Live Streaming

sumber : detik.com

Rama Shinta - Mayat pria yang ditemukan dicor dalam drum di Sukoharjo hingga saat ini masih misterius. Polisi menduga mayat tersebut merupakan korban pembunuhan.

"Dilihat dari kondisinya saat ditemukan, kemungkinan memang korban pembunuhan. Tapi akan kita dalami lagi," ujar Kapolsek Grogol, AKP Dani Herlambang saat dihubungi detikcom, Minggu (28/10).

Korban ditemukan sudah menjadi tulang belulang, Jumat (26/10) sore. Kondisi mayat berada di dalam drum yang satu sisinya ditutup seng, sisi lainnya ditutup cor semen.

Diwawancara terpisah, Kasubbag Hukum dan Humas RSUD dr Moewardi, Eko Haryati mengungkapkan hasil pemeriksaan tim dokter.


"Usianya di atas 25 tahun, tetapi di bawah 60 tahun. Jenis kelaminnya laki-laki," kata Eko saat dihubungi detikcom, Sabtu (27/10).

Pemeriksaan dilakukan oleh dua orang dokter forensik RSUD dr Moewardi dan petugas Polsek Grogol. "Pemeriksaan dilakukan tadi (Sabtu) pukul 09.00 sampai 11.00 WIB," kata dia.

Eko juga mengungkapkan, dokter tak menemukan trauma pada tulang korban.


"Kita periksa dari kepala sampai kaki, semua utuh, tidak ada kerusakan. Kalau penyebab kematian itu yang memproses kepolisian," ujarnya.

Kanit Reskrim Polsek Grogol, Iptu Siswanto menjelaska bahwa cor semen tidak mengubur seluruh badan korban. Cor semen itu, kata Siswanto menjadi penutup di salah satu sisi drum.

Pantauan detikcom, ukuran cor semen cukup besar, yakni berdiameter 40 cm dan tingginya 30 cm. Cor semen itu memang sengaja tidak dibawa oleh aparat.

Polisi yang melakukan olah TKP untuk kedua kalinya pada Sabtu (27/10) kembali menemukan tulang belulang.


iswanto, mengaku mendapatkan informasi dari warga bahwa masih ada tulang yang belun terangkut. Polisi ingin mengecek kebenaran info itu.

"Kita mendapatkan informasi dari warga, ternyata memang betul ada tulang yang belum terambil," kata Siswanto lokasi penemuan mayat, di jembatan Desa Pondok, Grogol, Sukoharjo.

Seperti diberitakan sebelumnya, mayat tersebut pertama kali ditemukan oleh pemulung, Muji Agung, yang sedang mencari barang rongsokan di bawah jembatan. Muji mengungkapkan mayat yang sudah tinggal kerangka itu kasih mengenakan kaus lengan panjang. "Di dalam drum ada selimut, mayatnya pakai kaus lengan panjang lorek, sama pakai celana dalam pria," kata Muji.

sumber : poskotanews.com

Rama Shinta – Kasus pembunuhan sekeluarga yang terdiri dari sepasang suami isteri dan dua anaknya di Huta Janjimauli, Desa Tambun Sukkean, Kecamatan Onan Runggu, Kabupaten Samosir, Sumut, kemarin siang, masih dalam penyelidikan aparat kepolisian.

Keempat korban yakni James Samosir (32), Rosalina br Gultom (29) dan dua anaknya Rauli Agnes br Samosir (5), serta Fransiskus Esodorus Samosir (2).

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Tatan Dirsan Atmaja, Kamis (25/10/2018), mengatakan saksi yang pertama kali menemukan korban adalah Jhonson Sinaga, tetangga korban.

Sekitar pukul 10.00 Wib, Jhonson merasa curiga karena kerbau milik korban masih berada di bara bagian bawah rumah adat Batak Toba. Kemudian, Jhonson, memberitahukan hal tersebut kepada tetangga sekitar rumah korban. Ketika itu juga aparat desa atasnama Leo Sinaga bersama dengan Darwis Simanjuntak melihat dari celah rumah korban, namun tidak kelihatan apa yang terjadi di dalam rumah tersebut.

