Live Streaming
Tuesday, 04 September 2018 12:32

Jadi Pesaing Tuan Rumah Olimpiade 2032, Media India Minta Negaranya Belajar pada Indonesia

sumber : tribunnews.com

RAMA SHINTA - Indonesia sukses menyelenggarakan Asian Games 2018 dan hal itu juga diakui oleh pimpinan Organisasi Olimpic Asia serta Internasional Olimpic.

Saat bertemua dengan Presiden OCA Sheikh Ahmad Al-Fahad Al-Sabah serta Presiden IOC Thomas Bach di Jakarta, Presiden Joko Widodo mengungkapkan keinginan untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2032.

Masuknya Indonesia sebagai kandidat Olimpiade 2032 akan membuat persaingan semakin ketat karena saat ini, ada tiga negara yang sudah mengajukan penawaran.

 Negara tersebut adalah Australia, China dan India, yang sudah mengajukan penawaran. 

Australia pernah menjadi tuan rumah tahun 2000 sementara China juga sudah pernah menjadi Olimpiade 2008.

Bedanya, China kali ini menawarkan tempat di Shanghai, sementara sebelumnya digelar di Beijing sementara Australia menawarkan Brisbane.

Sementara India sama dengan Indonesia, belum sekalipun menjadi tuan rumah Olimpiade sehingga dua negara ini bisa dikatakan akan bersaing ketat.

Masuknya Indonesia sebagai salah satu kandidat membuat media India, The Tribune, ikut mengulasnya.

Media tersebut memuji penyelenggaran Asian Games 2018 yang sukses, bahkan meminta India dan negara-negara lain yang ingin menyelenggarakan acara multi-olahraga untuk belajar ke Indonesia.

Menurut The Tribune, pernyataan Presiden OCA Sheikh Ahmad Al-Fahad Al-Sabah pada upacara penutupan Asian Games 2018 adalah isyarat bahwa OCA akan mendukung langkah besar Indonesia sebelumnya.

Meskipun tidak langsung menyebutkan Olimpiade Musim Panas, namun Al-Fahad mengatakan bahwa Indonesia layak untuk menjadi tuan rumah bagi acara olahraga penting di masa depan.

Menurut The Tribune, ada sejumlah hal yang membuat Indonesia begitu luar biasa.

Pertama, biasanya waktu yang diberikan ke tuan rumah untuk mempersiapkan diri hingga pembukaan Olimpiade adalah tujuh tahun.

Tetapi Indonesia ternyata bisa mempersiapkannya dengan baik hanya dalam waktu tiga tahun saja setelah Vietnam mundur setelah memenangkan tender.

Meskipun ada kendala waktu, panitia penyelenggara Indonesia (INASGOC) dan pemerintah bisa mempersiapkan organisasi Asian Games 2018 dengan baik.

Kedua, pemakaian anggaran yang minimal, tetapi bisa meraih hasil maksimal.

INASGOC sebelumnya mengajukan anggaran AS $ 600 juta untuk menyelenggarakan Asian Games, sama dengan anggaran Asian Games Incheon 2014.

Namun, anggaran itu dipangkas oleh pemerintah menjadi AS$ 300 juta. Setelah negosiasi, pemerintah meningkatkannya menjadi lebih dari $ 350 juta.

Menurut The Tribune, pemerintah dan INASGOC berhasil mendapat dukungan dari sejumlah sponsor, termasuk BUMN yang all out mendukung suksesnya pesta olahraga terbesar kedua di dunia ini.

Tidak semua bantuan dalam bentuk uang, tetapi juga dalam bentuk fasilitas. Dicontohkan, Perusahaan Listrik Negara memasok listrik gratis ke semua tempat penyelenggaraan.

Hal lain yang dicatat oleh media tersebut adalah kemampuan Indonesia untuk menyelenggarakan Asian Games 2018 di dua kota dan semuanya terorganisasi dengan baik.

Ini adalah untuk pertamakalinya kejuaraan olahraga multi-event dilaksanakan di dua kota. Sebelum ini baru dilakukan untuk sepakbola seperti Piala Eropa yang digelar di Ukraina-Polandia serta Piala Dunia Korea-Jepang.

Penampilan Super Junior di acara penutupan (closing ceremony) Asian Games 2018
Penampilan Super Junior di acara penutupan (closing ceremony) Asian Games 2018 (screenshot vidio.com)

Menurut Tribune, dibanding Olimpiade Rio, penyenggaraan Asian Games 2018 sebenarnya jauh lebih kompleks. 

Di Rio hanya mempertandingan 26 cabang olahraga sementara di Indonesia mempertandingkan 40 cabang olahraga dan semuanya digelar di tempat yang layak dan representatif.

