serta prosesnya.

“Reportase faktual yang memisahkan fakta dan opini berkembang sebagai reportase interpretasi, reportase yang mendalam, yang investigatif dan reportase yang komprehensif. Bukan sekadar fakta menurut urutan kejadiannya, bukan fakta secara linear, melainkan fakta yang mencakup. Dicari interaksi tali temalinya. Diberi interpretasi atas dasar interaksi dan latar belakangnya. Ditemukan variabel-variabelnya. Dengan cara itu berita bukan sekadar informasi tentang fakta. Berita sekaligus menyajikan interpretasi akan arti dan makna dari peristiwa,” kata Jakob.

Gagasan Jurnalisme Makna yang disampaikan Jakob sangat relevan di era banjir informasi ini.

Media seyogianya menjadi batu penjuru, tempat masyarakat mendapat kepastian. Media harus memberi jawab, mencerahkan, menjelaskan duduknya perkara.

 

Legacy

Itulah salah satu warisan Jakob Oetama yang hari ini berulangtahun ke-87.

Ia lahir di Desa Jowahan, 500 meter sebelah timur Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, pada 27 September 1931.

Jurnalisme makna hanya satu dari banyak gagasan lain tentang jurnalisme yang selama ini dipraktikkan di harian Kompas, Kompas.com, dan Kompas TV.

Warisan nilai yang dihidupi Jakob tidak hanya menjadi tonggak bagi jurnalisme yang digeluti para wartawan Kompas dan grup Kompas Gramedia tetapi juga warisan yang mewarnai perjalanan jurnalisme Indonesia.

Jakob tidak meninggalkan sebuah warisan nilai dalam sebuah tuturan yang sistematis.

Beragam pandangan dan gagasannya tentang jurnalisme dan menjadi wartawan disampaikannya secara lisan dalam sejumlah kesempatan saat berinteraksi dengan wartawan-wartawannya.

Kumpulan catatan tentang warisan nilai itu bisa dilihat selengkapnya pada edisi Visual Interaktif Kompas (VIK) The Legacy.

Selamat ulang tahun Pak Jakob.

25 September 2018

sumber : cnnindonesia.com

Rama Shinta - Upaya untuk memastikan keberlanjutan (sustainability) sektor ketenagalistrikan di Indonesia maupun Asia Tenggara terus dilakukan. Hal ini dilakukan karena sektor ketenagalistrikan merupakan salah satu penggerak perekonomian dan pembangunan.

"Keberlanjutan sektor ketenagalistrikan adalah salah satu penggerak utama perekonomian dan pembangunan nasional Indonesia," ujar Ketua Umum Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) Supangkat Iwan Santoso dalam keterangan tertulis, Rabu (19/09/2018).

Iwan mengatakan, untuk memastikan keberlanjutan pasokan listrik nasional, dipelukan juga peran ganda dari pihak swasta dan pemerintah.

"Peran pihak swasta dan pemerintah sangatlah penting dalam memastikan keberlanjutan pasokan listrik di seluruh Indonesia. Kecukupan pasokan listrik akan memastikan industri tumbuh dengan baik di daerah perkotaan dan daerah terpencil (akses komunikasi, penerangan dan transportasi) agar bisa meningkatkan pendapatan negara," lanjut dia.

Iwan melanjutkan pemenuhan kebutuhan listrik sangat tergantung pada ketersediaan energi yang dibutuhkan agar sinergi pemanfaatan energi fosil (batu bara, gas bumi dan minyak bumi) dan energi terbaru bisa menjamin keberlanjutan pertumbuhan sektor ketenagalistrikan di Tanah Air.

Oleh karena itu, untuk memperingati Hari Listrik Nasional (HLN) ke-73, MKI bersama PennWell sebagai perusahaan penyelenggara pameran internasional mengadakan konferensi dan pameran bertajuk 'Hari Listrik Nasional (HLN) ke-73 POWER-GEN Asia 2018'.

Berlokasi di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang Selatan, acara ini dibuka langsung oleh Menteri Koordinator  Perekonomian Indonesia Darmin Nasution. Rencananya, acara ini akan berlangsung hingga 20 September 2018 mendatang.

Pameran Ketenagalistrikan Jadi Ajang Menjaga Energi Listrik
(Foto: dok. MKI)

Untuk informasi, POWER-GEN Asia ini sudah berjalan selama 25 tahun lamanya. Pada forum khusus bagi para pelaku industri tenaga listrik Asia ini, lebih dari 75 negara bertukar ide, melakukan kerja sama bisnis, sampai memperkuat koneksi global Indonesia di sini.

