Live Streaming
Page 1 of 3

sumber : kontan.co.id

Rama Shinta - Bagi banyak orang, kopi sudah menjadi menu harian yang tidak pernah dilewatkan bahkan saat sakit sekalipun. Namun pernahkan Anda bertanya, apakah efek minum kopi setelah kita minum obat?

Umumnya setelah ngopi kita akan merasa segar dan terjaga. Ini karena kandungan kafein dalam kopi yang merangsang kerja otak dan jantung.

 

Akan tetapi kafein dalam kopi juga dapat berinteraksi dengan beberapa jenis obat. Contohnya efedrin dan fenilpropanolamin, dua obat yang berfungsi mengatasi gejala flu dan hidung tersumbat.

Bila Anda minum kopi setelah minum obat ini, detak jantung akan meningkat drastis. Ini jelas sangat buruk dampaknya bagi jantung. Hal yang sama akan terjadi seperti pada obat asma, theophylline atau mirip dengan kafein, antidepressan dan obat antipsikotik, kelompok antibiotik kuinolon, dan pil KB.

Bahaya lainnya dari minum kopi setelah minum obat adalah bisa memicu keracunan karena kafein dapat bertahan lebih lama di dalam tubuh. Itu sebabnya kafein tidak bisa dikonsumsi setelah Anda meminum obat.

Di samping itu, khasiat obat akan lebih lama munculnya (bahkan akan kurang manjur) jika Anda minum kopi setelah minum obat karena kafein mengganggu proses penyerapan obat dalam lambung dan usus halus. Efek ini terjadi pada beberapa jenis obat, terutama golongan antidepresan, esterogen, serta obat-obat untuk gangguan tiroid dan osteoporosis.

Sebuah penelitian tahun 2008 menunjukkan, penyerapan levothyroxine yang berupakan salah satu obat gangguan tiroid berkurang 55% saat diminum bersama kopi. Demikian juga dengan alendronate, sejenis obat osteoporosis yang penyerapannya juga turun 60%.

Pada perempuan, kopi juga mempengaruhi keseimbangan hormon. Dalam beberapa penelitian, kadar esterogen dan hormon lain pada perempuan mengalami penurunan sesaat setelah minum kopi, sehingga penyerapan beberapa jenis obat bisa terganggu.

Jadi bila Anda ingin menikmati kopi Anda, tunggulah setidaknya 2 hingga 3 jam setelah minum obat. Tentu kopi akan terasa lebih nikmat karena tidak menimbulkan efek yang merugikan.

sumber : doktersehat.com

Rama Shinta – Menjaga kesehatan usus tidak hanya tentang mencegah datangnya gangguan pencernaan saja. Semakin sehat usus, semakin meningkat pula sistem kekebalan tubuh yang berimbas pada tubuh yang semakin sehat.

Tahukah anda jika sebagian besar masalah kesehatan yang muncul di saluran pencernaan disebabkan oleh kondisi usus? Karena alasan inilah pakar kesehatan menyarankan kita untuk menjaga kesehatan usus, khususnya dengan cara mengonsumsi makanan yang sehat setiap hari.

Salah satu waktu makan yang paling penting untuk menjaga kesehatan usus adalah sarapan pagi. Dengan mengonumsi makanan sehat, maka kita akan mencegah peradangan pada usus dengan lebih efektif karena kadar bakteri baik di dalamnya tetap terjaga. Menurut pakar kesehatan bernama Sarah Berndt dari Fit Fresh Cuisine, ada baiknya kita menerapkan pola makan dengan kadar gizi yang seimbang atau bahan alami yang mampu menyehatkan usus saat sarapan pagi.

“Nutrisi di dalam makanan yang kita konsumsi mempengaruhi jumlah bakteri di dalam usus. Sebenarnya, bakteri di dalam usus ini juga ikut makan makanan yang kita konsumsi dan kemudian aktif sehingga mempengaruhi kesehatan saluran pencernaan dan sistem kekebalan tubuh kita. Tak hanya membuat kita lebih sehat, kita pun akan memiliki energi dan suasana hati yang lebih baik. Selain itu, mikrobioma usus sepertinya mampu mengendalikan respons peradangan sehingga melindungi tubuh dari berbagai patgien berbahaya” ungkap Sarah.