Akhirnya, mereka menuju jendela dapur rumah korban dan menarik jendela tersebut. Saksi dan warga melihat korban James Samosir tergeletak di depan pintu kamar mandi dalam posisi telungkup dan telanjang.

Lalu, warga menghubungi  Robert Sinaga, Kepala Desa setempat. Setibanya di lokasi, Kepala Desa menyuruh seorang warga untuk masuk ke dalam rumah korban melalui jendela dapur. Warga dan Kepala Desa masuk setelah pintu rumah korban terbuka.

“Rosalina Gultom dan dua anaknya Rauli Agnes Samosir, Fransiskus Isodorus Samosir, ditemukan tewas di dalam kamar dengan kondisi terlentang.  Kondisi ruang tamu berceceran darah,”sebut Tatan.

Tak lama kemudian, aparat kepolisian setempat turun ke lokasi dan melakukan identifikasi. Kapolres Samosir AKBP Agus Darojat menyebutkan  petugas mengamankan barang bukti diantaranya pisau, sarung berlumuran darah, pakaian anak-anak korban, satu batang balok kayu berukuran 1 meter dan botol racun hama merk gramoxone.

“Setelah dilakukan Identifikasi ke empat mayat korban dibawa ke RSUD Hadrianus Sinaga Pangururan untuk selanjutnya di bawa ke RS Bhayangkara Medan untuk dilakukan autopsi,” papar Tatan.

Menurut keterangan warga, masih kata Tatan, hubungan rumah tangga korban dalam 6 bulan terakhir sudah tidak harmonis yang ditandai dengan istri korban bersama dengan anaknya sering pergi dan menginap di rumah orang tua korban Rosalina.

Terlebih, pekerjaan dari korban James Samosir adalah penderes tuak. Hasil penjualan tuak tersebut selalu di terima isterinya. Kondisi fisik korban Rosalina Gultom juga  adalah Tunawicara.

“Jadi tidak tertutup kemungkinan pelaku pembunuhan itu adalah korban James Samosir.  Usai membunuh isteri dan dua anknya, James bunuh diri dengan menyayat urat nadi tangan sebelah kiri dengan menggunakan pisau,” tutup Tatan.

sumber : tribunnews.co

Rama Shinta - Berakhir sudah kejahatan tiga pencuri handphone berinisial CN (44), F (33), dan SS (31) yang sudah beraksi selama enam bulan, sejak Mei 2018.

Ketiganya berhasil diringkus polisi pada 20 Oktober 2018 silam di Mega Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Penangkapan ketiganya berawal dari laporan seorang korban berinisial PBL yang kehilangan ponselnya ketika berada di sebuah restoran di Mega Kuningan.

Berdasarkan keterangan korban, saksi, serta sejumlah barang bukti, akhirnya polisi berhasil meringkus ketiganya. 

Sementara ada satu pelaku berinisial AN yang masih dicari.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Stefanus Tamuntuan menuturkan, modus para pelaku ini mendekati korbannya dan memiliki peran berbeda.

"Ada yang mengalihkan perhatian, ada yang mengambil barang korban, dan ada yang bertugasnya menjual barang hasil kejahatannya," ujar Stefanus ketika dikonfirmasi pada Selasa (23/10/2018).

Stefanus menuturkan, para pelaku ini kerap beraksi di atas dini hari di sejumlah wilayah seperti di Setiabudi, Kemang, dan wilayah lainnya.

Dari tangan pelaku, polisi mengamankan 30 unit Iphone hasil kejahatannya yang terdiri dari berbagai tipe.

"Dari tangan para pelaku, kami mengamankan 30 unit Iphone tipe 5S, Iphone 6, Iphone 7, Iphone 7+, dan juga tipe Iphone lainnya," ujar Stefanus.il

Berdasarkan keterangan para pelaku, uang hasi penjualan handphone curian tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Para pelaku, dikenakan pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan, dengan ancaman pidana penjara maksimal tujuh tahun penjara.

sumber : kompas.com

Rama Shinta - Panglima Kodam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI George E Supit telah memerintahkan jajaran Kodam XVII/Cenderawasih untuk mengejar Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata KKSB (TPNPB/OPM) yang berbasis di hutan pedalaman Papua.