Sedangkan HLN yang merupakan acara tahunan MKI dilakukan sebagai upaya mendukung program kelistrikan nasional pemerintah Indonesia.

Hal ini juga sesuai dengan komitmen PennWell yang menjaga keberlangsungan ajang ini di masa mendatang untuk memastikan konsistensi berkumpulnya sejumlah pakar, praktisi dan regulator sektor ketenagalistrikan dalam mendiskusikan upaya ideal demi mendorong keberlangsungan sektor ketenagalistrikan nasional.

Dengan diadakannya acara ini, Irwan meyakini pertemuan berskala internasional dan interaksi dengan 250 perusahaan dan organisasi serta puluhan peserta di Paviliun Indonesia ini akan berhasil menarik para investor lokal maupun internasional.

Hal itu menandakan, pemangku kepentingan memiliki tingkat kesadaran yang tinggi dalam mendukung inisiatif terkait perkembangan sektor ketenagalistrikan nasional.

Pada kesempatan berbeda, Direktur POWER-GEN Asia Dr. Heather Johnstone ikut mengatakan, ketersediaan energi demi keberlanjutan sektor ketenagalistrikan harus sesuai dengan kecepatan peningkatan kebutuhan energi nasional.

"Menjamin ketersediaan energi bagi keberlanjutan sektor ketenagalistrikan harus sesuai dengan kecepatan peningkatan kebutuhan energi nasional, seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk.

Ketersediaan energi memegang peranan penting dalam mendukung pembangunan perekonomian negara," kata dia.

Dikatakan dia, PennWell merasa terhormat dapat bekerja sama dengan MKI dalam penyelenggaraan acara ini.

PennWell juga memberikan pemahaman lebih dalam, pada para pemangku kepentingan agar menindaklanjuti pengembangan sektor ketenagalistrikan Indonesia dengan langkah nyata.

"Diharapkan kemitraan Power-GEN Asia dengan HLN ini bisa menarik lebih banyak lagi mitra industri dan investor nasional maupun internasional," pungkas dia.

24 September 2018

sumber : cnnindonesia.com

Rama Shinta -  Warganet mencuitkan soal kesejahteraan petani di tengah persoalan impor beras pada Hari Tani Nasional pada 24 September. Hari Tani Nasional menjadi salah satu topik yang diperbincangkan di Twitter dengan #HariTaniNasional.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan dan Badan Urusan Logistik (Bulog) berbeda pendapat soal impor beras. Kementerian menilai impor beras dilakukan terkait dengan kebutuhan domestik, sementara Bulog bersikeras impor tak perlu karena stok beras cukup.

Rio Surya Pratama yang memiliki akun @shure_ea menyatakan nasib kesejahteraan petani harus diperhatikan. Warganet lainnya juga mengkritik soal impor beras yang masih dilakukan hingga persoalan alih fungsi lahan.


View image on Twitter
Rio Surya Pratama@shure_ea
 
 

Selamat dan semoga nasib para Petani Indonesia lebih diperhatikan lagi. Beli gabah2 mereka dg harga yg pantas. Kaji kembali rantai distribusinya. Stop impor disaat panen raya dan stok melimpah.

 

Monster Timeline@hurufusang
 
 

Selamat hari buku tapi tak membaca. Selamat hari bumi tapi tak menanam.
Selamat tapi beras masih impor.
Selamat hari apa tapi tak melakukan apa-apa.

Apa masih selamat?

Jaringan Advokasi Tambang
 
@jatamnas
 
 

Refleksi itu mesti mulai dari persoalan paling mendasar: Tanah sebagai sumber pangan Indonesia.

Pangan (seperti Padi) tidak bisa tumbuh berdampingan dg batubara dan perkebunan sawit.

JATAM Kaltim@jatamkaltim
 

Konsesi batubara mencakup 19% dr wilayah cocok tanam padi yg ada serta 23% dr lahan yg dpt dipertuntukkan bagi penanaman padi baru. Sebanyak 15% dr tanah yg dialokasikan utk kelapa sawit jg terancam dibongkar & ditambang utk batubara. http://www.jatam.org/2017/05/05/hungry-coal-pertambangan-batu-bara-dan-dampaknya-terhadap-ketahanan-pangan-indonesia/ #HariTaniNasional.

 

 



Akun lainnya juga menuturkan petani adalah profesi yang harus dimuliakan.