Kebanyakan orang berpikir jika untuk mendapatkan manfaat ini, maka kita harus mengonsumsi suplemen probiotik. Memang, suplemen probiotik bisa membantu mikrobioma usus berada dalam kondisi yang sehat, namun, apa yang kita makan saat sarapan bisa memberikan efek lebih besar bagi kesehatan usus.

Karena alasan inilah Sarah menyarankan kita untuk mengonsumsi plain yoghurt atau greek yoghurt untuk dikonsumsi saat sarapan, Makanan ini rendah gula namun kaya akan kandungan menyehatkan. Jika kita menambahkan biji-bijian dan kacang-kacangan, maka hal ini akan semakin menambah jumlah bakteri baik yuang menyehatkan usus. Kita juga bisa mencampurnya dengan granola demi mendapatkan kandungan serat yang lebih tinggi. Dengan rutin mengonsumsinya saat sarapan, usus pun semakin sehat.

sumber : klikdokter.com

Rama Shinta - Risiko individu terhadap penyakit jantung kerap dihubungkan dengan kurangnya aktivitas fisik atau olahraga. Meski demikian, sebagian individu yang rutin berolahraga pun tetap masih mungkin terkena penyakit jantung. Apa penyebabnya?

 

Olahraga dan penyakit jantung

Anda tentunya sudah sering mendengar bahwa olahraga memiliki banyak manfaat kesehatan. Aktivitas ini dapat membantu mencegah pengapuran tulang (osteoporosis), meningkatkan massa dan kekuatan otot, serta memperbaiki koordinasi dan keseimbangan. Selain itu, rutin berolahraga dapat menurunkan risiko berbagai penyakit yang terkait gaya hidup, salah satunya adalah penyakit jantung koroner.

 

Untuk orang-orang yang menderita penyakit jantung, rutin berolahraga dapat menurunkan risiko:

  • Kematian akibat penyakit jantung
  • Serangan jantung berulang
  • Kebutuhan prosedur seperti bypass jantung atau angioplasti untuk melancarkan aliran darah

Nah, sedangkan untuk Anda yang masih sehat, dengan rutin berolahraga Anda dapat menurunkan risiko mengalami penyakit jantung di kemudian hari.

Pada tahun 2013, sebuah studi menemukan bahwa aktivitas fisik dengan intensitas tinggi berhubungan dengan berkurangnya kejadian penyakit jantung koroner sebesar 21 persen pada pria dan 29 persen pada wanita. Melalui studi ini, dapat disimpulkan bahwa tingkat kebugaran yang lebih tinggi berkaitan dengan angka kematian dan komplikasi akibat penyakit jantung yang lebih rendah.

 

Faktor risiko lain penyakit jantung

Meski demikian, olahraga bukan satu-satunya “penawar” untuk mencegah seseorang terkena penyakit jantung. Ada peran dari faktor-faktor lainnya, seperti pola makan yang sehat dan kebiasaan-kebiasaan tertentu.

Jika melihat ke belakang, tak jarang Anda mendengar teman, saudara, figur publik, atau orang lain yang Anda kenal harus tutup usia akibat serangan jantung saat usianya masih relatif muda. Belum lagi yang bersangkutan juga dikenal rajin berolahraga dan tubuhnya tampak ideal dan atletis. Kok bisa, ya?

Secara medis, kondisi tersebut, ini memang bisa terjadi bila individu yang bersangkutan memiliki faktor risiko penyakit jantung koroner dalam keluarga. Bisa juga individu tersebut adalah seorang perokok berat yang juga cenderung kelebihan berat badan.

