Live Streaming
Monday, 30 September 2019 09:39

BI Targetkan Pertumbuhan Ekonomi Endonesia tumbuh 5,1-5,4%

Kuta - Bank Indonesia (BI) menargetkan ekonomi Indonesia tahun ini tumbuh di kisaran 5,1-5,4%. Namun, di tengah perlambatan ekonomi global, pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai kurang kuat.

"Dengan adanya situasi dan kondisi global ini, pertumbuhan Indonesia turut terpengaruh global yang kurang menguntungkan. Pertumbuhan ekonomi kita melandai, masih ada prospek naik tapi tidak begitu kuat. Masih bagus, tapi nggak strong," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko di The Anvaya Beach Resort, Bali, sabtu(28/9/2019).

Menurut Onny, untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi seperti yang ditargetkan masih perlu kerja keras. Pasalnya, faktor pendongkrak pertumbuhan ekonominya juga tak terlalu kuat.

"Untuk mencapai target antara 5,1-5,4% itu faktor-faktor untuk mencapai target itu masih terbatas. Misal konsumsi masih di 5% dan investasi menurun. Faktor-faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi itu tidak kuat," terang Onny.

Selain itu investasi asing,menurut Onny tumbuh melambat atau menurun. Pertumbuhan investasi di triwulan II-2019 diperkirakan belum kuat, khususnya investasi non bangunan.

Onny juga menilai kinerja ekspor belum membaik karena permintaan global dan harga komoditas menurun.

Untuk itu, ia menyarankan agar pemerintah mencari upaya baru penggerak ekonomi, salah satunya melalui sektor pariwisata.

Ia membeberkan, rata-rata belanja wisata masyarakat Indonesia per tahun mencapai Rp 19,5 triliun dengan pertumbuhan sebesar 5,08 %. Angka tersebut menunjukkan bahwa potensi sektor pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional cukup besar.

Sementara itu mengenai melambatnya pertumbuhan ekonomi dan volume perdagangan global akibat perang dagang Amerika Serikat (AS)-China dan Brexit nampaknya memberi sedikit keuntungan bagi negara berkembang, seperti Indonesia.

 Onny Widjanarko mengatakan modal asing yang ada di negara-negara maju malah akan 'kabur' ke negara berkembang. Hal tersebut ia prediksi dengan adanya ketidakstabilan di negara-negara maju yang terdampak dua fenomena ekonomi global tersebut.

Onny mencontohkan, di Amerika Serikat (AS) ada indeks economy policy yang menunjukkan ketidakpastian sehingga likuiditas global yang tertanam di AS 'bersiap-siap kabur' ke negara berkembang jika terjadi suatu gejolak ekonomi.

Read 61 times

Tentang Kami