Fatamorgana@abdul_khadier
 
 

Kmi bkan menginginkan hidup mewah dan WAH.
Kami tak btuh kalimat pujian "MULIAKAN PETANI"
Yg kmi inginkan hnya Pemerintah memperhatikan kami, di saat panen raya, harga panen kami sesuai dgn jerih payah yg kami lakukan berbulan2 lamanya.

 

J. Herry@JH_talk_2_U
 
 

Sekedar mengingatkan hari ini , namun ketika produksi petani banyak, Impor gula, impor beras masih terus berlanjut.
Begitukah cara mengangkat harkat petani ? Begitukah cara mensejahterakan petani

 

 

TR@Taufik_Rahman
 
 

buat para petani , jangan jual tanah dan sawah nya, saya masih doyan nasi . .

 

 

Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat konflik tanah masih terus meningkat. KPA mencatat ada 659 konflik agraria sepanjang 2017. Angka itu meningkat jika dibandingkan 2016 yang mencapai 450 konflik.

Konflik sepanjang 2017 terjadi di lahan seluas 520.491 hektare dan menyebabkan sedikitnya 652.738 kepala keluarga terdampak.

Sektor perkebunan masih menjadi penyumbang utama konflik agraria di Indonesia dengan 208 konflik atau 32 persen. Jenis perkebunannya mulai dari perkebunan eks kolonial Belanda hingga perkebunan modern.
24 September 2018

sumber : cnnindonesia.com

Rama Shinta - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat sejumlah kota di Indonesia akan mengalami fenomena hari tanpa bayangan atau kulminasi pada pertengahan September hingga akhir Oktober mendatang.

Posisi Indonesia yang berada di sekitar ekuator membuat kulminasi di beberapa wilayah terjadi hingga dua kali dalam setahun. BMKG mencatat fenomena hari tanpa bayangan terjadi mulai dari 10 September di Banda Aceh dan berakhir pada 20 Oktober di Kupang.

September-Oktober Sejumlah Kota akan 'Kehilangan' BayanganInfografis. (CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)

 


Mengenal Kulminasi


Kulminasi atau transit atau istiwa merupakan fenomena ketika matahari berada tepat di posisi paling tinggi di langit. Saat deklinasi matahari sama dengan lintang pengamat, fenomen ini dinamakan kulminasi utama.

Pada saat itu, matahari akan berada tepat di atas kepala pengamat atau di titik zeniat.


Saat terjadi kulimnasi, bayangan benda tegak akan terlihat 'menghilang' karena bertumpu dengan benda itu sendiri. Hal inilah yang menjadikan fenomena kulminasi dikenal juga dengan sebutan hari tanpa bayangan.

Fenomena hari tanpa bayangan terjadi lantaran pada tahun ini, matahari akan berada di khatulistiwa pada 20 Maret 2018 pukul 23.15 WIB dan 23 September 2018 pukul 08.54 WIB. Sementara pada 21 Juni 2018 pukul 17.07 WIB, matahari berada di titik balik utara dan titik balik selatan pada 22 Desember 2018 pukul 05.23 WIB.

Kulminasi utama di Indonesia akan terjadi hingga dua kali dalam setahun, yakni saat posisi matahari berada tidak jauh ketika berada di khatulistiwa.

24 September 2018

sumber : liputan6.com

Rama Shinta - Berdasarkan Laporan Indeks Pembangunan Pemuda tahun 2017 yang diluncurkan oleh Bappenas, Kemenko PMK dan Kemenpora, terdapat lima domain untuk menilai pembangunan pemuda, yaitu: pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan, lapangan dan kesempatan kerja, partisipasi dan kepemimpinan, serta gender dan diskriminasi.

Tahun ini, Yogyakarta memimpin IPP dengan nilai tertinggi dari 34 provinsi di Indonesia, dimana salah satu prestasi Yogyakarta adalah pencapaian domain kesehatan.

Pelibatan pemuda dalam pembangunan kesehatan menjadi prioritas yang saat ini tengah digencarkan oleh pemerintah.

Terlebih lagi, dengan komitmen pemerintah untuk mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di tahun 2030, pemuda tidak lagi menjadi objek pembangunan tetapi mereka adalah pelaku dari pembangunan. Hal ini yang diyakini oleh Diah Saminarsih, Advisor Gender and Youth in the Office of WHO Director General, yang pekan lalu hadir sebagai pembicara dalam Ruang&Tempo pada hari Kamis lalu dengan tema ‘Youth Engagement in Health’.