Serangan jantung juga lebih mungkin terjadi jika seseorang memiliki pola makan tidak sehat, seperti diet tinggi gula dan lemak jenuh, memiliki penyakit penyerta seperti atau tekanan darah tinggi, serta memiliki pekerjaan atau masalah pribadi yang menyebabkan stres tinggi. Kombinasi faktor-faktor ini pada akhirnya memudahkan terbentuknya plak di dalam pembuluh darah yang dapat menurunkan atau bahkan menyumbat aliran darah.

Plak-plak ini juga lebih mudah terbentuk pada mereka yang memiliki kelainan bawaan seperti dislipidemia herediter, dimana tubuhnya menghasilkan lebih banyak kolesterol dan timbunan lemak. Oleh karena itu, pada kasus-kasus seperti ini, olahraga rutin tidak banyak membantu. Justru sebaliknya, olahraga dapat mencetuskan serangan jantung.

Mengapa demikian? Sebab jantung “dipaksa” untuk bekerja lebih, sementara sel-sel jantung sendiri kurang mendapat oksigen dan nutrisi akibat adanya hambatan aliran darah tersebut.

 

Cegah serangan jantung dengan deteksi dini

Sesungguhnya, penyakit jantung pada mereka yang rutin berolahraga dapat menjadi silent killer karena keluhan kerap samar, atau akibat kurang waspada akan faktor risiko lain karena merasa sudah cukup dengan rutin berolahraga. Padahal, kondisi ini sangat bisa dicegah bila rutin melakukan deteksi dini atau pemeriksaan kesehatan berkala.

Dengan melakukan pemeriksaan kesehatan berkala, faktor risiko dapat dinilai sehingga gaya hidup dapat segera dimodifikasi dan diperbaiki. Selain itu, kelainan yang ditemukan sejak dini tentu lebih mudah diatasi sehingga kejadian serangan jantung dapat dihindari. Jenis olahraga juga nantinya disesuaikan dengan hasil temuan dokter agar tidak membebani jantung.

Jadi, meski telah rutin berolahraga, jangan dulu merasa semua baik-baik saja. Faktanya, ada beberapa kondisi atau faktor yang membuat Anda masih bisa terkena penyakit jantung. Sejak usia 35 tahun, sebaiknya lakukan deteksi dini atau pemeriksaan berkala setiap dua tahun. Apalagi bila ada riwayat penyakit jantung dalam keluarga.

sumber : mediaindonesia.com

Rama Shinta - Kentang termasuk dalam kelompok makanan yang sebaiknya tidak dimasukan ke dalam kulkas. Ini karena suhu lemari es yang dingin dapat mengubah pati dalam kentang menjadi gula.

Dilansir dari Reader's Digest, para ahli dari American Cancer Society memaparkan bahwa kentang yang telah disimpan dalam kulkas, kemudian digoreng atau dipanggang pada suhu di atas 250º F, maka gula dalam kentang akan bergabung dengan asam amino asparagin dan menghasilkan zat kimia yang disebut acrylamide.

Acrylamide adalah bahan kimia yang digunakan untuk membuat kertas, pewarna, dan plastik, serta untuk mengobati air minum dan kotoran.

 Pnelitian pada tikus menunjukkan bahwa bahan kimia tersebut dapat meningkatkan risiko kanker pada subjek. Studi pada manusia belum menunjukkan bukti yang konsisten bahwa paparan acrylamide melalui makanan dapat meningkatkan risiko kanker, tetapi ada hasil yang beragam mengenai hubungan acrylamide dengan penyakit ginjal, endometrium, dan kanker ovarium.

Namun, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa tidak memasukkan kentang dalam lemari es dan mengurangi waktu memasak untuk menghindari kecoklatan dapat mengurangi kandungan acrylamide dalam kentang.

American Cancer Society menyarankan untuk menjauhkan kentang dari kulkas simpan di tempat yang sejuk dan kering, seperti lemari atau dapur, dan masak dalam waktu yang singkat.

sumber : klikdokter.com

Rama Shinta - Nyeri telinga menjadi keluhan yang sering dirasakan ketika naik pesawat. Keadaan ini biasanya terjadi saat pilot mulai mengumumkan bahwa pesawat mulai menurun dari ketinggian sebelumnya.