Hal itu dilakukan menyusul gugurnya dua anggota TNI di Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, Minggu (19/8/2018), akibat ulah Kelompok KKSB, yang menyergap rombongan TNI ketika hendak melalukan aksi sosial kepada masyarakat.

"Secara umum situasi wilayah Papua tetap kondusif. Insiden tadi terjadi di wilayah yang cukup jauh dari pusat kegiatan masyarakat. Tidak terlalu berpengaruh terhadap aktivitas masyarakat Papua. Sangat disayangkan kelompok itu melakukan aksi di hari Minggu, hari yang kudus bagi masyarakat Papua yang sebagian besar umat Kriatiani," kata Mayjen TNI George E Supit melalui Wakapendam XVII/Cendrawasih Letkol Inf Dax Sianturi, malam tadi.

Dax menilai, apa yang dilakukan kelompok OPM tentunya tidak menghargai saudara-saudaranya sendiri.

"Jelas kelompok itu bukan representasi orang Papua," kata Dax membacakan pernyataan Pangdam.

Dax menegaskan, Kodam XVII/Cenderawasih mengecam tindakan teror yang dilakukan Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (TPNPB/OPM) yang bertujuan menimbulkan ketakutan masyarakat di wilayah Papua.

"Terlebih teror tersebut dilakukan terhadap personel TNI yang sedang melakukan pengamanan di wilayah Papua melalui pendekatan kemanusiaan kepada masyarakat Papua. Tindakan teror yang dilakukan TPNPB/OPM jelas merupakan tindakan makar terhadap pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia," tegasnya.

Dax Sianturi menambahkan, atas insiden ini, pihaknya tetap selalu mengedepankan upaya persuasif untuk mengajak anggota KKSB (TPNPB/OP) untuk meletakkan dan menyerahkan senjata kepada pihak keamanan dan menghindari terjadinya konflik senjata demi tercapainya kedamaian di tanah Papua.

"Kami mengajak seluruh masyarakat Papua dan bangsa Indonesia untuk bersatu melawan teror yang dilakukan Kelompok KKSB (TPNPB/OPM) demi tetap tegaknya kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujarnya.

Dax Sianturi menambahkan, apa yang dialami dua prajurit TNI ini tentu menjadi luka yang mendalam bagi mereka. Sebab, kedua korban dihadang ketika hendak melalukan aksi sosial, yakni membagikan makanan untuk anak-anak setempat, dalam rangka memperingati HUT ke-73 RI.

"Jadi ketika kejadian, anggota hendak memberi sumbangan bahan makanan kepada anak-anak usia sekolah yang berada di Kampung Tingginambut. Kegiatan ini sebagai bentuk rasa syukur para prajurit dalam memperingati HUT ke-73 RI. Selain itu, pemberian bahan makanan ini bertujuan untuk memotivasi anak-anak usia sekolah di Kampung Tingginambut agar semakin giat dalam menuntut ilmu," katanya.

Adapun kedua prajurit TNI yang gugur, yakni Komandan Pos Tingginambut Letda Inf Amran Blegur dan anggotanya, Pratu Fredi.

sumber : detik.com

Rama Shinta - Seorang pria diamankan polisi Kudus karena aksi penipuan bermodus membantu proses penerimaan mahasiswa Fakultas Kedokteran sebuah kampus di Semarang. Pelaku berinisial SM (62) mengantongi uang ratusan juta dari aksinya ini.

"Hasil penyelidikan, petugas berhasil menangkap pelaku di rumahnya kemarin sekitar pukul 19.00 WIB," kata Kasat Reskrim Polres Kudus AKP Agus Supriadi melalui pesan singkat kepada detikcom, Sabtu (13/10/201).

Agus mengatakan bahwa pelaku merupakan mantan dosen. 

"Iya betul (dosen). Tapi sepertinya sudah diberhentikan," ungkap Agus.

Agus menjelaskan modus yang dilakukan pelaku. Kepada korbannya, SM berjanji akan membantu agar anak korban bisa diterima di Fakultas Kedokteran sebuah kampus di Semarang.

