Live Streaming
Monday, 05 November 2018 11:11

Rutin Olahraga tapi Masih Kena Penyakit Jantung, Ini Penyebabnya

sumber : klikdokter.com

Rama Shinta - Risiko individu terhadap penyakit jantung kerap dihubungkan dengan kurangnya aktivitas fisik atau olahraga. Meski demikian, sebagian individu yang rutin berolahraga pun tetap masih mungkin terkena penyakit jantung. Apa penyebabnya?

 

Olahraga dan penyakit jantung

Anda tentunya sudah sering mendengar bahwa olahraga memiliki banyak manfaat kesehatan. Aktivitas ini dapat membantu mencegah pengapuran tulang (osteoporosis), meningkatkan massa dan kekuatan otot, serta memperbaiki koordinasi dan keseimbangan. Selain itu, rutin berolahraga dapat menurunkan risiko berbagai penyakit yang terkait gaya hidup, salah satunya adalah penyakit jantung koroner.

 

Untuk orang-orang yang menderita penyakit jantung, rutin berolahraga dapat menurunkan risiko:

  • Kematian akibat penyakit jantung
  • Serangan jantung berulang
  • Kebutuhan prosedur seperti bypass jantung atau angioplasti untuk melancarkan aliran darah

Nah, sedangkan untuk Anda yang masih sehat, dengan rutin berolahraga Anda dapat menurunkan risiko mengalami penyakit jantung di kemudian hari.

Pada tahun 2013, sebuah studi menemukan bahwa aktivitas fisik dengan intensitas tinggi berhubungan dengan berkurangnya kejadian penyakit jantung koroner sebesar 21 persen pada pria dan 29 persen pada wanita. Melalui studi ini, dapat disimpulkan bahwa tingkat kebugaran yang lebih tinggi berkaitan dengan angka kematian dan komplikasi akibat penyakit jantung yang lebih rendah.

 

Faktor risiko lain penyakit jantung

Meski demikian, olahraga bukan satu-satunya “penawar” untuk mencegah seseorang terkena penyakit jantung. Ada peran dari faktor-faktor lainnya, seperti pola makan yang sehat dan kebiasaan-kebiasaan tertentu.

Jika melihat ke belakang, tak jarang Anda mendengar teman, saudara, figur publik, atau orang lain yang Anda kenal harus tutup usia akibat serangan jantung saat usianya masih relatif muda. Belum lagi yang bersangkutan juga dikenal rajin berolahraga dan tubuhnya tampak ideal dan atletis. Kok bisa, ya?

Secara medis, kondisi tersebut, ini memang bisa terjadi bila individu yang bersangkutan memiliki faktor risiko penyakit jantung koroner dalam keluarga. Bisa juga individu tersebut adalah seorang perokok berat yang juga cenderung kelebihan berat badan.

Serangan jantung juga lebih mungkin terjadi jika seseorang memiliki pola makan tidak sehat, seperti diet tinggi gula dan lemak jenuh, memiliki penyakit penyerta seperti atau tekanan darah tinggi, serta memiliki pekerjaan atau masalah pribadi yang menyebabkan stres tinggi. Kombinasi faktor-faktor ini pada akhirnya memudahkan terbentuknya plak di dalam pembuluh darah yang dapat menurunkan atau bahkan menyumbat aliran darah.

Plak-plak ini juga lebih mudah terbentuk pada mereka yang memiliki kelainan bawaan seperti dislipidemia herediter, dimana tubuhnya menghasilkan lebih banyak kolesterol dan timbunan lemak. Oleh karena itu, pada kasus-kasus seperti ini, olahraga rutin tidak banyak membantu. Justru sebaliknya, olahraga dapat mencetuskan serangan jantung.

Mengapa demikian? Sebab jantung “dipaksa” untuk bekerja lebih, sementara sel-sel jantung sendiri kurang mendapat oksigen dan nutrisi akibat adanya hambatan aliran darah tersebut.

 

Cegah serangan jantung dengan deteksi dini

Sesungguhnya, penyakit jantung pada mereka yang rutin berolahraga dapat menjadi silent killer karena keluhan kerap samar, atau akibat kurang waspada akan faktor risiko lain karena merasa sudah cukup dengan rutin berolahraga. Padahal, kondisi ini sangat bisa dicegah bila rutin melakukan deteksi dini atau pemeriksaan kesehatan berkala.

Dengan melakukan pemeriksaan kesehatan berkala, faktor risiko dapat dinilai sehingga gaya hidup dapat segera dimodifikasi dan diperbaiki. Selain itu, kelainan yang ditemukan sejak dini tentu lebih mudah diatasi sehingga kejadian serangan jantung dapat dihindari. Jenis olahraga juga nantinya disesuaikan dengan hasil temuan dokter agar tidak membebani jantung.

Jadi, meski telah rutin berolahraga, jangan dulu merasa semua baik-baik saja. Faktanya, ada beberapa kondisi atau faktor yang membuat Anda masih bisa terkena penyakit jantung. Sejak usia 35 tahun, sebaiknya lakukan deteksi dini atau pemeriksaan berkala setiap dua tahun. Apalagi bila ada riwayat penyakit jantung dalam keluarga.

Tentang Kami