Dalam medis, nyeri telinga saat naik pesawat dikenal dengan sebutan barotrauma atau aerotitis. Keluhan ini dapat terjadi pada siapa saja, mulai dari anak hingga orang dewasa.

 

 

Kenali penyebab barotrauma

Telinga dibagi menjadi tiga bagian: luar, tengah dan dalam. Pada bagian tengah, terdapat ruangan berisi udara yang terhubung dengan hidung dan tenggorok melalui sebuah saluran yang disebut tuba eustachius. Pada kondisi normal, udara di dalam telinga tengah akan bergerak ke tuba eustachius untuk menyeimbangkan keadaan telinga tengah dengan tekanan udara sekitar.

Namun, proses tersebut akan mengalami hambatan ketika Anda berada di pesawat yang hendak mendarat. Sebab, penurunan ketinggian pesawat akan menyebabkan tekanan dalam kabin meningkat, dengan tekanan udara di telinga relatif lebih rendah. Hal ini mengakibatkan gendang telinga tertarik ke dalam dan meregang, sehingga tuba eustachiusakan gagal membuka. Pada akhirnya, Anda akan merasakan keluhan nyeri telinga.

Keadaan bisa semakin buruk jika di saat bersamaan Anda sedang mengalami infeksi telinga, batuk atau pilek. Ini karena kondisi tersebut membuat tuba eustachiusmembengkak, sehingga telinga bagian tengah akan lebih kesulitan untuk menyeimbangkan tekanan udara dengan di luar. Alhasil, nyeri telinga yang dirasakan bisa sangat parah.

 

Gejala dan komplikasi barotrauma

Selain nyeri telinga, beberapa keluhan lain yang bisa terjadi akibat barotrauma adalah:

  1. Telinga terasa penuh
  2. Penurunan fungsi pendengaran
  3. Pusing berputar
  4. Tinitus atau bunyi berdenging di dalam telinga
  5. Darah dari telinga

Pada beberapa kasus, tekanan udara yang tidak seimbang seperti ketika Anda naik pesawat, dapat menyebabkan tumpukan cairan di telinga tengah dan pecah pembuluh darah. Jika tekanan yang dihasilkan terlalu besar, risiko robeknya gendang telinga juga menjadi semakin tinggi.

 

Tips mencegah barotrauma

Barotrauma dapat dicegah. Berikut beberapa tindakan yang bisa Anda lakukan:

  1. Jika Anda sedang mengalami infeksi saluran napas atas atau infeksi telinga, sebaiknya hindari berpergian menggunakan pesawat. Bila sangat harus, konsultasikan diri Anda ke dokter terlebih dahulu. Tindakan ini dilakukan agar Anda bisa mendapatkan obat tetes hidung dengan kandungan dekongestan atau vasokonstriktor, yang dapat digunakan 30-60 menit sebelum lepas landas atau mendarat.
  2. Cobalah untuk melakukan gerakan mengunyah, menelan atau menguap saat pesawat hendak lepas landas atau mendarat.
  3. Jika Anda naik pesawat bersama bayi, susuilah si Kecil saat pesawat hendak lepas landas atau mendarat.
  4. Lakukan parasat valsava, yaitu dengan menutup hidung dan mengejan secara bersamaan. Namun hati-hati, tindakan ini tidak boleh dilakukan jika sedang batuk atau pilek.

 

Jangan biarkan nyeri telinga saat naik pesawat mengganggu kenyamanan perjalanan udara Anda. Lakukan tips di atas untuk mencegahnya, dan jangan ragu jika Anda ingin berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter sebelum memutuskan untuk terbang naik pesawat.

sumber : tribunnews.com

Rama Shinta - Minum segelas es teh manis di siang hari yang panas memang terasa menyegarkan.  Apalagi es teh manis kerap dijadikan pilihan minuman, apapun makanannya.

Namun, terlalu banyak minum es teh manis tidak baik. Ada efek samping yang mengganggu kesehatan.