"Syaratnya korban harus menyerahkan uang sebesar Rp 201 juta. Uang itu dibayar secara bertahap mulai dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2017," beber Agus.


Rupanya sampai 2017 berlalu, pelaku tak juga memenuhi janjinya. Korban pun kesal sehingga dia melaporkannya ke Polres Kudus. Dari dasar laporan korban, petugas Sat Reskrim Polres Kudus langsung melakukan penyelidikan.

Saat ini pelaku diamankan di Mapolres Kudus untuk menjalani proses penyidikan lebih lanjut. Pelaku dijerat dengan tindak pidana penipuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 378 KUHP.


Kepada polisi, lanjut Agus, pelaku mengaku telah beraksi sebanyak dua kali. Dengan nilai uang yang diminta ke korban lain juga sekitar 200 juta. Adapun uang yang diminta, kata dia, dimanfaatkan korban untuk memenuhi kebutuhan hidup.

"Cara pelaku cari calon korban dengan bujuk rayu dan iming bisa masuk jurusan dokter," ungkapnya.

sumber : tribunnews.com

Rama Shinta - Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polisi Daerah (Polda ) Kepri ekspos pengungkapan Narkotika jenis sabu yang sekaligus melakukan pemusnahan barang bukti.

Dalam pengungkapan kasus ini, Ditresnarkoba mengamankan dua orang tersangka atas nama inisial RB dan RM yang merupakan ABK kapal.

Ekspos dipimpin Kabag Wasidik Resnarkoba Polda Kepri, AKBP I Dewa Nyoman Agung Suryanegara, S.I.K mewakili Dir resnarkoba Polda Kepri K Yani Sudarto , SIK. 

Disebutkannya, pengungkapan ini pada Sabtu (1/9) lalu sekira pukul 16.10 WIB dilakukan penangkapan satu tersangka berinisial RB di parkiran depan kimia farma belakang pos polisi Simpang Kara.

"Tim opsnal Subdit 2 awalnya mendapat informasi dari masyarakat, terhadap tersangka yang menyimpan sabu di dalam mobil. Saat dilakukan penggeledahan ternyata benar ada Narkotika jenis sabu tersebut," katanya, Selasa (25/9/2018).

 

Melakukan pengembangan dari hasil pemeriksaan, sambung I Dewa mengatakan, dari pengakuan tersangka RB, ia bekerja bersama rekannya. Polisi pun langsung melalukan penangkapan tersangka kedua di lokasi berbeda yang berinisial MR.

"Dari tangan kedua tersangka didapat barang bukti Narkotika jenis sabu seberat 1.100 gram yang rencananya akan diedarkan di Batam," ujarnya.

Barang tersebut didapat tersangka dari Negara Malaysia. Melalui jalur laut. Dimana kedua tersangka tersebut bekerja sebagai ABK kapal Fery.

"Dari pengakuan kedua tersangka. Sudah melakukan ini sebanyak 5 kali. Melalui jalur laut dari Stulang laut Malaysia- Batam. Untuk upah bervariasi. Dari kisaran Rp 25 juta sampai Rp 30 juta," ucapnya.

Usai memaparkan hasil pengungkapan, ekspos ini pun dilanjutkan dengan pemusnahan barang bukti.
Saat Pemusnahan barang bukti dengan cara melarutkan dengan air panas. Kedua tersangka juga turut menyaksikan dan ikut mengaduk sabu senilai Rp 1 miliar yang dimasukkan ke dalam drum bahan plastik berwarna biru.

Dari 1.100 gram sabu yang dimusnahkan. Hanya sebanyak 1.064 gram saja. Sebab, sisanya untuk uji labfor, serta sebagai barang bukti persidangan.

Kedua tersangka dijerat pasal 114 ayat 2, 112 ayat 2 undang undang nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, yang ancaman penjara seumur hidup, atau hukuman mati.