Selain itu, ada tiga "ancaman" menjelang Asian Games 2018, yakni terorisme, kejahatan serta lalulintasnya yang terkenal buruk.

Namun, tiga masalah tersebut bisa teratasi dengan organisasi yang luar biasa dari semua pihak.

The Tribune juga sempat mewawancarai Ketua INASGOC Erick Thohir tentang suksesnya Asian games 2018.

"Semua orang mendukung, itulah kuncinya. Seluruh Indonesia menjadi satu dan mendukung Asian Games. Kami punya rencana sejak Maret 2016. Sebagai organisasi kami memastikan akan menerapkan rencana itu. Kami juga memiliki talenta terbaik untuk mendukung Olimpiade. Apakah semuanya bekerja? Tidak 100 persen. Tapi kami mencoba menyelesaikan masalah dan tidak lari dari masalah itu," kata Erick Thohir.

Keberhasilan pementasan dari Games, yang terjadi untuk pertama kalinya di Indonesia sejak 1962, juga telah memberi negara kepercayaan untuk menawar untuk Olimpiade 2032.

Besarnya perhatian terhadap Indonesia juga dibandingkan dengan Olimpiade Rio oleh New York Times.

Media Amerika Serikat tersebut mengingatkan agar Indonesia tidak terjebak pada isu korupsi seperti di Brasil.

Kala itu Brazil mengeluarkan anggaran sekitar A$20 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp 295 triliun untuk ajang olahraga terbesar di dunia itu.

Menurut media tersebut, masalah korupsi juga dikhawatirkan akan terjadi di Indonesia jika menjadi tuan rumah Olimpiade 2032.

Jaga momentum

Ketua Komite Olimpiade Internasional Thomas bach berfoto bersama Presiden Joko Widodo di Istana Negara bersama sejumlah menteri, usai membahas Asiasn games 2018
Ketua Komite Olimpiade Internasional Thomas bach berfoto bersama Presiden Joko Widodo di Istana Negara bersama sejumlah menteri, usai membahas Asiasn games 2018 (Dok Sekretariat kabinet RI)

Selain OCA, Presiden IOC juga memberikan sinyal yang baik bagi Indonesia.

Presiden IOC Thomas Bach, selain bertemu dengan Presiden Jokowi, juga menyaksikan glamornya acara penutupan Asian Games 2018.

Bach mengatakan, Indonesia memiliki sarana yang tepat untuk menjadi tuan rumah acara multi-olahraga terbesar di dunia.

“Dengan keberhasilan Asian Games ini, Indonesia telah meletakkan fondasi yang sangat kuat untuk pencalonan tersebut,” kata Bach seperti dilansir AFP.

“Anda dapat melihat bahan-bahannya di sana, Anda melihat bangsa muda yang antusias. Bergairah tentang olahraga, bekerja dengan efisiensi tinggi dalam organisasi ... Jadi, saya pikir, ini akan menjadi pencalonan yang sangat kuat. ”

“Saya pikir, apa yang penting sekarang bagi Indonesia adalah menjaga momentum Olimpiade ini dan tidak jatuh ke lubang hitam setelah semua orang pergi,” katanya.

Sebelumnya, Presiden Federasi Atletik Internasional (IAAF) Lord Sebastian Coe memuji kesiapan Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 2018.

Coe juga hadir di Jakarta dan mengaku terpukau dengan Stadion Utama Gelora Bung Karno di Senayan, Jakarta, yang menjadi venue atletik.

Pria peraih emas Olimpiade Moskow 1980 dan Los Angeles 1984 itu juga memuji area latihan dan pemanasan di Stadion Madya, Senayan.

"Indonesia memiliki fasilitas kelas dunia dan fasilitas yang dimiliki sama dengan yang dimiliki negara-negara lain di dunia yang telah menggelar ajang-ajang internasional," kata Lord Coe seperti dilansir BolaSport.com.

Pria yang juga anggota parlemen Inggris ini menyebutkan bahwa posisi Indonesia di peta atletik Asia dan dunia memang masuk dalam sorotan IAAF.

"Indonesia telah melakukan perkembangan yang baik dalam atletik dan kami tentu memberikan dukungan," tutur pria berusia 61 tahun itu.

Kantor AFP menyebut, Indonesia telah melebihi ekspektasi sebagai tuan rumah Asian Games karena mampu menjadi tuan rumah bagi 17.000 atlet dan ofisial dengan baik.

Sebelumnya, menurut AFP, Indonesia pernah menjadi tuan rumah SEA Games 2011 namun diwarnai dengan skandal korupsi, penundaan serta banyaknya properti yang dibangun sia-sia.

Read 76 times

Tentang Kami