Dikutip littlethings, sebuah laporan baru-baru ini menemukan, seorang laki-laki yang minum 16 gelas es teh setiap hari atau sekitar satu galon teh mulai mengalami efek samping kesehatan yang negatif.

Maka, pastikan untuk mengonsumsinya dalam jumlah yang tepat.

 

Berikut 5 bahaya terlalu banyak minum es teh manis :

 

1. Batu ginjal

Menurut CBS News, "Dokter melacak kegagalan ginjal pria Arkansas dengan penyebab yang tidak biasa, kebiasaannya meminum satu galon es teh setiap hari."

"Teh hitam memiliki zat kimia yang diketahui menyebabkan batu ginjal atau bahkan gagal ginjal dalam jumlah berlebihan."

 

2. Diabetes

Salah satu dari banyak kesalahan yang dilakukan orang yaitu mengganti minuman soda dengan es teh, dan kemudian menambahkannya dengan pemanis.

Jika dikonsumsi terlalu sering bisa mengakibatkan diabetes.

Healthguidance.org mengutip, "gula merupakan faktor utama, menghindari soda adalah langkah besar menuju kesehatan yang lebih baik secara keseluruhan, tetapi dampaknya bisa sama jika mengganti soda dengan minuman lain yang banyak gula."

Para ahli menyarankan, sebaiknya mempertimbangkan menggunakan pemanis alami sebagai gantinya.

 

3. Obesitas

Bagi Anda yang ingin menurunkan berat badan, es teh manis bisa jadi pilihan. Tetapi minum terlalu banyak, membuat badan lebih mudah gemuk.

Menurut Mydiet.com, "Merek es teh paling populer mengandung setidaknya 250 kalori per porsi dan mengandung lebih banyak gula daripada kebanyakan soda."

"Selain itu sering menikmati es teh manis juga dapat memengaruhi kebugaran dan penurunan berat badan."

 

4. Stroke

Tentu tidak ada orang yang ingin terkena penyakit stroke. Namun, Anda tidak dapat mengendalikan kemungkinan terkena penyakit ini atau tidak.

Menurut Livestrong.com, "Diet adalah salah satu faktor risiko yang dapat Anda kendalikan."

Menempatkan es teh manis sebagai salah satu makanan yang "meningkatkan asupan gula, yang menaikkan kadar trigliserida."

Ini dapat menempatkan Anda pada risiko stroke yang jauh lebih tinggi.

 

5. Penyakit kardiovaskular 

Sejumlah besar es teh mengandung kafein dalam jumlah besar, yang dapat memiliki efek negatif pada sistem kardiovaskular.

Dr. Suzanne Steinbaum mengatakan, "Semua teh hitam mengandung kafein, yang tidak bagus jika Anda memiliki tekanan darah tinggi atau detak jantung yang cepat, itu dapat memperburuk keadaan."

Dr. John Day menambahkan, " stimulan dapat memicu aritmia jantung pada beberapa pasien."

sumber : liputan6.com

Rama Shinta -  Mungkin Anda kerap mengonsumsi madu untuk menjaga kesehatan. Cairan yang dihasilkan oleh lebah ini terbukti memiliki khasiat antibiotik, antiviral, dan antiinflamasi.

Dilansir step to health, Rabu (21/2/2018), madu ternyata memiliki beranekaragam fungsi untuk tubuh. Jika dicampurkan dengan bahan lain menjadi ramuan, madu akan membawa lima manfaat berikut ini:

 

 

1. Ramuan madu untuk menguatkan sistem kekebalan tubuh

Bukan rahasia lagi bahwa madu dapat membantu Anda memulihkan fisik usai sakit. Khasiat antibiotik dan antiviral pada madu dapat membentuk kembali pertahanan tubuh.

Ramuan ini terbuat dari campuran setengah cangkir madu dan air perasan lemon. 