"Atas pengungkapan ini. Dari barang bukti tersebut, kita berhasil menyelamatkan jutaan jiwa yang akan menjadi korban penyalahgunaan narkoba," tutupnya.

sumber : detik.com

Rama Shinta - Tim Subdit Resmob Polda Metro Jaya menangkap RH (33), pria yang mengaku-ngaku sebagai Sespri Kapolri Jenderal Tito Karnavian. RH menipu warga dan menjanjikan bantuan urusan bisnis dengan syarat pembayaran Rp 1 miliar.

"Tim telah melakukan pengungkapan dan penangkapan terhadap 1 (satu) orang pelaku tindak pidana penipuan dan atau penggelapan," kata Kasubdit Resmob Polda Metro Jaya, AKBP Aris Supriyono dalam keterangannya, Senin (24/9/2018).


Pelaku ditangkap berdasarkan laporan dari salah seorang korban berinisial ER dengan nomor: LP /4319/VIII/2018/PMJ/Ditreskrimum tertanggal 15 Agustus 2018. Polisi kemudian melakukan penyelidikan dan berhasil menangkap pelaku di kawasan Bojongsari, Depok.

Kanit I Subdit Resmob Polda Metro Kompol Malvino mengatakan modus RH adalah mengaku-ngaku dapat mempertemukan korban dengan para petinggi Polri. Dia meminta uang sebesar Rp 1 miliar agar janjinya tersebut bisa dilaksanakan.

"Karena merasa percaya korban memberikan cek secara bertahap dengan total Rp 1 miliar," ujar Malvino.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat dengan pasal penipuan dan/atau penggelapan sebagaimana Pasal 378 KUHP dan/atau 372 KUHP. Dari tangan pelaku, polisi menyita sejumlah barang bukti berupa dua unit ponsel, satu buah dompet, satu buah ATM, satu buah paspor, satu buah SIM C, dan laptop.

sumber : antaranews.com

Jajaran Polrestabes Bandung berhasil menangkap 48 pelaku kriminal yang sering beraksi di wilayahnya dalam rentang waktu satu bulan yakni pada Maret 2018.

Ke-48 pelaku yang ditangkap berasal dari berbagai modus kejahatan seperti pencurian kendaraan bermotor (Curanmor), pencurian dengan kekerasan (Curas), dan pencurian dengan pemberatan (Curat).

"Tak jarang korban Curas, meninggal dunia dan terluka parah akibat tasnya dirampas lalu terjatuh. Karena itu, kami akan menindak tegas pelaku curas yang telah meresahkan masyarakat," ujar Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Hendro Pandowo di Bandung, Kamis.

Hendro mengatakan, jajaran Polrestabes Bandung tidak akan segan-segan dalam menangkap dan menindak para pelaku yang meresahkan masyarakat.

Menurut Hendro, Kota Bandung merupakan kota tujuan wisata, sehingga sudah sewajibnya menciptakan rasa aman dan nyaman, baik untuk para wisatawan maupun masyarakat.

"Kami melakukan pengungkapan dan penangkapan pelaku tiga C yaitu Curas, Curat, dan Curanmor serta kejahatan lain demi menciptakan keamanan bagi masyarakat Kota Bandung dan pendatang," kata dia.

Ia merinci dari 48 pelaku kejahatan tersebut terdiri atas curat 13 kasus, curas 21, dan curanmor 14.Empat orang diantaranya terpaksa ditembak karena membahayakan nyawa petugas saat akan ditangkap.

Modus kejahatan para pelaku ini, kata Hendro, seperti memepet, melukai, dan merampas barang berharga milik korban. Ada juga pelaku yang menodongkan senjata tajam dan senjata api dalam aksinya.

"Pola kejahatan jalanan ini, bisa pagi, siang, dan malam. Namun paling rawan terjadi mulai pukul 00.00 WIB sampai pagi hari pukul 06.00 WIB," kata dia.