 

“Jika beberapa tahun yang lalu, organisasi internasional seperti WHO banyak menyalurkan bantuan ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia karena pada saat ini negara berkembang menghadapi tantangan kesehatan yang beragam, dan memiliki keterbatasan sumber daya. Saat ini, organisasi justru banyak perwakilan negara masing-masing untuk memahami seberapa jauh solusi yang dahulu sudah disampaikan itu menciptakan dampak. Yang tadi saya jelaskan itu sebenarnya cuma ‘konten’, untuk menjalankan konten tersebut kan kita butuh ‘operator’. Nah, pemuda-pemuda inilah yang nantinya akan menjadi operator,” ujar Diah.

 
 

Kampanye Kesehatan Kekinian

Pada acara tersebut, Ruang&Tempo juga mendatangkan narasumber-narasumber muda lain yang bergelut dalam bidang kesehatan, yaitu Hasna Pradityas, Co-Founder Smoke Free Agents, dan Gigih Septianto, Co-Founder startup WeCare.id.

Sama halnya seperti pembicara sebelumnya, Tyas juga mengakui pentingnya peran generasi muda dalam bidang kesehatan, khususnya dalam berpartisipasi melakukan upaya pengendalian tembakau.

Tyas bersama Smoke Free Agents berupaya menemukan medium informasi yang sesuai dengan pemuda diantaranya pembuatan mural, video dan tagar agar masyarakat tidak gampang bosan dengan bentuk kampanye yang sebagian besar dilakukan hanya dalam bentuk demonstrasi saja.

“Menurut saya, sangat penting bagi anak muda untuk mengetahui bahaya rokok. Oleh karena itu, saya juga mau mengajak anak-anak muda untuk berkontribusi dalam isu pengendalian tembakau,” kata Tyas.

Di era yang serba teknologi-sentris ini juga ternyata dimanfaatkan oleh beberapa anak muda sebagai wadah untuk menuangkan ide-ide kreatif. Salah satunya adalah Gigih, yang menciptakan sebuah start-up bernama WeCare.

WeCare sendiri adalah platform yang digunakan untuk menggalang dana bagi pasien-pasien yang kurang mampu dan tinggal di daerah yang sulit dijangkau.

Ia berharap bahwa dengan diciptakannya platform ini, masyarakat bisa dengan lebih mudah ikut berpartisipasi membantu pasien-pasien yang kurang mampu.

“Generasi muda adalah generasi change-maker atau pembawa perubahan yang nantinya akan dapat membantu menyelesaikan masalah-masalah yang ada dalam bidang kesehatan. Sehingga peran pemerintah serta masyarakat lainnya adalah untuk mendorong inisiatif pemuda,” tutup Diah.

21 September 2018

sumber : sindonews.com

Rama Shinta - Belasan mahasiswa asing mendatangi Kampung Samin di Dusun Blimbing, Desa Sambongrejo, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Mereka disambut hangat sesepuh Sedulur Sikep (Samin) Pramugi Prawiro Wijoyo.

Alunan musik kotekan lesung yang dimainkan para wanita Samin, turut mengiringi kedatangan mereka. Mahasiswa asing itu spontan ikut bergabung untuk mencoba kotekan lesung dengan antan (alu).

Pria Samin yang mengenakan pakaian serba hitam dengan ikat kepala hitam, kemudian mempersilakan mereka masuk ke sebuah bangunan pendapa. Meski sedikit terkendala bahasa, tak mengurangi keakraban mereka dengan warga.

Suasana kekeluargaan sangat terasa ketika para mahasiswa asing tersebut disuguhi sajian kuliner tradisional khas masyarakat Samin Sambongrejo. Tanpa canggung, mereka menikmati beragam makanan yang diberi alas daun pisang tersebut.


"Beginilah suasana Kampung Adat Samin di sini, semoga berkesan. Saya doakan semoga semuanya sehat dan selamat. Sami seger waras (sehat walafiat)," ujar Pramugi setelah memperkenalkan diri, Minggu (22/10/2017).

Rabeea Mond Manshor, mahasiswa dari Libya, mengaku senang bisa berkunjung ke Kampung Samin. Gadis cantik itu terkesan dengan sikap ramah warga dan beberapa kali diajak foto bersama oleh penduduk Samin.
 
"Orang Indonesia baik, saya suka. Nanti foto saya dikirim lewat WhatsApp ya," ucapnya sambil memberi nomor telepon kepada warga.