 

2. Ramuan madu untuk pencernaan

Jika Anda mengalami masalah dalam pencernaan, madu dan jahe dapat menjadi solusi menjawab permasalahan tersebut. Kedua bahan herbal tersebut merupakan bahan yang baik untuk pencernaan dan bersifat antiinflamasi.

Untuk mengonsumsinya, Anda merebus jahe yang sudah diparut dan kemudian menambahkannya dengan madu. Ramuan madu ini bisa diminum dua kali sehari.

 

 

3. Ramuan madu untuk sakit kepala

Sifat analgesik yang terdapat pada madu dapat membuat sakit kepala yang Anda alami dapat teratasi. Selain itu, cengkeh yang dicampurkan dalam ramuan madu ini dapat meningkatkan sirkulasi dan mengurangi peradangan.

Untuk mengonsumsi ramuan ini, Anda tidak dapat langsung meminumnya. Anda akan membutuhkan waktu selama 24 hingga 48 jam untuk memproses ramuan tersebut. Anda dapat meminumnya saat merasakan sakit kepala atau sakit otot.

 

4. Ramuan madu untuk detoksifikasi tubuh

Madu mengandung enzim alami dan antioksidan yang dapat membasmi racun yang menumpuk dalam darah. Senyawa tersebut pun mengoptimalkan fungsi organ ekskretoris dan mengurangi risiko kerusakan sel.

Ramuan ini terbuat dari campuran madu dan cuka sari apel. Anda dapat meminumnya saat perut kosong selama 2 minggu berturut-turut setiap harinya.

 

 

5. Ramuan madu untuk kram menstruasi

Bagi Anda para wanita, jika mengalami kram saat menstruasi, konsumsilah ramuan madu ini. Sifat antiinflamasi dan efek menenangkan yang terdapat pada madu, jika dikombinasikan dengan antispasmodik pada kayu manis, dapat meredakan rasa sakit saat menstruasi.

Ramuan infus madu dan kayu manis ini dapat anda nikmati selama dua atau tiga hari sebelum jadwal menstruasi tiba. Dengan meminum ramuan ini, Anda sudah melakukan bentuk pencegahan terhadap kram menstruasi.

sumber : liputan6.com

Rama Shinta - Apakah benar gula adalah musuh bagi kesehatan? Banyak orang mempertanyakan hal ini karena masih awamnya pengertian tentang apa dan bagaimana gula seharusnya dikonsumsi.

Menurut WHO, gula adalalah salah satu sumber pangan yang penting bagi tubuh, tapi juga berbahaya jika dikonsumsi dalam jumlah berlebih. Lalu, gula seperti apa yang baik untuk dikonsumsi?

Dikutip NBC News pada Senin (30/4/2018), dari semua jenis gula memiliki kadar kebaikannya masing-masing. Gula alami misalnya, terdiri dari fruktosa dan laktosa yang dapat ditemuikan pada buah dan sayuran.

Menariknya, selain gula, buah dan sayuran juga mengandung vitamin, mineral, dan serat yang akan berpadu baik dalam memberikan kondisi metabolisme tubuh yang prima.

Namun, untuk beberapa buah dan sayuran tinggi gula, seperti contoh jeruk dan bawang merah, dapat memicu naiknya asam lambung yang berujung pada nyeri lambung jika dikonsumsi secara berlebihan.

 

Sementara itu, gula buatan, seperti gula rafinasi dan pemanis makanan, jelas sangat berbahaya bagi tubuh apabila dikonsumsi melebihi takaran. Selain memicu diabetes, kelebihan konsumsi gula juga berisiko sebabkan serangan jantung dan stroke.

WHO merekomendasikan konsumsi gula kurang dari 10 persen asupan energi harian. Lebih baik lagi jika konsumsi gula buatan kurang dari 5 persen, di mana berarti turut memperkecil risiko diabetes.

Baik gula asli maupun buatan, tetap memiliki standar konsumsi yang disarankan oleh banyak lembaga kesehatan dunia. WHO dan FDA misalnya, menyarankan tambahan gula maksimum yang berbeda antara pria dan wanita.