Dari hasil pengungkapan itu, polisi mengamankan barang bukti berupa tiga unit mobil, 13 unit sepeda motor, satu pucuk senjata airshoft gun, lima bilah golok, tiga bilah pisau, delapan kunci astag, tiga obeng, empat tas milik korban, dua kartu ATM,?11 unit handphone berbagai merek, tiga laptop, empat kamera, lima jam tangan, tiga unit TV, dan uang tunai Rp.4,1 juta.

sumber : TRIBUNNEWS.COM

 

Empat pelaku pencurian kendaraan bermotor diringkus anggota Polsek Batam KotaDari pengakuan mereka, motor hasil curian tersebut digunakan sendiri untuk pergi bermain di warnet. Tragisnya, dari empat pelaku, tiga di antaranya masih di bawah umur.

Keempat pelaku yang diamankan berinisial DEP (19), RR (14), PP (15) dan FA (13).

Kapolsek Batam Kota Kompol Arwin saat dikonfirmasi mengatakan, satu pelaku masih berusia 13 tahun. Kepada pelaku diberlakukan disersi dan tersangka tidak ditahan.

 

"Meskipun tiga orang masih di bawah umur, hanya satu yang kita disersi karena usianya masih 13 tahun," sebut Arwin, Senin (6/3/2017) siang.

 

Dari pengakuan DEP, ia mengintai sepeda motor yang tidak dikunci stangnya. Kemudian motor tersebut didorong kesuatu tempat yang aman.

 

"Setelah kami dorong, motor itu kami buka dan hidupkan kontaknya sendiri. Motor itu kami pakai saja ganti-gantian," kata DEP.

 

Mereka tidak pernah menjual motor hasil curiannya karena hanya dipakai untuk main-main di warnet. Jika ada teman yang ingin memakai, mereka meminjamkan begitu saja.

 

"Kalau ada yang mau pakai, pakai saja. Motor itu nggak pernah kami jual," terangnya lagi.

 

Para pelaku ditangkap di kawasan Simpang KDA Batam Centre. Mereka sudah mengakui perbuatannya.

 

"Awalnya mengaku mencuri sepeda. Setelah kita tanya lagi, ternyata mereka juga mencuri sepeda motor," lanjutnya.

Komplotan pelaku kejahatan ini bahkan sudah sering kali melakukan aksinya.

"Sudah tujuh kali, namun laporan yang masuk baru tiga saja," katanya.

Arwin mengimbau masyarakat, jika ada yang merasa kehilangan sepeda motor segera datang ke kantor polisi membawa STNK dan fotokopi BPKB.

Sebanyak lima nelayan asal Baubau, Sulawesi Tenggara yang ditangkap otoritas Australia, pernah menjual sirip ikan hiu di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Mereka beberapa kali menjual sirip ikan hiu di Kota Kupang selama bulan September 2017 kemarin, " kata Kepala Seksi Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi NTT Muhammad Saleh Goro. 

Pengakuan para nelayan itu lanjut Goro, disampaikan kepada petugas dari Konsulat RI di Darwin Jumat (13/10/2017).

Goro menyebutkan, sirip ikan hiu itu dijual ke pengumpul di Kupang, dengan harga per kilogramnya yakni Rp 700.000. "Selain sirip, para nelayan ini juga menjual daging ikan hiu dengan harga Rp 5.000 per kilogram," ujarnya.

Lima nelayan itu lanjut Goro, yakni La Karman (30) yang merupakan kapten kapal, La Hendri (23), La Sarwan (23), La Supriadin (23) dan La Ode Tahirman (37), masing-masing adalah anak buah kapal. 

Kapal ikan yang tertangkap petugas perairan Australia merupakan kapal ikan milik La Dando E, warga Kota Kupang, NTT.  "Informasi dari konsulat RI di Darwin bahwa lima orang nelayan Kapal Motor Hidup Bahagia yang ditangkap oleh pihak Australia, karena diduga melakukan ilegal fishing tersebut berasal dari Baubau, "kata Goro.

Saat ditangkap, ditemukan sebanyak 24 ekor ikan hiu yang sudah mati di dalam kapal. Menurut Goro, informasi tertangkapnya lima orang nelayan Indonesia itu, pertama kali diperoleh dari AFMA Australia.

Para nelayan ditangkap tanggal 8 Oktober 2017 di wilayah perairan Australia, dan selanjutnya dibawa ke Darwin dan tiba tanggal 10 Oktober 2017.  

Tentang Kami