Para mahasiswa asing itu berasal dari Amerika, Uganda, Malaysia, Tanzania, Vietnam, Libya, Rwanda, Timor Leste, Nigeria, Perancis, dan Etiopia. Turis yang masih berstatus sebagai mahasiswa asing program International Study Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini tiba di Blora pada hari Kamis, 19 Oktober 2017.

Rombongan diajak mengenali sejarah perminyakan dan seni budaya untuk mempromosikan potensi wisata yang ada di Kabupaten Blora. Setelah menyaksikan pertunjukan seni tradisional barongan, mereka mengunjungi kawasan Perhutani KPH Cepu.

Di lokasi ini terdapat benda bersejarah berupa loko uap buatan Jerman, peninggalan Belanda kepada masyarakat Blora dan sekitarnya. "Saya suka. Itu kereta lama yang unik," kata Moses Isdor Mgunda, mahasiswa dari Tanzania yang fasih berbahasa Indonesia.

Para mahasiswa asing itu kemudian diajak ke objek wisata edukasi sumur pengeboran minyak peninggalan Belanda di Desa Ledok, Kecamatan Sambong. Mereka ditunjukkan sumur minyak pertama di Indonesia yang dieksploitasi oleh Belanda.

Perjalanan menempuh kawasan hutan jati dilanjutkan melihat aktivitas para penambang minyak di sumur 142 dan sumur 98 yang dikelola oleh Pertamina. Para mahasiswa asing itu tertarik dan melihat dari dekat proses menimba minyak dari kedalaman sumur 600 meter. Selain itu, mereka juga melihat dari dekat sumur angguk yang ada di kawasan setempat.

"Kami mengapresiasi kedatangan para mahasiswa ke Blora. Selamat datang, ini baru sebagian yang bisa ditampilkan Kabupaten Blora. Tentu saja bisa lebih dikenalkan dan dipromosikan melalui agen wisata," ujar Wakil Bupati Blora Arief Rohman.

19 September 2018

sumber : detik.com

Rama Shinta - Tudingan Ratna Sarumpaet soal pemblokiran dana bantuan Papua Rp 23 triliun oleh pemerintah, ditepis oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Menurut Kemenkeu, pihaknya tak mengatur kebijakan rekening atas nama pribadi.

"Kementerian Keuangan tidak mengatur kebijakan mengenai rekening atas nama pribadi," kata Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu, Nufransa Wira Sakti, saat dikonfirmasi detikcom, Selasa (17/9/2018) malam.


"Kami juga sudah bertanya kepada pihak World Bank, mereka tidak berhubungan dengan rekening perseorangan/pribadi. Jadi yang dinyatakan oleh Ratna Sarumpaet adalah tidak benar," tegasnya.

Kemenkeu meminta nasabah yang mengaku kehilangannya uangnya di salah satu bank di Indonesia senilai Rp 23,9 triliun, padahal sudah ditransfer oleh World Bank, mengecek langsung ke bank yang bersangkutan.

"Bila memang ada uang pada rekening bank tersebut, silakan dicek langsung dan ditanyakan kepada bank yang bersangkutan," tutur Nufransa.

Sebelumnya, seorang bernama Ruben PS Marey mendatangi Ratna Sarumpaet Crisis Center (RSCC) dan menduga dana di rekeningnya untuk bantuan papua telah diblokir sepihak.

Ratna menduga pemblokiran dilakukan pemerintah melalui salah satu bank tempat Ruben menaruh dana tersebut.

"Dana ini untuk swadaya pembangunan di Papua. Kasus ini mempunyai tendensi juga melakukan pelanggaran keuangan," kata Ratna di Gedung DPR RI, Senayan, Senin (17/9).

Ruben menjelaskan, persoalan ini bermula dari dia yang menerima gelontoran dana dari para donatur untuk membangun Papua. Dana dengan total Rp 23,9 triliun itu tersimpan sejak tahun 2016 dalam rekening pribadinya.


Namun, kata Ruben, tiba-tiba dana di rekeningnya tersebut hilang. Saat dikroscek ke bank tempat Ruben menyimpan uang itu, tak ada catatan uang masuk dalam rekeningnya.

"Kemudian kami mendapatkan print out rekening kami dan faktanya kosong tetapi laporannya World Bank itu sudah masuk ke rekening kami ini kami melihat kejanggalan-kejanggalan yang terjadi," kata Ruben, Senin (17/9).

Ruben mengatakan, hal itu kemudian sudah dikroscek kembali ke World Bank. Namun, pihak World Bank mengatakan, yang telah sukses terkirim ke rekening Ruben pribadi.

Page 2 of 13

Tentang Kami