Disebutkan bahwa pria idealnya mendapat tambahan gula maksimal sebesar 36 gram per hari, sedangkan wanita mendapat gula sebanyak 24 gram per hari.

Sekadar informasi bahwa rata-rata konsumsi gula di dunia adalah 88 gram per orang setiap harinya.

 

 

Air Gula Lebih Berkhasiat dari Minuman Energi

 

 

Sementara itu, menurut studi terbaru dari kelompok riset asal Inggris, menyeduh gula dalam air cukup untuk mengurangi rasa lelah setelah kegiatan olahraga.

Dikutip Science Alert, periset dari University of Bath menguji efek pada minuman yang mengandung glukosa dan sukrosa pada atlet sepeda balap jarak jauh. Pengujian ini bertujuan membandingkan seberapa ampuh kedua jenis minuman dalam menghindari penurunan kadar karbohidrat dalam level glycogen dalam liver.

"Karbohidrat yang tersimpan dalam lever penting dalam olahraga daya tahan, zat ini membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil," ungkap pemimpin riset Javier Gonzalez.

"Bagaimanapun, walau kita memiliki pengertian yang cukup baik dalam mengerti perubahan karbohidrat yang disimpan dalam otot dengan olahraga dan gizi, kita tak banyak mengetahui mengenai pengoptimalan karbohidrat yang disimpan dalam liver selama dan sesudah berolahraga," ujarnya.

Baik sukrosa atau glukosa merupakan zat yang selama ini kita kenal dengan nama "gula" dan selalu dilibatkan dalam membuat kue, atau menyajikan teh dan kopi. Zat ini cepat diserap tubuh untuk menghasilkan energi.

Bagaimanapun, mengenai molekulnya, kedua zat itu berbeda. Glukosa maupun fruktosa merupakan monosaccharide. Ketika keduanya digabungkan, terbentuklah sukrosa, yang diklasifikasikan sebagai disaccharide.

Banyak minuman energi menggunakan sukrosa, beberapa menggunakan campuran glukosa dan fruktosa, beberapa hanya menggunakan glukosa. Pada lidah manusia, keduanya memilki rasa yang sama, tetapi ketika sudah dicerna tubuh, perbedaannya jadi lebih kentara.

Struktur molekul pada kedua jenis gula memengaruhi cepat lambatnya zat diproses, sukrosa lebih cepat diserap. Artinya, minuman energi yang hanya mengandung glukosa bisa mengakibatkan gangguan pada perut.

sumber : liputan6.com

Rama Shinta - Terlihat sehat belum tentu memiliki efek baik bagi tubuh. Itulah kalimat yang tepat untuk sejumlah aktivitas yang selalu dianggap menyehatkan raga.

Ada sejumlah aturan yang ditekankan oleh banyak orang. Jika ingin makan maka tangan harus dibersihkan. Apabila sedang sakit maka harus minum obat.

 

Atau, jika ingin tubuh tercukupi asupannya maka diminta untuk mengonsumsi makanan sehat. Tapi rupanya, apa yang selama ini dianggap sehat belum tentu demikian.

Aktifitas yang dianggap sehat namun justru berdampak buruk bagi tubuh justru bisa membuat Anda sakit atau bahkan meninggal.

Seperti dikutip dari laman Listverse.com, Jumat (28/9/2018), berikut 4 hal yang dianggap sehatnamun ternyata punya efek bahaya bagi tubuh:

 

 

 

1. Hand Sanitizer

Selama ini kita menganggap bahwa Hand Sanitizer atau cairan pembersih adalah hal yang selalu baik untuk menjaga kedua telapak tangan bersih dari kuman.

Rupanya, kebiasaan yang dianggap menyehatkan ini tak melulu baik. Hand Sanitizer terbuat dari zat kimia. Salah satu zat yang digunakan adalah alkohol.

Setelah membersihkan tangan dengan Hand Sanitizer, maka zat kimia ini akan menempel di tangan. Kita kerap lupa bahwa makanan yang dikonsumsi dan dipegang dengan tangan bisa terkontaminasi zat kimia itu dan masuk ke dalam tubuh.

