Live Streaming
Tuesday, 13 November 2018 20:41

Batam Kekurangan Air pada Tahun 2040 atau 2045, BP Batam akan Tarik Air dari Lingga

sumber : tribunnews.com

Rama Shinta - Kebutuhan air di Batam ke depan akan meningkat signifikan, seiring dengan pengembangan Batam. Hingga 2045 mendatang, diproyeksikan kebutuhan air di Batam sekitar 7.081 liter per detik.

Hal ini disampaikan Kepala Kantor Pengelolaan Air dan Limbah Badan Pengusahaan (BP) Batam, Binsar Tambunan, saat kegiatan Focus Group Discussion Air Terjun Jelutung Lingga, solusi atas permasalahan air bersih di Pulau Batam.

"Konsumsi air saat ini konsesi dengan PT ATB (Adhya Tirta Batam) per hari itu kebutuhannya 170 sampai 180 liter per orang per hari. Asumsi ini di 2045 akan meningkat sebesar 200 sampai 300 liter per orang per hari," kata Binsar di ruang Marketing Centre Batam'>BP Batam, Senin (12/11/2018).

Ia melanjutkan saat ini ketersediaan air yang ada sebesar 3.800 liter per detik. Untuk kebutuhan di Batam, Rempang dan Galang yang menjadi satu kesatuan wilayah, lanjutnya, setiap pulau mesti memenuhi kebutuhan air di daerahnya masing-masing. Di Batam sendiri ada enam waduk.

"Kebutuhan air kita ke depan lebih besar," ujarnya.

Deputi IV BP Batam, Eko Budi Soepriyanto mengatakan, dengan ketersediaan air yang ada saat ini, Batam akan kekurangan air pada 2040 atau 2045 mendatang.

Karena itu selain mencari sumber-sumber air yang baru, termasuk juga dengan mengoperasikan instalasi pengolahan limbah di Bengkong, skenario yang dilakukan, diantaranya, yakni memanfaatkan air terjun Busung di Bintan dan air terjun Jelutung di Lingga.

 

"Tahun 2017 kita (BP Batam) sudah pernah melakukan MoU antara Batam'>BP Batam dan Lingga'>Kabupaten Lingga terkait kerjasama pemanfaatan air di Lingga untuk masyarakat Batam. Kita sudah lakukan FGD pertama, dan ini FGD kedua lebih fokus terkait teknisnya," kata Eko.

Ia berharap kerjasama tersebut bisa segera terealisasi. Adapun panjang pipa bawah laut untuk menarik air dari Lingga ke Batamini, diperkirakan sepanjang 100 km.

Jika kerjasama itu terealisasi, setidaknya butuh waktu 5 tahun untuk pemasangan pipa bawah laut tersebut. Lebih lanjut, Eko mengatakan, untuk pembangunan dan lain sebagainya bukan menjadi kewenangan Batam'>BP Batam.

"BP Batam sebagai institusi yang menerima hasil. Samalah seperti pembangunan bendungan sebelumnya, pembangunan dilakukan pemerintah. Setelah selesai baru pengelolaannya diberikan ke Batam'>BP Batam untuk dikerjasamakan dengan ATB," ujarnya.

Terkait kajian untuk kerjasama pemanfaatan air terjun Jelutung itu, sepenuhnya menjadi ranah Balai Wilayah Sungai (BWS).

Sementara itu di tempat yang sama, Bupati Lingga, Alias Wello mengatakan, potensi pemanfaatan air di Lingga terbilang besar, dan ini juga bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan terhadap air di daerah lainnya di Kepri.

"Sumber air baku di Pulau Lingga ada delapan. Di Singkep ada lima. Jadi untuk air tak ada masalah," kata Alias.

Untuk satu sumber air baku saja seperti air terjun Jelutung di Pulau Lingga, debit air pada musim kering 4.000 liter per detik. Belum lagi di musim hujan sebesar 6.000 liter per detik.

Itupun dengan debit air yang ada saat ini, masih banyak yang terbuang ke laut. Di sisi lain, Alias mengakui, pengadaan infrastruktur di daerahnya untuk pemanfaatan air tersebut masih kurang.

Jika mengandalkan Anggaran Pendapatan Asli Daerah (APBD) Lingga'>Kabupaten Lingga, sangat terbatas.

"Untuk infrastruktur memang berat. Makanya kami tawarkan ini (kerjasama pemanfaatan air) dengan kemampuan kami yang terbatas untuk jadi program besar," ujarnya.

Ia berharap lewat kerjasama itu, bisa memberikan kontribusi besar bagi pemasukan di masing-masing daerah. Untuk realisasinya, Alias mengharapkan bantuan anggaran dari pusat.

"Pemerintah harus hadir untuk proyek besar ini. Karena Batamidentik kota industri, penduduknya semakin banyak, begitu juga dengan hotel-hotel," kata Alias. 

Read 51 times

Tentang Kami