Live Streaming
Monday, 22 October 2018 12:03

Rock versus Dangdut Era 70an: Dari Adu Musik Sampai Adu Fisik

Written by 
Rate this item
(0 votes)

sumber : cnnindonesia.com

Rama Shinta - Genre musik rock dan dangdut dapat dikatakan sebagai salah dua genre paling populer di Indonesia. Regenerasi dua genre tersebut tak pernah putus dari masa ke masa, setidaknya selalu ada setiap dekade.

Zaman dulu ada Koes Plus, Giant Step, God Bless, Edane dan Netral yang mengusung musik rock. Dilanjutkan dengan kemunculan Kelompok Penerbang Roket, Rollfast dan Zat Kimia.

Kemudian di kubu sebelah, ada Ellya Khadam, Rhoma Irama, Elvy Sukaesih dan Ikke Nurjanah yang mengusung musik dangdut. Nama Dian Sastra, Inul Daratista, Ayu Tingting dan Via Vallen muncul sebagai generasi lanjutan. 

Siapa sangka, dua genre itu memiliki sejarah kelam. Tepatnya pada tahun 1970an, tahun di mana musisi rock dan dangdut berkonflik. Kisah itu diceritakan oleh Rhoma saat diskusi dalam Archipelago Festival di kawasan Kemang, Jakarta, akhir pekan lalu (13/10).

"Ini memang dulu seru. Ini sampai adu fisik," kata Rhoma.

Konflik antara musik rock dengan dangdut, kata Rhoma, berawal saat gitaris Giant Step, Benny Soebardja, mengatakan dangdut sebagai musik 'musik tai anjing' yang kemudian dimuat dalam majalah Aktuil. Kala itu, dangdut sedang di puncak popularitas.

Sebagai pedangdut, musisi asal Tasikmalaya ini tidak senang mendengarkan pernyataan Benny. Rhoma pun membalas dengan mengatakan, musik rock adalah 'terompet setan'.

"Sejak itu, rame pada adu fisik antara penggemar musik dangdut dengan penggemar musik rock," kata Rhoma.

Baik penggemar musik dangdut atau rock tak segan untuk menyakiti musisi yang tampil. Rhoma sendiri sempat menerima kekerasan dari penggemar musik rock. Kala itu ia sedang syuting film di Tegalega, Bandung, yang merupakan salah satu markas penggemar Giant Step.

Kedatangan Rhoma disambut oleh hujan batu yang dilakukan penggemar musik rock. Sempat berlindung beberapa saat, akhirnya Rhoma memberanikan diri untuk keluar. Ia berkata, "Lempar terus sampai puas," dan tak lama, lemparan batu itu berhenti.

"Itu terjadi di mana-mana. Ada juga yang panggung dangdut dikencingin oleh penggemar musik rock, penggemar musik dangdut membalas dengan setrum," kata Rhoma.

Musisi berusia 71 tahun ini melanjutkan, "Bahkan di Banyuwangi saya adu fisik. Untung bisa silat sedikit."

Rhoma bercerita saat itu tampil bersama bandnya, Soneta, di salah satu stadion di Banyuwangi. Di tempat duduk penonton yang dekat dengan panggung, terlihat banyak perempuan yang sedang duduk dan berlindung dari hujan batu yang dilemparkan dari luar stadion.

Rhoma yang sudah terbiasa dengan hujan batu, tetap melanjutkan penampilan. Namun seketika ia berhenti ketika melihat salah satu penonton perempuan terkena lemparan batu sehingga kepalanya berdarah.

"Saya lepas gitar dan keluar, saya lihat ada yang lagi lempar batu. Saya tarik, ribut keroyokan. Itu seru, kaya gitu dulu," kata pria yang dijuluki Raja Dangdut ini sambil tersenyum.

Seiring berjalannya waktu, rock dan dangdut akur pada tahun 1987 sampai 1988. Rhoma mengatakan dua genre itu berdamai lewat pertemuan yang digagas oleh Pemimpin Pemuda Pancasila, Yapto Soerjosoemarno.

"Mas Yapto membuat satu pertemuan rock dan dangdut, God Bless dan Soneta hadir. Kami melepas merpati bersama, alhamdulillah sejak itu sampai saat ini enggak ada lagi [keributan antar-genre]," kata Rhoma.

Read 27 times

Tentang Kami