 

2. Antibiotik

Sejumlah orang kerap minum antibiotik saat sakit demam sedikit, tujuannya tentu agar lekas sembuh. Penyakit yang diderita pun tak semakin parah.

Tapi tahukah Anda jika kebiasaan yang dianggap sehat itu justru membahayakan?

Ternyata, terlalu sering menggunakan antibiotik dapat menciptakan bakteri resisten.

Pada wanita, efek lain yang disebabkan akibat terlalu banyak minum antibiotik bisa menggagalkan program penundaan kehamilan. Pil KB yang dikonsumsi tak berdampak semestinya karena kalah dengan efek antibiotik.

 

3. Makan Ikan

Ajakan untuk mengonsumsi makanan sehat terus digaungkan. Alasannya, asupan yang baik dipercaya membuat aktivitas sehari-hari lancar tanpa dihantui oleh penyakit.

Salah satu makanan yang sehat adalah ikan, sebab memiliki kandungan yang baik bagi tubuh. Namun, sebelum itu harus dipastikan bahwa makanan yang mengandung protein itu bebas dari kandungan merkuri.

Tanpa kita sadari, pembuangan limbah beracun ke laut bisa memengaruhi ikan yang kita makan. Merkuri sangat berbahaya bagitu tubuh dan bisa menyebabkan kematian.

 

4. Gluten Free

Satu lagi makanan yang sedang naik daun adalah gluten free -- sebuah sebutan untuk makanan sehat yang bebas kandungan protein gluten. Bisa itu kue, menu sarapan atau makan siang.

Banyak yang meyakini bahwa bebas gluten berarti sehat. Padahal, sejumlah makanan yang dianggap gluten free itu tetap dibuat dengan menggunakan gula dan mentega. Hanya saja jumlah kalorinya yang kosong.

sumber : aktual.com

Rama Shinta – Durasi tidur yang berlebihan ternyata sama buruknya dengan waktu tidur yang kurang untuk fungsi kognitif seseorang, menurut sebuah studi.

Para peneliti dari Western University’s Brain and Mind Institute di Kanada menemukan, kebanyakan tidur berdampak buruk untuk sejumlah fungsi kognitif seperti kemampuan mengidentifikasi hal-hal kompleks dan menyelesaikan masalah.

Sementara orang-orang mendapatkan waktu tidur cukup yakni sekitar 7-8 jam berhubungan dengan fungsi kognitif yang lebih baik.

“Kami menemukan bahwa orang-orang terlalu banyak tidur merasakan dampak buruk yang sama dengan mereka yang kurang tidur. Jumlah optimum durasi tidur untuk menjaga performa otak adalah 7-8 jam setiap malam,” kata Conor Wild, ketua studi.

Untuk sampai pada hasil ini, para peneliti mengumpulkan data dari 40 ribu partisipan sejak Juni 2017.  Temuan awal peneliti yang menganalisis 10 ribu orang sudah dipublikasikan dalam jurnal SLEEP.

Demi mendapatkan pemahaman yang lebih detil, mereka menggali data lebih dalam dari partisipan.

“Kami menggunakan kuesioner yang cukup luas, dan mereka memberi tahu kami hal-hal seperti obat yang partisipan gunakan, berapa usia mereka, di mana mereka berada di dunia, dan jenis pendidikan yang mereka terima karena ini adalah semua faktor yang mungkin telah berkontribusi untuk beberapa hasil,” kata Adrian Owen, salah satu peneliti.

Dia mengatakan, cara ini memberi para ilmuwan kesempatan untuk menguji berbagai teori dan mendapatkan pemahaman tentang bagaimana kuantitas tidur dapat mempengaruhi orang.

Para partisipan juga menjalani 12 tes kognitif yang sudah terbukti sehingga jumlah tidur dapat dikaitkan dengan kemampuan mental. Demikian seperti dilansir Medical News Today.

Page 1 of 3

Tentang Kami