Live Streaming
Tuesday, 02 October 2018 16:09

AS-China Batalkan Pertemuan Keamanan Kedua Negara

Written by 

sumber : cnnindonesia.com

Rama Shinta - China menyatakan telah membatalkan pertemuan keamanan dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Jim Mattis di Beijing. Hal ini diungkap oleh sumber diplomatik The Straits Times yang tak disebutkan namanya.

Namun dilansir dari CNN, justru Menteri Pertahanan AS, James Mattis-lah yang menarik pertemuan keamanan dengan China.

Mattis awalnya berencana untuk mengunjungi ibu kota China untuk membahas masalah keamanan. Namun pembatalan dilakukan di menit terakhir belum dikonfirmasi secara resmi oleh Pentagon.

Pembatalan pertemuan ini menunjukkan tingginya ketegangan antara Beijing dan Washington. Hubungan kedua negara ini memanas setelah masalah perang dagang, masalah Taiwan, perdagangan senjata, dan persoalan Laut China Selatan.

Beijing membatalkan pembicaraan perdagangan yang direncanakan dengan Washington tanpa meninggalkan akhir bagi perang dagang yang sedang berlangsung.

"Bagaimana kamu bisa bernegosiasi dengan seseorang ketika dia meletakkan pisau di lehermu?" kata Wakil juru bicara perdagangan Cina, Wang Shouwen mengatakan pada konferensi pers.

Matt Pottinger, seorang pejabat Senior Dewan Keamanan Nasional urusan Asia mengatakan bahwa pada saat perayaan hari nasional, Kedutaan Besar China di Washington bermaksud untuk bersaing dengan bahasa China.

"Bagi kami di AS, persaingan bukan soal huruf," kata Pottinger yang berurusan dengan China di Dewan Keamanan Nasional.

Wakil Presiden AS, Mike Pence akan menyampaikan pidato utama nya pada minggu ini yang menggambarkan pandangan negatif pemerintah terhadap China selama beberapa tahun terakhir termasuk upaya untuk mempengaruhi politik domestik AS.



AS dan China Saling Tuduh

AS-China Batalkan Pertemuan Keamanan Kedua NegaraPresiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping saat lakukan pertemuan bilateral pada 2017 lalu (REUTERS/Carlos Barria)

 

Administrasi Trump menjatuhkan sanksi pada perusahaan militer China karena membeli senjata dari Rusia dan mengumumkan penjualan sebesar US $ 330 juta (setara dengan Rp4 trilliun) dalam peralatan militer ke Taiwan. 

Kementrian Luar Negeri memberikan isyarat bahwa penjualan senjata ke Taiwan mengancam kerusakan parah hubungan China dengan AS, termasuk kerusakan kerja sama bilateral dalam bidang utama.

Sanksi AS diberlakukan pada Departemen Pengembangan Peralatan militer China dan memprovokasi respon keras dari pemerintah China.

Wu Qian, Juru Bicara Kementerian Pertahanan China, mengatakan bahwa mereka telah menyatakan kemarahan dan pertentangan keras kepada Pentagon.

Presiden Donald Trump juga menuduh Beijing ikut campur dalam pemilihannya dengan membeli iklan yang besar di sebuah surat kabar Iowa.

"Mereka tidak ingin saya atau kami menang karena saya adalah presiden pertama yang pernah menantang Tiongkok dalam perdagangan," kata dia.

"Kami menang dalam perdagangan. Kami menang di setiap level. Dan kami tidak ingin mereka ikut campur dalam pemilihan mendatang kami," kata dia menambahkan.

China juga marah dengan pengumuman Kementrian Pertahanan bahwa pesawat B-52 terbang di atas Laut China Timur dan Laut China Selatan yang diklaim merupakan miliknya.

Laut China Selatan merupakan salah satu wilayah yang paling disengketakan di dunia. Pemerintah China mengklaim bahwa wilayah itu sudah diperkuat dengan adanya pulau-pulau buatan militernya.

Pada Minggu (30/9), kapal perang AS terlihat berlayar di pulau-pulau yang disengketakan di Laut China Selatan.

Dua pejabat AS mengatakan bahwa kapal pengancur rudal USS Decatur sedang melakukan operasi navigasi bebas dan berlayar dalam jarak 12 mil laut karang Gaven dan Johnson di Kepulauan Spratly.

Iowa merupakan negara yang didominasi para petani kedelai. Penjualan kedelai merosot ketika China beralih ke Amerika Latin untuk membeli kedela dalam jumlah besar yang biasanya dibeli di Iowa.

Duta besar AS, Terry Branstad yang merupakan mantan gubernur Iowa menulis bahwa Trump berusaha untuk menyamakan kedudukan antara perusahaan-perusahaan AS dan pesaing China dengan mengenakan tarif.

"Sayangnya, China menanggapi tindakan tersebut dengan mengambil langkah lebih lanjut untuk merugikan pekerja Amerika, petani, dan pebisnis melalui tindakan balasan. Dan sekarang menjalankan iklan propaganda di media kita sendiri," kata dia

Read 13 times

Tentang Kami