Live Streaming
Thursday, 23 April 2020 08:02

Kartu Prakerja Bangun Kembali Produktivitas Masyarakat di Masa Pandemi

Jakarta - Dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini, Program Kartu Prakerja tak hanya ditujukan bagi mereka yang belum mendapatkan pekerjaan, melainkan juga untuk para pekerja yang dirumahkan akibat pandemi ini.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian M. Rudy Salahuddin menuturkan bahwa jumlah pendaftar yamg kini mencapai 7,6 juta orang merupakan awal yang bagus untuk mengidentifikasi kelompok baru yang belum dikelompokkan dalam bantuan sosial (bansos) mana pun.

“Sebab, bansos yang pemerintah siapkan (hanya) kepada 25% masyarakat terbawah yang dilihat berdasarkan aksesnya terhadap keuangan, namun sekarang ada kelompok baru akibat pandemi Covid-19 yang dalam waktu beberapa minggu terakhir (menjadi) dirumahkan. Kita dorong kelompok yang baru diidentifikasi ini bisa inklusif dalam program ini,” tuturnya dalam Konferensi Pers tentang Update Kartu Prakerja, di Jakarta, Rabu (22/4).

Saat ini telah terpilih sebanyak 168.111 orang sebagai peserta Gelombang I. Mereka telah melalui beberapa layer verifikasi data, mulai dari verifikasi email, nomor ponsel, NIK, usia, riwayat pendidikan, sampai facial recognition melalui foto selfie yang telah dilakukan masing-masing peserta.

Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja Denni Puspa Purbasari menyampaikan, memang jumlah tersebut masih berada di bawah target 200 ribu peserta per gelombang setiap minggu. Namun, hal itu dikarenakan proses verifikasi satu layer lanjutan lagi, guna memastikan bahwa anggaran pemerintah betul-betul turun kepada yang membutuhkan.

“Kami masih menunggu arahan lanjutan dari Menko Perekonomian (untuk tambahan jumlah peserta), karena tim TI kami masih berproses. Sekarang kami konservatif dulu, nanti semua (jumlah peserta) akan ditambah, dengan sistem TI yang tentunya lebih baik lagi. Ke depan, kami akan mengembangkan sistem khusus dengan lembaga-lembaga keuangan yang jadi mitra kami, karena mereka punya sistem know your customer (KYC), jadi tidak perlu facial recognition lagi di awal. Tapi ini mungkin baru akan dilakukan di Gelombang 3,” jelasnya.

Denni pun menerangkan bahwa saat ini sedang dilakukan proses transfer dana Kartu Prakerja kepada para peserta terpilih yang telah mendapatkan notifikasi SMS. Dana tersebut akan dimasukkan ke dalam rekening virtual BNI atau e-wallet LinkAja, Ovo atau GoPay milik masing-masing peserta. Dengan jumlah peserta terpilih yang cukup banyak, maka proses transfernya ditargetkan akan memakan waktu 3-5 jam. Per pukul 17.36 WIB tadi, telah ada sekitar 64.251 peserta yang sudah ditransfer dananya.

“Dana yang telah ditransfer, sejumlah Rp1 juta silakan dibelanjakan untuk modul pelatihan pertama. Peserta diberi waktu maksimal 1 bulan untuk mempertimbangkan dan memilih pelatihan yang dibutuhkan dari berbagai platform itu. Bagi mereka yang sudah dapat bantuan, tapi tidak membeli modul dalam 1 bulan, maka anggarannya akan hangus dan diberikan kepada yang lain. Untuk yang Rp600 ribu akan diberikan setelah peserta menyelesaikan pelatihan pertama, dan ini akan diberikan selama 4 bulan (total Rp2,4 juta),” ucapnya.

Pemerintah, tegas Denni, tidak memiliki penilaian tertentu terhadap digital platform yang dijadikan mitra. Karena pemerintah lebih berperan sebagai fasilitator yang menyediakan banyak menu pelatihan yang dapat dipilih oleh masing-masing peserta. Ada sekitar 1500 jenis pelatihan yang bisa dipilih peserta sesuai minat, kebutuhan dan preferensi masing-masing.

“Nanti ke depannya, (karena sekarang) kami ibaratnya bayi yang baru lahir, jadi kami terus belajar dari proses yang ada. Kami berjanji akan memperbaiki layanan kami, sehingga ke depannya (ditargetkan) akan ada menu untuk sorting harga dan rating pelatihan, bahkan nanti setelah pandemi berlalu akan bisa diukur jarak dari rumah, kalau sudah bisa pelatihan offline,” katanya.

Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja sebagai wakil pemerintah juga akan melakukan evaluasi terhadap penyedia dan pelatihan berdasarkan review dan rating yang diberikan masing-masing peserta setelah pelatihan. Caranya, masing-masing peserta harus mengisi survei paskapelatihan, dengan insentif Rp50 ribu per survei, untuk total tiga kali survei (sejumlah Rp150 ribu). (nck)

Read 76 times

Tentang Kami